Sekitar 6.000 guru di Gowa mengancam berhenti mengajar mulai Senin jika gaji yang belum dibayarkan. Hal ini disampaikan PGRI Gowa saat audiensi bersama DPRD, Rabu (9/9/2026). (Dok. Ilustrasi Guru. JawaPos Group)
SulawesiPos.com – Sekitar 6.000 guru di Kabupaten Gowa mengancam berhenti mengajar mulai Senin jika gaji yang belum dibayarkan hingga akhir pekan ini tidak kunjung cair.
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Gowa menyebut keterlambatan tersebut dirasakan guru dari berbagai jenjang dan status kepegawaian.
Kondisi ini menyangkut guru ASN dan juga PPPK dan honorer yang tersebar di sekolah mulai jenjang TK hingga SMP.
PGRI Gowa menyatakan persoalan pembayaran gaji ditemukan saat pihaknya menampung aspirasi guru di sejumlah wilayah.
Dampaknya mulai dirasakan dalam kebutuhan sehari-hari. Sebagian guru harus tetap memenuhi biaya pendidikan anak, cicilan rumah dan kendaraan, hingga kewajiban lainnya meski penghasilan yang seharusnya diterima belum masuk.
Ketua PGRI Gowa, Sappe Mangiriang menyebut, kondisi tersebut membuat sebagian guru berada dalam tekanan ekonomi.
“Semua guru menangis, karena kebutuhan mereka banyak. Ada anaknya yang sekolah, ada yang kuliah, ada cicilan rumah, ada cicilan kendaraan, ada cicilan koperasi,” ujarnya saat menggelar audiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gowa, Rabu (9/9/2026).
Menurut PGRI Gowa, setelah berbagai kewajiban tersebut dipenuhi, sebagian guru bahkan hanya menyisakan uang sekitar Rp100 ribu atau kurang untuk kebutuhan lainnya.
Aspirasi mengenai keterlambatan gaji itu dihimpun PGRI Gowa dalam kunjungan ke enam kecamatan.
Keluhan datang dari guru dengan kondisi kepegawaian yang berbeda, sehingga persoalan tersebut dinilai tidak terbatas pada satu kelompok guru saja.
“Kenapa gaji kami ini terlambat dibayarkan hanya karena persoalan elit yang ribut di atas? Kenapa kita yang jadi korban?” ucap Sappe menirukan jeritan para guru di lapangan.
Selain persoalan gaji, PGRI juga menyoroti kebijakan terkait kehadiran guru ketika peserta didik sedang libur.
Guru tetap diminta hadir di sekolah, sementara sebagian guru honorer hanya menerima honor sekitar Rp300 ribu.
Kondisi itu dinilai menambah beban karena guru tetap harus mengeluarkan biaya transportasi untuk datang ke sekolah.
PGRI Gowa berharap pembayaran gaji dapat segera diselesaikan sebelum akhir pekan. Jika belum ada pembayaran hingga batas waktu tersebut, sekitar 6.000 guru yang terdampak disebut berpotensi menghentikan aktivitas mengajar mulai Senin.