Suasana Anjungan Pantai Losari Makassar yang diselimuti kabut polusi, Sabtu (11/10/2026). Kualitas udara di Makassar dan Sulsel memburuk dengan kadar PM2.5 mencapai 85,3 µg/m³, warga diimbau waspada ISPA dan gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. dok/ilustrasi
SulawesiPos.com – Kualitas udara Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan memburuk pada Jumat sampai Minggu (11/10/2026), dengan konsentrasi PM2.5 di Stasiun Klimatologi BMKG Maros mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori tidak sehat.
BMKG dan BPBD mengimbau warga memakai masker serta mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, sementara Dinas Kesehatan mewaspadai risiko ISPA.
Data tersebut diperbarui pada pukul 10.45 Wita.
Pengukuran dilakukan di Maros sehingga tidak otomatis menggambarkan kualitas udara di seluruh wilayah Kota Makassar, tetapi BPBD Makassar menyebut data itu rel evan untuk menjadi perhatian warga Makassar dan sekitarnya.
Kepala BPBD Makassar M Fadli Tahar mengatakan konsentrasi PM2.5 tertinggi yang tercatat dalam dokumen pemantauan mencapai 112,7 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00 Wita.
“Berdasarkan dokumen resmi BMKG yang diperbarui pukul 10.45 Wita, hasil pemantauan PM2.5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, menunjukkan konsentrasi sebesar 85,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dengan kategori tidak sehat,” kata Fadli.
“Data ini menjadi perhatian bagi masyarakat Makassar dan sekitarnya, mengingat partikel halus PM2.5 dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama pada kelompok rentan,” lanjutnya.
Kepala Meteorologi BMKG Sulsel Rizky Yudha Pahlawan mengatakan kondisi udara kabur terpantau di Makassar, Parepare, dan wilayah sekitarnya.
“Ya, betul pantauan visual hari ini di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar, Kota Parepare dan sekitarnya melaporkan udara dalam keadaan kabur,” kata Rizky, Jumat (9/10/2026).
BMKG meminta masyarakat mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan menggunakan masker, terutama ketika harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang memburuk.
“Kami imbau untuk masyarakat di wilayah Sulawesi Selatan untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, memakai masker,” ujar Rizky.
BPBD Makassar merekomendasikan penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 bagi warga yang harus beraktivitas di luar.
Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan riwayat asma, penyakit paru, atau gangguan jantung diminta membatasi paparan polusi.
Warga juga diminta menutup jendela ketika asap berada di luar rumah, menghindari olahraga berat di ruang terbuka, dan tidak melakukan pembakaran sampah.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Parepare Muhammad Idris mengatakan asap dapat memengaruhi kesehatan saluran pernapasan.
Ia meminta warga tetap waspada meski kondisi kabut asap di Parepare disebut belum terlalu tinggi.
“Asap pasti, pasti ada efek yang kita khawatirkan, terutama sekali terkait dengan penyakit ISPA,” ujar Idris.
Dinkes Parepare sebelumnya mencatat 2.457 kasus ISPA dari laporan delapan puskesmas pada periode minggu ke-28 hingga minggu ke-31 2026.
Angka itu mencakup data hingga Agustus dan tidak dapat langsung disimpulkan seluruhnya disebabkan kabut asap atau musim kemarau.
Idris menegaskan hubungan langsung antara kemarau, kualitas udara, dan kenaikan kasus ISPA masih memerlukan analisis yang lebih komprehensif.
Karena itu, angka tersebut dipakai sebagai konteks kewaspadaan kesehatan, bukan sebagai bukti tunggal penyebab memburuknya udara.
Prakirawan BBMKG Wilayah IV Makassar Asriani Idrus sebelumnya menyebut kualitas udara Makassar dan sekitarnya dapat dipengaruhi kiriman asap kebakaran hutan dan lahan dari Kalimantan, Papua, atau Maluku, bergantung pada arah angin.
Namun, BPBD Makassar mengingatkan sumber asap yang memengaruhi kondisi pada 9-11 Oktober tetap harus mengacu pada analisis resmi instansi berwenang.
Kondisi udara juga dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan sumber pencemar.