Ratusan sepeda tua dari 11 kabupaten di Sulselbar memeriahkan Karnaval Sepeda Tua Festival Gau Maraja 2026 di Watampone, Bone
SulawesiPos.com – Suara roda berputar perlahan. Sepeda-sepeda tua dengan bentuk klasik mulai memenuhi sudut-sudut Watampone. Di tengah hiruk-pikuk kota, pemandangan itu seperti menarik ingatan kembali ke masa ketika sepeda menjadi bagian penting dari perjalanan sehari-hari.
Sabtu (26/9/2026), Bumi Arung Palakka seolah membuka kembali lembaran masa lalu. Ratusan sepeda tua berdatangan dari berbagai daerah untuk mengikuti Karnaval Sepeda Tua dalam rangkaian Festival Gau Maraja 2026.
Ada sepeda dengan rangka besi yang kokoh, ada yang masih mempertahankan bentuk klasiknya, lengkap dengan aksesori yang membawa nuansa zaman dahulu. Para pemiliknya datang bukan sekadar membawa kendaraan, tetapi juga membawa cerita dan kenangan tentang sebuah zaman.
Sejak Jumat malam (25/9/2026), para peserta mulai berdatangan ke Watampone. Mereka datang dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan hingga Majene, Sulawesi Barat.
Di antara rombongan tersebut, ada kisah perjalanan yang membuat karnaval ini terasa semakin istimewa.
Sekitar 30 anggota Komunitas Sepeda Tua Makassar (Kostum) memilih menempuh perjalanan dari Makassar ke Bone dengan mengayuh sepeda tua mereka.
Bayangkan, puluhan sepeda tua bergerak meninggalkan Makassar, menempuh perjalanan panjang menuju Bumi Arung Palakka. Setiap kayuhan seolah membawa mereka semakin dekat dengan sebuah pertemuan besar yang mempertemukan masa lalu dan masa kini.
Rombongan tersebut sebelumnya dilepas langsung oleh Kepala Balai Kebudayaan Provinsi di Benteng Rotterdam, Makassar.
“Yang paling seru dan menarik, ada sekitar 30 sepeda tua yang gowes dari Makassar ke Bumi Arung Palakka, yaitu Komunitas Sepeda Tua Makassar (Kostum),” kata Korlap Karnaval Gau Maraja, Akmal Kimal, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Akmal, komunitas sepeda tua yang hadir berasal dari sekitar 11 kabupaten di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
“Mulai tanggal 25 malam para komunitas sepeda tua sudah berdatangan di Bumi Arung Palakka. Insyaallah karnaval sepeda tua ini akan dihadiri 11 kabupaten se-Sulselbar,” ujarnya.
Kehadiran sepeda-sepeda tua itu membuat suasana Watampone terasa berbeda.
Bagi sebagian orang, melihat sepeda tua bukan sekadar menyaksikan kendaraan lama. Ada kenangan tentang masa ketika jalan-jalan belum dipenuhi kendaraan bermotor, ketika sepeda menjadi teman perjalanan, dan ketika sebuah kayuhan sederhana mampu membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lainnya.
Di tengah Festival Gau Maraja, suasana itu kembali terasa. Sepeda tua menjadi semacam mesin waktu. Ia membawa cerita masa lalu ke tengah kehidupan masyarakat hari ini.
Akmal yang juga merupakan pendiri Komunitas Bone Sepeda Tua (Bonesta) mengatakan, puncak Karnaval Sepeda Tua akan berlangsung pada Minggu, 27 September 2026 pagi.
“Karnaval ini tidak sekadar menghadirkan deretan sepeda tua, tetapi juga mempertemukan para komunitas dari berbagai daerah dalam suasana kebersamaan di Bumi Arung Palakka,” katanya.
Puncak karnaval tersebut menjadi salah satu agenda dalam Festival Gau Maraja 2026, yang berlangsung 25–30 September 2026.
Mengusung tema “Simfoni Lumbung: Merayakan Budaya & Pangan”, Gau Maraja menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan yang menghidupkan kembali kekayaan sejarah dan budaya Bone.
Dan di antara gemerlap festival itu, ratusan sepeda tua akan kembali mengayuh di jalanan Watampone.
Bukan untuk sekadar bernostalgia.
Tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik cepatnya zaman bergerak, selalu ada masa lalu yang layak dikenang—dan sesekali, kembali dihidupkan melalui suara roda yang menggelinding pelan di jalanan. (kar)