SulawesiPos.com — Warga BTN Asabri 1, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), harus membeli air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah sumur bor mengering. Di tengah kondisi tersebut, warga mengaku belum pernah menerima distribusi bantuan air bersih dan harus merogoh kocek hingga Rp 600 ribu per bulan.
Ali (50), salah seorang warga, mengatakan kondisi kekeringan sumur bor telah berlangsung sekitar satu bulan.
Selama itu, ia mengandalkan air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan air di rumah.
“Sudah 1 bulan beli air galon untuk semua kebutuhan,” kata Ali.
Dalam sehari, Ali mengaku membutuhkan empat galon air isi ulang dengan harga Rp 5.000 per galon.
Dengan demikian, pengeluaran untuk membeli air mencapai Rp 20 ribu per hari atau sekitar Rp 600 ribu selama 30 hari.
“Sumur bor (juga) sudah kekeringan,” ungkapnya.
Ali mengatakan warga di kompleks BTN Asabri 1 harus membeli air secara mandiri karena sumur bor yang biasa digunakan telah mengering.
Menurutnya, bantuan distribusi air bersih belum pernah masuk ke kawasan tempat tinggalnya.
Sumber Air Lekopancing Mengering, 9.000 Pelanggan Terdampak
Kesulitan air bersih di Maros terjadi di tengah mengeringnya sumber air Lekopancing, salah satu sumber andalan PDAM Tirta Bantimurung Maros.
Sumber air tersebut dilaporkan mengering sejak 26 Agustus 2026, dengan Bendung Lekopancing yang kini hanya menyisakan sedikit genangan air.
Kabag Teknik PDAM Tirta Bantimurung Maros, Abdul Rajab, mengatakan kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar 9.000 pelanggan.
“Wilayah pelayanan IPA Pattontongan mulai Pattontongan keluar ke Batangase sampai ke perbatasan Maros-Makassar,” katanya, Minggu, 30 Agustus 2026.
Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, PDAM melakukan pengalihan pasokan dari instalasi lain.
Air juga didistribusikan menggunakan mobil tangki yang mengambil pasokan dari IPA Turikale.
Direktur PDAM Tirta Bantimurung Maros, Muh Shalahuddin, sebelumnya menjamin mengeringnya sumber air Lekopancing tidak akan menghentikan pelayanan air bersih kepada masyarakat.
“Kalau ada wilayah yang debitnya berkurang, kami suplai menggunakan mobil tangki dan tandon,” ujarnya.
Namun, Ali mengaku warga BTN Asabri 1 belum pernah menerima distribusi air bersih.
Kondisi ini perlu dikonfirmasi kepada PDAM Tirta Bantimurung Maros untuk memastikan apakah kompleks tersebut termasuk wilayah terdampak dan mengetahui upaya pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga setempat.