Dampak Abu vulkanik berbahaya bagi pesawat karena bisa merusak mesin, kaca kokpit, sensor, dan aerodinamika.
SulawesiPos.com – Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu alasan 21 penerbangan rute Makassar-Jakarta pulang-pergi mengalami pembatalan dan penundaan pada Minggu (6/9/2026).
Gangguan itu muncul setelah indikasi abu vulkanik terdeteksi di area Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Abu vulkanik tidak dapat diperlakukan seperti debu biasa.
Partikel yang berasal dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik tersebut berukuran sangat kecil, tetapi memiliki sifat keras dan abrasif sehingga berisiko terhadap pesawat yang melintasi wilayah terdampak.
Risiko terbesar berada pada mesin pesawat.
Ketika abu vulkanik terhisap ke dalam mesin jet, material tersebut dapat meleleh akibat temperatur tinggi di bagian mesin.
Setelah itu, abu dapat menempel pada komponen dan mengganggu aliran udara.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penurunan daya dorong hingga gangguan kinerja mesin.
Pengamat penerbangan Alvin Lie menjelaskan abu vulkanik yang mengandung material silika dapat menyebabkan kerusakan pada bagian turbin.
“Dampaknya bisa menyebabkan keausan atau erosi. Baling-baling turbin bisa rontok,” kata Alvin.
Selain mesin, abu vulkanik juga dapat mengganggu kaca kokpit.
Partikel yang bersifat abrasif bisa menggores permukaan kaca sehingga mengurangi visibilitas pilot, terutama ketika pesawat berada pada fase penting seperti lepas landas dan pendaratan.
Bahaya abu vulkanik tidak berhenti pada mesin dan kaca kokpit.
Partikel tersebut juga dapat mengganggu sistem sensor pesawat.
Salah satu yang perlu diperhatikan adalah pitot tube, perangkat yang digunakan untuk mengukur tekanan udara dan membantu menentukan kecepatan pesawat.
Jika saluran tersebut terganggu atau tersumbat abu, informasi yang diterima instrumen penerbangan dapat menjadi tidak akurat.
Abu yang menempel pada bagian luar pesawat juga berpotensi memengaruhi permukaan aerodinamis.
Lapisan material pada sayap dan komponen lainnya dapat mengganggu karakteristik aliran udara di sekitar pesawat.
Karena itu, keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan menjadi persoalan keselamatan, bukan sekadar gangguan jarak pandang.
Dalam kasus erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026), indikasi sebaran abu vulkanik terdeteksi di area Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengatakan hasil paper test menunjukkan adanya indikasi abu vulkanik di kawasan bandara.
“Hasil paper test terbaru dari Stasiun Meteorologi Kelas I Soekarno Hatta (Gedung 725 AMOS) pada pukul 06.05 WIB – 06.35 WIB juga menunjukkan hasil positif adanya indikasi sebaran abu vulkanik di area Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta,” kata Lukman dalam keterangannya.
Temuan tersebut membuat operasional penerbangan harus disesuaikan.
Dampaknya ikut merembet ke sejumlah rute, termasuk Makassar-Cengkareng.
Di Bandara Sultan Hasanuddin, tercatat 21 penerbangan rute Makassar-Jakarta dan sebaliknya terdampak.
Dari jumlah itu, 12 penerbangan mengalami pembatalan dan sembilan lainnya mengalami penundaan.
Kondisi ini menunjukkan abu vulkanik dapat mengganggu jaringan penerbangan meskipun bandara asal tidak berada dekat dengan lokasi gunung yang mengalami erupsi.
Bagi penerbangan, menghindari wilayah yang terpapar abu vulkanik merupakan langkah keselamatan untuk mencegah partikel masuk ke mesin maupun mengganggu sistem pesawat.