Categories: Sulsel

Sawah Pinrang Kekeringan, Pemprov Sulsel Salurkan Pompa hingga Usulkan Rehabilitasi Irigasi Rp1,8 T

SulawesiPos.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) menyalurkan bantuan pompa dan alat mesin pertanian (alsintan) untuk membantu petani di Kabupaten Pinrang yang menghadapi kekeringan. Bantuan tersebut menjadi langkah sementara untuk menjaga pasokan air ke sawah sembari pemerintah mengusulkan rehabilitasi besar sistem irigasi Sungai Saddang.

Sebanyak 10 unit Pompa Ponton senilai Rp313,7 juta diserahkan untuk membantu menyelamatkan tanaman padi petani.

Pemprov Sulsel juga menyerahkan 1 unit traktor roda 4, 1 unit traktor roda 2, 10 unit pompa Alcon 3 inch, 10 unit pompa Alcon 6 inch, serta 9 unit sumur bor.

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengatakan bantuan pompanisasi dan alsintan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga ketersediaan air sekaligus mendukung produktivitas pertanian masyarakat.

“Ini adalah usaha kita bersama. Kita memberikan bantuan pompanisasi dan alat alsintan, termasuk kita akan menyiapkan pompa lebih besar lagi,” ujarnya.

Namun, persoalan kekeringan di Pinrang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pompa.

Aliran primer Sungai Saddang yang menjadi sumber pengairan sawah petani di Desa Massewae, Kecamatan Duampanua, mengalami penurunan debit air.

Andi Sudirman mengatakan kondisi tersebut membutuhkan penanganan yang lebih besar melalui rehabilitasi sistem irigasi, terutama pada bagian hulu.

“Pada prinsipnya kekurangan debit di hulu Sungai Saddang, kita membutuhkan rehab besar. Ini Rp1,8 triliun kita usulkan ke pusat,” jelasnya.

Usulan rehabilitasi tersebut diharapkan dapat memperbaiki sekaligus mengoptimalkan desain dan sistem jaringan irigasi agar distribusi air ke lahan pertanian lebih efektif.

“Insyaallah, mudah-mudahan bisa dilakukan rehab besar dalam rangka memperbaiki dan bagaimana mengoptimalkan desain irigasi yang dapat terjangkau,” pungkasnya.

Petani Keluhkan Sawah Kekeringan 2 Bulan

Kekeringan di wilayah Duampanua sebelumnya dikeluhkan langsung oleh para petani.

Mereka bahkan mendatangi Kantor DPRD Pinrang pada Rabu (16/9/2026) untuk meminta pemerintah memperhatikan persoalan distribusi air.

Petani mengaku pasokan air melalui saluran irigasi tidak mengalir ke sawah mereka selama sekitar dua bulan.

Kondisi tersebut membuat ratusan hektare lahan terdampak kekeringan.

“Kami sudah 2 bulan kekeringan, air tidak sampai ke sawah,” ujar warga bernama Lapris kepada wartawan.

Lapris mengatakan petani di Duampanua merasa distribusi air dari Bendungan Benteng tidak merata.

Menurutnya, aliran air lebih banyak diarahkan ke wilayah Pinrang selatan.

“Kami merasa dianaktirikan karena air yang ada di Bendungan Benteng banyak diarahkan ke Pinrang selatan, sementara di Pinrang utara sama sekali tidak ada. Jadi kami di Duampanua ini dianaktirikan,” keluhnya.

Kondisi tersebut berdampak terhadap tanaman padi petani.

Sejumlah tanaman disebut telah mati akibat tidak mendapatkan pasokan air.

“Petani di sana (Kecamatan Duampanua) banyak yang mati karena sudah kering. Jadi kami minta agar pemerintah dapat berlaku adil (membagikan distribusi air dari Bendungan Benteng),” tegasnya.

Debit Bendungan Benteng Turun Drastis

Kepala Dinas PSDA BK Pinrang Bachrum Syah menjelaskan penurunan pasokan air dipengaruhi kondisi iklim.

Debit air di Bendungan Benteng saat ini disebut turun drastis menjadi 33 meter kubik per detik.

“Debit air di Bendungan Benteng itu turun drastis. Kalau biasanya bisa sampai 120 sampai 120 meter kubik perdetik, sekarang cuman 33 meter kubik. Jadi memang sulit untuk dapat memenuhi kebutuhan air bagi petani,” paparnya.

Sebagai langkah penanganan, pemerintah telah berkoordinasi dengan pengelola Bendungan Benteng untuk membuka pintu saluran yang mengarah ke saluran induk Pekkabata di Kecamatan Duampanua.

“Sebagai solusi kami berkoordinasi dengan pengelola Bendungan Benteng agar pintu saluran yang mengarah ke saluran induk Pekkabata (Kecamatan Duampanua) dapat dibuka agar air bisa maksimal,” paparnya.

Yaslinda Utari

Share
Published by
Yaslinda Utari
Tags: Irigasi Pinrang Kekeringan Pinrang Petani Pinrang