Asap karhutla Papua Selatan memengaruhi kualitas udara Sulawesi Selatan, termasuk di Makassar (Dok. Ammang/SPos)
SulawesiPos.com – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Papua Selatan terbawa angin hingga Sulawesi Selatan (Sulsel), memicu penurunan kualitas udara di sejumlah daerah.
Kabupaten Maros mencatat kualitas udara terburuk dengan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) PM2,5 mencapai 207 pada Rabu (14/10/2026), masuk kategori sangat tidak sehat.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sulsel, Syamsul Bahri, menjelaskan pergerakan angin timuran membawa asap dari Papua Selatan hingga ke wilayah Sulsel.
Kondisi tersebut memicu munculnya haze atau kabut asap yang terlihat di sejumlah daerah, termasuk Maros dan Makassar.
“Kebakaran di Papua Selatan itu memengaruhi kualitas udara di Sulsel. Khususnya di Maros kemarin dan Makassar, kita bisa lihat ada seperti kabut. Kabut yang terlihat itu merupakan haze atau kabut asap,” ungkap Syamsul.
Berikut daftar daerah di Sulsel berdasarkan data AQI PM2,5 tersebut:
Sementara itu, Syamsul mengingatkan kualitas udara di Sulsel masih berpotensi memburuk selama sumber asap belum teratasi.
Kondisi atmosfer dan arah angin menjadi faktor yang memengaruhi penyebaran partikel polutan ke wilayah ini.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan dampak paparan asap, terutama jika berlangsung dalam waktu lama.
Risiko gangguan kesehatan dipengaruhi konsentrasi polutan, durasi paparan, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.
“Kita tidak tahu kalau mungkin sudah berminggu-minggu, itu yang sangat berbahaya,” tegas Syamsul.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel halus.
Anak-anak, lanjut usia, dan orang dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan terhadap dampak polusi udara.
Berikut kategori indeks kualitas udara PM2,5 menurut BMKG: