Categories: Travel

Makam Sultan Hasanuddin, Jejak Sejarah Raja Gowa dan Simbol Perlawanan di Bukit Tamalate

Overview

  • Kompleks Makam Sultan Hasanuddin di Bukit Tamalate, Gowa, menjadi saksi sejarah raja-raja Kerajaan Gowa dari masa pra-Islam hingga era Islam.
  • Di kawasan seluas 2.352 meter persegi ini terdapat 24 makam raja dan bangsawan dengan ragam bentuk jirat yang masih terjaga utuh.
  • Selain sebagai tempat ziarah, Makam Sultan Hasanuddin kini berfungsi sebagai destinasi wisata sejarah dan ruang edukasi budaya Sulawesi Selatan.

SulawesiPos.com – Makam Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin merupakan salah satu situs sejarah terpenting di Sulawesi Selatan.

Kompleks pemakaman ini terletak di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, tepatnya di puncak Bukit Tamalate.

Dengan luas sekitar 2.352 meter persegi, kawasan ini bukan hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir Sultan Hasanuddin, tetapi juga menyimpan jejak panjang sejarah Kerajaan Gowa.

Kompleks Makam Sultan Hasanuddin mencakup 24 situs pemakaman raja dan bangsawan Gowa yang hidup pada masa sebelum dan sesudah Islam masuk ke Sulawesi Selatan.

Keunikan kompleks ini terlihat dari orientasi makam-makam awal yang menghadap timur–barat, sebuah penanda kuat tradisi pra-Islam.

Salah satu contohnya adalah makam Raja Gowa ke-11, I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatta, yang diangkat menjadi raja pada tahun 1565.

Sejarah Pemugaran dan Perubahan Orientasi Makam

Seiring perkembangan pemahaman sejarah dan nilai religius, pada tahun 1952 dilakukan pemugaran terhadap dua makam tertua di kompleks ini.

Orientasi makam yang semula timur–barat diubah menjadi utara–selatan.

Pada masa pemugaran tersebut juga ditambahkan cungkup berbentuk kubah pada makam Raja Gowa ke-11, menjadikannya salah satu elemen arsitektur yang menonjol di kompleks ini.

Perubahan ini tidak menghilangkan nilai historis makam, justru memperlihatkan proses transisi budaya dan keagamaan yang pernah dialami Kerajaan Gowa sebagai salah satu kerajaan besar di Nusantara.

Raja dan Bangsawan yang Dimakamkan

Kompleks Pemakaman Sultan Hasanuddin menjadi tempat peristirahatan sejumlah tokoh penting Kerajaan Gowa dan Tallo (sumber situs smart city Kabupaten Gow), di antaranya:

  1. I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatta, Raja Gowa ke-11 (wafat 1565).
  2. Arung Lamoncong, bangsawan Kerajaan Bone, dimakamkan di depan makam Raja Gowa ke-11.
  3. Karaeng I Mallingkari Daeng Manjori Karaeng Katangka Sultan Abdullah Awalul Islam Tumenanga Riagamana, Raja Tallo (wafat 1 Oktober 1636).
  4. I Mangngarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14 (wafat 15 Juni 1639).
  5. I Mannuntungi Daeng Mattola Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15 (wafat 5 November 1653).
  6. I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-16 dan Pahlawan Nasional (wafat 12 Juni 1670).
  7. I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah, Raja Gowa ke-17 (wafat 7 Mei 1674).
  8. I Mappaosang Daeng Mangngewai Sultan Muhammad Ali, Raja Gowa ke-18 (wafat 15 Maret 1681).
  9. Sombangta Imappadulung Daeng Mattimung Sultan Abdul Jalil, Raja Gowa ke-19 (wafat 18 September 1711).
  10. I Mallingkai Daeng Manjori Sultan Abdullah Awalul Islam, Raja Gowa ke-33 dan Raja Tallo ke-6, yang juga dikenal berjasa membawa jenazah I Tajibarani dari Bone ke Gowa (wafat 13 Mei 1895).

Ragam Bentuk Jirat Makam

Keunikan lain dari kompleks ini terletak pada variasi bentuk jirat makam yang seluruhnya masih terjaga keutuhannya. Terdapat lima tipe utama jirat makam, yaitu:

  1. Jirat cungkup kubah, berjumlah satu buah, berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 626 cm, lebar 600 cm, tinggi 450 cm, dan ketebalan 60 cm.
  2. Jirat cungkup punde berundak, berbentuk susunan bertingkat menyerupai punde berundak.
  3. Jirat teras berundak, terdiri dari satu hingga dua teras yang semakin mengecil ke atas.
  4. Jirat peti batu, berupa balok batu andesit dengan nisan pipih, silindrik, atau berbentuk balok.
  5. Jirat batu alam atau gundukan tanah, menyerupai gunung kecil.

Nilai Edukasi dan Wisata Sejarah

Kini, Makam Sultan Hasanuddin tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga destinasi wisata sejarah dan edukasi.

Situs ini sering dikunjungi pelajar, peneliti, hingga wisatawan yang ingin memahami lebih dekat sejarah Kerajaan Gowa, proses islamisasi, serta perlawanan Sultan Hasanuddin terhadap kolonialisme Belanda.

Keberadaan kompleks makam di puncak Bukit Tamalate sekaligus menawarkan panorama alam yang khas, menjadikannya ruang refleksi antara sejarah, budaya, dan alam, sebuah pengingat bahwa identitas Sulawesi Selatan dibangun dari perjuangan panjang para leluhurnya.

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: wisata sejarah sulsel Kerajaan Gowa Makam Sultan Hasanuddin Sultan Hasanuddin