Polres Bone
SulawesiPos.com – Ketua DPRD Bone yang juga politisi Partai Gerindra, Andi Tenri Walinonong kembali menjadi sorotan publik setelah dilaporkan ke Polres Bone atas dugaan penganiayaan terhadap seorang staf Sekretariat DPRD, Rabu (22/7/2026).
Kasus terbaru ini menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan pimpinan lembaga legislatif tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Berikut sederet polemik yang pernah mencuat dan menjadi perhatian masyarakat:
1. Bersitegang dengan Pemkab Bone Soal Target PAD
Hubungan Ketua DPRD Bone dengan Pemerintah Kabupaten Bone sempat memanas saat pembahasan target Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dalam rapat paripurna, Ketua DPRD menolak target PAD yang diajukan pemerintah daerah.
Perdebatan berlangsung cukup alot hingga berujung pada aksi walkout Ketua DPRD dari ruang sidang.
Peristiwa itu menjadi perhatian publik karena terjadi di tengah agenda penting pembahasan kebijakan daerah.
2. Konflik dengan Sekretaris DPRD Bone
Ketua DPRD Bone juga pernah dikabarkan berselisih dengan Sekretaris DPRD Bone yang saat itu dijabat Hj. Faidah.
Hubungan keduanya menjadi sorotan karena memengaruhi dinamika internal di lingkungan Sekretariat DPRD.
Perselisihan tersebut sempat memunculkan berbagai tanggapan terkait komunikasi dan koordinasi antara unsur pimpinan DPRD dengan sekretariat lembaga.
3. Diterpa Mosi Tidak Percaya dari Anggota DPRD
Kontroversi berikutnya datang dari internal DPRD sendiri. Sejumlah anggota DPRD Bone melayangkan mosi tidak percaya kepada Ketua DPRD.
Dalam mosi tersebut, Ketua DPRD dinilai kerap mengambil keputusan secara sepihak tanpa melalui mekanisme yang semestinya.
Para anggota juga menilai tindakan tersebut telah mencederai marwah lembaga dan mengabaikan prinsip kolektif kolegial yang menjadi dasar pengambilan keputusan di DPRD.
Mosi tersebut menjadi salah satu dinamika politik paling menyita perhatian karena berasal dari sesama anggota legislatif.
4. Dilaporkan ke Polisi atas Dugaan Penganiayaan Staf
Kontroversi terbaru adalah dugaan penganiayaan terhadap seorang staf Sekretariat DPRD Bone.
Peristiwa itu diduga dipicu persoalan sepele saat staf tersebut sedang memesan kue.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan pelapor, korban mengaku dipanggil oleh Ketua DPRD, kemudian dilempari kue, disiram air, serta dilempar botol.
Merasa menjadi korban penganiayaan, staf tersebut kemudian melaporkan kejadian itu ke Polres Bone.
Pihak kepolisian membenarkan telah menerima laporan polisi (LP) dan saat ini masih melakukan pemeriksaan awal terhadap pelapor sebagai bagian dari proses penyelidikan.
Kasus ini menjadi perhatian publik karena menyangkut dugaan tindakan kekerasan yang melibatkan pimpinan lembaga legislatif.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Ketua DPRD Bone terkait laporan tersebut.
Polisi juga menegaskan proses hukum akan dilakukan sesuai prosedur untuk mengungkap fakta yang sebenarnya. (kar)