Categories: Sulsel

Dari Jerat Rentenir Menembus Mancanegara, Nuraeni Bangun Sentra UMKM di Pesisir Utara Makassar

SulawesiPos.com – Di pesisir utara Kota Makassar, tepatnya di Kelurahan Pattingaloang, Kecamatan Ujung Tanah, Nuraeni membangun jalan keluar bagi keluarga nelayan yang lama terjebak utang berbunga tinggi. Lewat Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Az-Zahra yang ia rintis sejak 2007, perempuan kelahiran 1969 yang akrab disapa Bu Eni itu mengubah kebiasaan meminjam kepada rentenir menjadi gerakan usaha bersama yang kini membawa produk olahan ikan dari lorong pesisir hingga pasar mancanegara.

Langkah itu bermula dari keprihatinannya melihat para istri nelayan kerap meminjam uang kepada punggawa atau rentenir untuk menutup kebutuhan rumah tangga, terutama saat musim paceklik ketika suami tidak bisa melaut. Pola tersebut, menurut Bu Eni, justru memperpanjang beban ekonomi keluarga pesisir.

“Saya prihatin karena mereka kan sering pinjam tapi bunganya cukup tinggi dan memberatkan buat mereka,” ungkap Bu Eni.

Dari situ, ia mulai merangkul ibu-ibu di sekitarnya lewat diskusi, advokasi, dan pelatihan keterampilan. Mereka diajak tidak lagi menjual ikan mentah semata, melainkan mengolahnya menjadi produk bernilai lebih tinggi seperti abon, nugget, bakso, otak-otak, kerupuk ikan, dan bandeng tanpa duri.

“Nah, kita mencoba membuat suatu perubahan, merubah pola pikir, sikap mereka, dan membangun kecerdasan mereka. Karena yang mendapatkan dampak langsung kemiskinan ini adalah para istri nelayan,” ujarnya.

Bu Eni menuturkan selisih nilai ekonominya sangat terasa. Menurut dia, satu keranjang ikan yang di tempat pelelangan hanya dihargai sekitar Rp75 ribu sampai Rp100 ribu bisa memberi nilai jauh lebih tinggi setelah diolah menjadi produk jadi.

Abon ikan tuna hasil kreasi Koperasi Wanita Nelayan (KWN) Fatimah Azzahra

“Satu keranjang ikan bisa dihargai Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu di tempat pelelangan. Tapi ketika menjadi abon, satu kilo abon bisa jadi Rp 200 ribu. Kita bisa mengelola sedikit tapi cukup menguntungkan bagi mereka,” katanya.

Dukungan usaha bikin produksi melonjak

Perjalanan usaha KWN Fatimah Az-Zahra kemudian mendapat dorongan besar setelah memperoleh pendampingan program kemitraan dan bina lingkungan PT Pertamina MOR VII pada 2010. Dukungan itu tidak hanya berupa pinjaman modal, tetapi juga pembangunan rumah produksi, bantuan sarana prasarana, serta pelatihan standar produksi, kemasan, pemasaran, dan e-commerce.

Dari pendampingan itu, kapasitas produksi kelompok meningkat tajam. Jika pada tahap awal produksi abon hanya sekitar 35 kilogram, kini jumlahnya disebut telah menembus satu ton. Salah satu produk unggulan mereka adalah abon ikan tuna segar yang diproses tanpa MSG dan tanpa bahan pengawet.

Pasar produk KWN Fatimah Az-Zahra pun terus melebar. Jika sebelumnya hanya beredar di sekitar Makassar, hasil olahan kelompok itu kini dipasarkan ke Timika, Palu, Surabaya, dan Jakarta. Dalam perkembangan berikutnya, produk mereka juga disebut sudah masuk ke Arab Saudi.

Catatan pertumbuhan usaha itu ikut mengantarkan KWN Fatimah Az-Zahra meraih penghargaan sebagai tiga mitra binaan terbaik Pertamina pada 2018 dalam kategori kolektabilitas lancar dan aktif.

Usaha tumbuh, fungsi sosial ikut meluas

Keberhasilan ekonomi itu tidak berhenti pada omzet. KWN Fatimah Az-Zahra kini disebut melibatkan sekitar 600 warga dalam operasionalnya. Dari hasil penjualan, kelompok ini menyisihkan 2 persen untuk menjalankan kegiatan sosial, menjadikannya bukan sekadar UMKM, tetapi juga ruang pemberdayaan warga pesisir.

Di Jalan Barukang 3 Lorong 3, komunitas ini menaungi kelompok anak berdaya, lansia berdaya, dan kelompok disabilitas berdaya. Setiap tanggal 10, mereka membagikan santunan, paket sembako, dan layanan pemeriksaan kesehatan untuk 150 lansia, disertai pembinaan serta pengajian rutin.

Untuk anak-anak pesisir, mereka membentuk Sekolah Anak Percaya Diri atau SAPD. Program ini ditujukan bagi 63 siswa, termasuk anak-anak yang pernah mengalami kekerasan fisik, psikis, maupun seksual, agar memiliki ruang belajar dan memulihkan kepercayaan diri.

“Kenapa kita berikan nama SAPD, karena anak-anak yang telah mengalami kekerasan biasanya akan kehilangan sikap percaya diri. Kita berikan ruang belajar setiap Jumat dan Minggu untuk memulihkannya,” jelas Bu Eni.

Pada kelompok penyandang disabilitas, KWN Fatimah Az-Zahra bekerja sama dengan Himpunan Wanita Disabilitas untuk memberi pendampingan dan pelatihan keterampilan, termasuk menjahit.

Komunitas ini juga beberapa kali menerima kunjungan pejabat dan tamu luar negeri, di antaranya Sandiaga Uno saat masih menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 13 November 2024, serta delegasi Australia Indonesia Muslim Exchange Program.

Dari gang kecil di pesisir Makassar, Nuraeni membangun model pemberdayaan yang bergerak dari dapur produksi ke ruang sosial. KWN Fatimah Az-Zahra kini menjadi bukti bahwa penguatan perempuan pesisir dapat memutus ketergantungan pada rentenir sekaligus membuka jalan kemandirian ekonomi yang lebih luas.

MN Abdurrahman

Share
Published by
MN Abdurrahman
Tags: Disabilitas Makassar nelayan Pertamina Ujung Tanah UMKM