Akhirman menyiapkan strategi Pelindo Regional 4 untuk mendorong pertumbuhan bisnis, efisiensi operasional, dan transformasi layanan pelabuhan.
SulawesiPos.com — Dr. Akhirman, S.H., M.H. diembankan amanah sebagai Executive Director 4 PT Pelabuhan Indonesia (Persero). Dia menyiapkan sejumlah agenda strategis dengan membidik pertumbuhan bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendorong transformasi layanan pelabuhan di kawasan timur Indonesia.
Akhirman menilai, Regional 4 memiliki potensi besar untuk menjadi mesin pertumbuhan bisnis Pelindo.
Pasalnya, wilayah operasionalnya mencakup hampir setengah wilayah Indonesia, tetapi pertumbuhan bisnisnya dinilai belum seagresif kawasan barat karena belum ditopang oleh aktivitas industri yang memadai.
“Langkah saya tetap yang pertama adalah bisnis growth, pertumbuhan bisnis. Bisnis yang sustainable. Jadi kita melihat kondisi Regional 4 kalau dari sisi wilayah hampir setengahnya wilayah Indonesia, tapi dari sisi pertumbuhan bisnis belum seagresif dengan wilayah Barat karena memang belum didukung oleh industri,” ujar Akhirman saat ditemui SulawesiPos.com, Senin (12/10/2026).
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Pelindo Regional 4 akan memetakan pangsa pasar yang tersedia di wilayah operasionalnya.
Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang bisnis baru sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan terhadap sektor logistik dan perekonomian kawasan timur Indonesia.
“Makanya kemudian yang pertama harus kita lakukan adalah bagaimana melihat dulu market share yang ada di Regional 4 untuk kemudian dijadikan sebagai mesin pertumbuhan dari sisi korporasi,” sebutnya.
Selain pertumbuhan bisnis, Akhirman menempatkan keunggulan operasional atau operational excellence sebagai prioritas berikutnya.
Menurutnya, pengelolaan korporasi harus berlandaskan efisiensi, produktivitas, dan keandalan layanan, termasuk melalui evaluasi kegiatan bongkar muat serta transformasi proses operasional.
“Yang kedua adalah tentunya operational excellence, bahwa basis kita untuk melakukan pengelolaan korporasi ini kan berbasis efisien, produktif, dan reliable. Nah, bagaimana kemudian nanti kita melakukan transformasi terhadap kegiatan operasional kita, mulai dari misalnya kegiatan bongkar muat, kita harus melakukan asesmen dan sebagainya,” jelas Akhirman.
Dia berharap seluruh kapasitas dan fasilitas yang dimiliki Pelindo Regional 4 dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna jasa.
Kesiapan operasional tersebut menjadi penting agar pelayanan kepada pelanggan dapat berjalan secara maksimal.
“Jadi diharapkan nanti seluruh kapasitas yang dimiliki oleh Pelindo khususnya di Regional 4 itu ready untuk memberikan pelayanan terhadap semua customer kami,” tutur Akhirman.
Akhirman juga menegaskan pentingnya pendekatan customer centricity atau orientasi pada pelanggan, yakni menempatkan pelanggan sebagai pusat pelayanan.
Dia ingin memastikan pengguna jasa memperoleh pelayanan yang baik selama menjalankan aktivitas kepelabuhanan di seluruh wilayah Regional 4.
Selain pelayanan pelanggan, penguatan sumber daya manusia (SDM) dan budaya perusahaan menjadi agenda penting.
“Yang keempat adalah people and culture. Saya selalu meyakini bahwa dalam konteks kita mengelola sebuah korporasi, peran people ini sangat penting, terkait dengan SDM yang kompeten yang harus dibangun, engaged dan berintegritas itu harus kita bangun, dan yang paling penting yaitu pasca-merger adalah bagaimana kita mewujudkan visi One Pelindo,” ungkapnya.
Dia mengakui, penyatuan budaya kerja dari berbagai wilayah operasional masih menjadi tantangan setelah lima tahun merger.
Karena itu, kolaborasi antarsumber daya manusia perlu diperkuat untuk mewujudkan visi One Pelindo.
“Culture SDM atau people kita pasca-merger ini kan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Nah, ini harus kita coba kolaborasi, kita coba satukan bagaimana kemudian mewujudkan visi One Pelindo tersebut,” sebutnya.
Di sisi lain, Akhirman menekankan pentingnya tata kelola perusahaan dan mitigasi risiko atau governance and risks.
Menurutnya, setiap keputusan bisnis harus diambil secara cepat dan tepat, tetapi tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, kepatuhan, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG).
Aspek keselamatan dan kesehatan kerja juga menjadi perhatian utama dalam agenda kepemimpinan Akhirman.
Dia menegaskan, transformasi Health, Safety, Security, and Environment (HSEE) akan didorong di seluruh wilayah operasional Pelindo Regional 4, termasuk anak perusahaan, cabang, dan terminal.
“Kita akan melakukan transformasi HSEE di seluruh wilayah Regional 4 dan juga memastikan bahwa kebijakan terkait dengan HSEE ini betul-betul terimplementasi di seluruh wilayah Regional 4, baik itu di anak usaha, di cabang-cabang, dan di terminal-terminal. Kita akan menjaga program terkait dengan implementasi HSEE ini,” ujarnya.
Di balik potensi pengembangan bisnis, Akhirman mengakui Pelindo Regional 4 masih menghadapi sejumlah tantangan struktural.
Salah satunya adalah ketidakseimbangan arus barang atau imbalance cargo, yakni perbedaan antara volume barang yang masuk dan barang yang dikirim dari wilayah timur Indonesia.
“Jadi, ada ketidakseimbangan antara cargo yang masuk dengan cargo yang akan dimuat. Karena di timur ini memang masih sangat kurang industri,” katanya.
Pelindo Regional 4 mencakup 11 provinsi yang ada di Sulawesi, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Maluku, dan Papua.
Oleh karena itu membutuhkan koordinasi dan kolaborasi yang kuat untuk memastikan strategi perusahaan berjalan selaras.
“Itu akan menjadi challenge juga bagi kita untuk bagaimana kemudian kita bisa mengelaborasi proses mewujudkan visi One Pelindo,” pungkas Akhirman.