Overview
Taman Purbakala Sumpang Bita di Pangkep menjadi bukti penting jejak peradaban manusia prasejarah di Sulawesi Selatan.
Kawasan ini menyimpan gua prasejarah, lukisan dinding purbakala, serta temuan arkeologis peninggalan budaya Toalen.
Selain bernilai sejarah, Sumpang Bita kini berkembang sebagai destinasi wisata edukasi di kawasan TN Bantimurung–Bulusaraung.
SulawesiPos.com – Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, tak hanya dikenal dengan pesona alam karst dan lautnya, tetapi juga menyimpan jejak peradaban manusia purba yang bernilai tinggi.
Salah satu situs bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang manusia di Sulawesi Selatan adalah Taman Purbakala Sumpang Bita yang terletak di Kampung Sumpang Bita, Kelurahan Balocci, Kecamatan Balocci.
Kawasan yang kerap disebut pula sebagai Taman Prasejarah Sumpang Bita ini berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Makassar, dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam perjalanan darat.
Akses menuju lokasi tergolong mudah, sehingga menjadikannya destinasi favorit bagi wisatawan, peneliti, hingga pelajar yang ingin mengenal sejarah prasejarah Sulawesi lebih dekat.
Taman Purbakala Sumpang Bita berada dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung–Bulusaraung (TN Babul), kawasan konservasi yang membentang di tiga kabupaten, yakni Maros, Pangkep, dan Bone.
Keberadaannya di kawasan taman nasional menjadikan situs ini tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga ekologis.
Secara geografis, taman purbakala ini berada di ketinggian sekitar 280 meter di atas permukaan laut, dengan luas kawasan kurang lebih 2 hektare.
Lanskapnya didominasi oleh perpaduan tanah datar dan gugusan gunung kapur khas bentang alam karst Sulawesi Selatan.
Di dalam kompleks taman, pengunjung dapat menjumpai dua gua utama yang menjadi pusat perhatian, yakni Gua Sumpang Bita dan Gua Bulu Sumi.
Kedua gua ini menyimpan berbagai temuan arkeologis penting yang menunjukkan aktivitas manusia purba ribuan tahun silam.
Sejumlah peninggalan yang ditemukan di kawasan ini antara lain lukisan dinding gua, cangkang mollusca, fragmen gerabah polos dan berhias, serta fragmen tulang dan gigi manusia.
Temuan-temuan tersebut menjadi bukti kuat bahwa wilayah Balocci telah dihuni dan dimanfaatkan oleh manusia prasejarah sebagai ruang hidup, tempat berlindung, sekaligus pusat aktivitas sosial dan budaya.
Salah satu daya tarik utama Taman Purbakala Sumpang Bita adalah keberadaan lukisan dinding purbakala dengan pola yang unik dan penuh simbol.
Dilansir dari Kemendikdasmen, Gua Bulu Sumi memiliki tinggalan prasejarah yang terdiri atas alat-alat batu yang berupa serpih (flake), bilah (blade), mata panah yang bergerigi (Maros point), serta alat-alat dari tulang dan kerang.
Alat-alat itu dikenal sebagai alat berburu dan pengumpul makanan di tingkat lanjut.
Sementara itu, di Gua Sumpang Bita, banyak sekali lukisan dinding dengan berbagai variasi.
Lukisan itu dipercaya erat hubungannya dengan kehidupan dan alam kepercayaan manusia pendukungnya.
Alat-alat batu, tulang dan kerang, serta lukisan dinding itu adalah milik nenek moyang suku Bangsa Toala atau bisa juga disebut dengan kebudayaaan Toalen (Toalen Culture).
Kini, Taman Purbakala Sumpang Bita berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Pangkep.
Tidak hanya diminati wisatawan lokal, situs ini juga menarik perhatian wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara, khususnya yang tertarik pada arkeologi dan sejarah prasejarah.
Selain menawarkan pengalaman wisata alam dan sejarah, kawasan ini juga berperan sebagai ruang edukasi terbuka.
Banyak kegiatan penelitian, kunjungan akademik, hingga wisata edukatif yang dilakukan di lokasi ini, menjadikannya penting dalam upaya pelestarian warisan budaya Sulawesi Selatan.
Taman Purbakala Sumpang Bita buka setiap hari mulai pukul 08.00 Wita hingga 17.00 Wita.
Harga tiket masuk terbilang ramah di kantong, yakni Rp 5.000 per orang, dengan biaya parkir kendaraan sebesar Rp 5.000.
Dengan kekayaan sejarah, keindahan alam karst, serta nilai edukasi yang tinggi, Taman Purbakala Balocci layak menjadi destinasi wajib bagi siapa pun yang ingin menelusuri jejak awal peradaban manusia di Sulawesi Selatan.