Warga menunggu julung-julung untuk dilayarkan dalam perayaan Maudu Lompoa di Desa Cikoang, Kabupaten Takalar pada Kamis (10/9/2026). Foto: SPos/Abud.
SulawesiPos.com – Ratusan julung-julung berwarna-warni kembali menghiasi tepian Sungai Cikoang, Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Kamis (10/9/2026).
Kapal-kapal kayu yang dihias dengan kain dan berbagai perlengkapan itu menjadi bagian penting dalam puncak perayaan Maudu Lompoa, tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diwariskan masyarakat Cikoang secara turun-temurun.
Pantauan SulawesiPos.com di lokasi, sejak pagi warga mulai berdatangan sambil membawa julung-julung yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Ketua Yayasan Kerukunan Keluarga Besar Sayyid Jalaluddin, Andi A Alwi, mengatakan perayaan Maudu di Cikoang dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat, khususnya para pengikut Syekh Jalaluddin.
“Perayaan Maudu di Cikoang yang dirayakan oleh masyarakat Cikoang, khususnya pengikut Syekh Jalaluddin itu setiap tahun kita laksanakan, kita rayakan dimulai dari bulan Syafar,” ucapnya saat ditemui, Kamis (10/9/2026).
Maudu Lompoa tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga memiliki makna keagamaan bagi masyarakat Cikoang.
Perayaan tersebut menjadi bentuk peringatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus ungkapan kecintaan kepada Rasulullah.
“Kalau Maudu Lompoa itu awalnya di ajaran yang mulia Syekh Jalaluddin Al-Aidid. Dia membawa ajaran maulid ini masuk ke Cikoang seiring dengan penyebaran agama Islam di Cikoang,” jelasnya.
Menurut Andi, ajaran tersebut kemudian berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cikoang.
“Jadi, proses maulid sebenarnya acara itu ada proses memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Jadi, itu yang mereka ajarkan, proses bagaimana mereka mencintai, menghamba, mencintai Nabi Muhammad, kelahiran Nabi sebagai pencerah, sebagai penerang bagi umat di muka bumi ini,” ujarnya.
Tradisi ini mulanya dibawa oleh Syekh Jalaluddin Al-Aidid di Cikoang sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Desa Cikoang menjadi pusat pelaksanaan karena di sini awal kedatangan Syekh Jalaluddin yang membawa, tokoh yang membawa ajaran Islam di Cikoang dan di Sulawesi Selatan,” katanya.
“Rasa syukur, ungkapan rasa syukur mereka atas proses kejadian proses kejadian dan kelahiran Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam,” tambahnya.
Dalam kajian jurnal UIN berjudul Analisis Pesan Dakwah Dalam Tradisi Maudu’ Lompoa di Cikoang Kabupaten Takalar, Maudu Lompoa disebut sebagai tradisi peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di Desa Cikoang yang pelaksanaannya masih sangat kental dengan nilai-nilai adat lokal.
Secara etimologis, Maudu berarti maulid, sedangkan Lompoa berarti akbar.
Tradisi tersebut tidak berlangsung dalam satu hari. Ada sejumlah tahapan yang dipersiapkan masyarakat sejak bulan Syafar hingga puncak perayaan pada 28 Rabiul Awal.
“Prosesnya, karena maulid ini maulid Cikoang itu ada proses, ada tahapan-tahapan yang dilaksanakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Cikoang dan pengikut Jalaluddin yang ada di luar daerah Cikoang. Jadi, kita prosesinya itu dimulai dari bulan Syafar,” sebutnya.
1. Mandi Syafar dan Persiapan
Andi Alwi menjelaskan, tahapan awal dimulai pada 10 Syafar. Masyarakat melakukan mandi-mandi Syafar yang dimaknai sebagai proses mencuci dan mengganti diri. Setelah itu, warga mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk pelaksanaan Maudu.
“Di 10 bulan Syafar itu masyarakat Cikoang mulai memulai tahapan maulid. Mulai dari proses mandi-mandi Syafar, itu dalam artian proses mencuci ganti diri. Setelah masuk di bulan Syafar itu mulai mereka mempersiapkan bahan-bahan untuk kebutuhan maulid,” ujarnya.
Salah satu persiapan utama adalah ayam maulid yang akan menjadi bagian dari hidangan tradisi.
“Salah saru yang paling utama adalah Ayam maulid. Itu sudah mulai dikurung, dibersihkan,” katanya.
Persiapan kemudian berlanjut pada bakul dan berbagai perangkat lainnya.
“Setelah mandi-mandi itu mulai artinya tahapan awal, persiapan perangkat-perangkat yang dibutuhkan untuk merayakan maulid, jadi proses pengurungan ayam untuk menyucikan ayam itu, kemudian persiapan-persiapan untuk bakul dan seluruh kelengkapan, kelengkapan-kelengkapan maulid itu sudah mulai dipersiapkan,” jelasnya.
2. Mengisi Bakul (Ammone’ Baku)
Menurut kajian jurnal UIN tersebut, salah satu tahap persiapan sekaligus pelaksanaan adalah Ammone’ Baku atau mengisi bakul.
Bakul diisi oleh perempuan yang berada dalam keadaan suci, yakni tidak sedang haid dan telah berwudhu. Isinya antara lain nasi setengah masak, ayam yang telah digoreng dan dibungkus daun pisang, kerupuk rengginang, serta kue waje.
Setelah diisi, bakul dihiasi dengan pa’belo-belo atau hiasan berupa bunga-bunga kertas yang dibentuk menyerupai orang. Hiasan tersebut juga menjadi salah satu penanda kemampuan pemiliknya.
3. Menghias Bakul dan Julung-julung
Tahap berikutnya adalah menghias bakul, kandawari atau tempat menyimpan bakul, serta julung-julung yang digunakan untuk membawa seluruh perlengkapan maulid.
Julung-julung dihiasi dengan kain atau layar beraneka warna yang digantung pada bagian tiangnya.
4. Mengantar Bakul ke Lokasi Perayaan
Setelah seluruh perlengkapan siap, masyarakat kemudian mengantar bakul ke lokasi perayaan di tepian Sungai Cikoang.
Bagi warga yang tinggal dekat dengan lokasi, bakul dapat dibawa menggunakan kandawari yang diangkat bersama-sama. Sementara warga yang tinggal lebih jauh menggunakan julung-julung yang diarak secara gotong royong.
Puncak pelaksanaan Maudu Lompoa dimulai pada 12 Rabiul Awal dan dipimpin para tokoh agama atau anrongguru serta tokoh adat.
“Nah, jadi maulid sendiri, pelaksanaan maulid sendiri itu dimulai dari 12 Rabiul Awal,” tuturnya.
“Dimulai dari 12 Rabiul Awal oleh para tokoh-tokoh, para tokoh-tokoh dipimpin oleh para tokoh-tokoh pembuka-pembuka agama yang atau yang biasa disebut anrong guru atau tokoh-tokoh adat yang ada di wilayah Desa Cikoang atau di sekitaran Desa Cikoang, bukan hanya Desa Cikoang,” lanjutnya.
Adapun puncak Maudu Lompoa tahun ini jatuh pada 28 Rabiul Awal atau bertepatan dengan 10 September 2026.
“Pelaksanaan mulai dari 12 itu, dan hari puncak pelaksanaan maulid jatuh pada 28 Rabiul Awal atau tanggal 10 September (2026),” ujarnya.
Pantauan SulawesiPos.com, sejak sekitar pukul 08.00 Wita, satu per satu julung-julung mulai diarak.
Warga bergotong royong mengangkat kapal-kapal kayu tersebut menuju kawasan muara Sungai Cikoang.
Jumlahnya mencapai ratusan. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa ikut ambil bagian.
Tabuhan gendang dan gong mengiringi arak-arakan. Sorak-sorai warga terdengar di sepanjang perjalanan. Sejumlah warga bahkan mencipratkan air satu sama lain sembari tertawa.
Beberapa orang naik ke atas julung-julung sambil memainkan alat musik tradisional. Suasana semakin meriah ketika arak-arakan bergerak menuju tepian sungai.
“Setelah siap persiapannya sudah mereka mengarak. Mengarak bakul maulidnya ke tempat ini, di muara Cikoang ini, kemudian mereka bergembira di situ sambil prosessi proses-proses pengarakan itu setelah mereka ber- berkumpul mereka menunggu untuk acara A’rate atau Ma’rate,” katanya.
Setelah bakul dan perlengkapan maulid tiba di lokasi, tahap berikutnya adalah Pannarimang Kanre Maudu atau penerimaan makanan maulid.
Berdasarkan kajian jurnal UIN, makanan yang dibawa masing-masing masyarakat diterima oleh anrongguru selaku pemimpin ritual. Prosesi tersebut dilakukan dengan pembakaran dupa sembari duduk bersila dan membaca doa.
Setelah penerimaan makanan, rangkaian berlanjut pada A’ratek atau Azzikiri. Prosesi ini merupakan inti perayaan Maudu Lompoa dan dipimpin oleh anrongguru.
A’ratek berasal dari kitab Rate’ karya Sayyid Jalaluddin Al-Aidid dan berisi syair pujian berbahasa Arab yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.
Pembacaannya berlangsung sekitar dua jam dengan lagu dan irama khas.
Setelah A’ratek atau Azzikiri selesai, rangkaian dilanjutkan dengan jamuan tamu. Para tamu yang berada di baruga dijamu dengan makanan yang telah disiapkan panitia.
Kanre maudu yang telah dibacakan A’ratek/Azzikiri kemudian masuk dalam tahapan Attoana atau pembagian makanan maulid.
Jurnal UIN mencatat, pembagian tersebut memiliki ketentuan tersendiri. Qadhi atau imam dan pejabat pemerintah setempat masing-masing mendapatkan sebuah julung-julung lengkap dengan isinya.
Peserta A’ratek/Azzikiri memperoleh kandawari lengkap dengan isinya, sementara masyarakat umum mendapatkan sebuah bakul.
Andi Alwi mengatakan isi julung-julung saat ini juga semakin beragam dan dapat dinikmati masyarakat.
Ia mengatakan nantinya isi dari julung-julung spetti baju, daster, boneka, makanan, songkolo, teur maulid akan dibagikan untuk warha.
Bagi masyarakat Cikoang, pembagian tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan yang mengiringi perayaan Maudu Lompoa.
Di tengah kemeriahan itu, julung-julung juga memiliki makna simbolis. Bukan sekadar wadah untuk membawa berbagai perlengkapan maulid, kapal tersebut menjadi gambaran kegembiraan dan kesatuan masyarakat.
“Ia juga menjelaskan julung-julung itu bermskna kegembiraan wujud dari kegembiraan menggambarkan suatu kesatuan yang utuh yang siap berlayar mengarungi kehidupan di dunia ini,” ujarnya.
Maudu Lompoa akhirnya tidak hanya memperlihatkan kemeriahan sebuah perayaan keagamaan. Di dalamnya terdapat gotong royong, penghormatan terhadap ajaran Islam, penghargaan terhadap sejarah, serta kearifan lokal yang terus diwariskan