Categories: Sulsel

Memahami Peran Vital Posko Ante Mortem di Balik Tragedi KM Nurul Salsa

SulawesiPos.com – Di tengah duka dan penantian keluarga korban tragedi KM Nurul Salsa, ada satu titik yang memegang peran sangat penting dalam proses identifikasi korban, yakni Posko Ante Mortem. Posko ini menjadi tempat tim Disaster Victim Identification atau DVI mengumpulkan data semasa hidup korban dari keluarga untuk dicocokkan dengan data temuan pada jenazah.

Dalam penanganan tragedi KM Nurul Salsa, Posko Ante Mortem dibuka sejak Sabtu, 18 Juli 2026 dan dipusatkan di Terminal Pelabuhan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar. Lokasi itu dipilih karena menjadi titik yang paling dekat dan mudah diakses keluarga korban yang menunggu kepastian nasib anggota keluarganya.

Kabid Dokkes Polda Sulsel Kombes Pol dr Muhammad Haris menjelaskan, fungsi utama posko ini adalah mengumpulkan data yang nantinya menjadi pembanding dalam proses identifikasi post mortem.

“Data ini sangat krusial untuk dicocokkan dengan data temuan pada jenazah (post mortem) kelak,” jelas Haris.

Di posko itu, petugas tidak hanya mencatat nama korban. Tim juga melakukan wawancara mendalam dengan keluarga untuk mengumpulkan data rekam gigi, ciri fisik khusus seperti tanda lahir, tato, atau bekas luka, riwayat medis, hingga pakaian terakhir yang dikenakan korban.

Salah satu dokter forensik, dr Jaury Prawiro, Sp.FM, menjelaskan bahwa data ante mortem dibagi menjadi dua kategori, yakni data primer dan data sekunder. Data primer meliputi sidik jari, rekam medis gigi, dan DNA. Sementara data sekunder mencakup ciri fisik, riwayat medis, serta barang atau properti terakhir yang dikenakan atau dibawa korban.

“Untuk pemeriksaan DNA, tim mengumpulkan barang-barang pribadi korban yang belum dicuci atau dibersihkan, seperti sikat gigi, sisir, atau pakaian dalam. Selain itu, petugas juga akan mengambil sampel darah atau air liur dari keluarga kandung garis lurus, yakni orang tua atau anak korban,” jelas dr Jaury.

Pentingnya Posko Ante Mortem semakin terasa ketika pencarian memasuki hari-hari berikutnya dan kondisi jenazah tidak lagi memungkinkan dikenali secara visual. Dalam situasi seperti itu, proses identifikasi tidak lagi mengandalkan pengenalan wajah, melainkan sepenuhnya bergeser ke metode ilmiah melalui sidik jari, profil gigi, dan DNA.

Pada Rabu, 22 Juli 2026, dua jenazah yang diduga kuat merupakan penumpang KM Nurul Salsa telah tiba di fasilitas RS Bhayangkara Makassar untuk menjalani proses identifikasi lebih lanjut.

Haris menegaskan, identifikasi akan disesuaikan dengan kondisi jenazah yang ditemukan.

“Identifikasi dilihat dari kondisi jenazah. Jika memungkinkan ada data sidik jari, bisa lebih cepat dan langsung diserahkan ke keluarga. Jika kondisi mayat atau potongan tubuh yang didapat di laut sudah hancur, kita akan mengidentifikasi melalui profil gigi,” ungkapnya.

“Jika tidak memungkinkan lagi (melalui gigi), barulah identifikasi dilakukan melalui profil DNA, yang akan disandingkan dengan profil DNA keluarga terdekat yang sudah diambil di posko ante mortem,” tambah Haris.

Untuk mempercepat proses itu, Biddokkes Polda Sulsel membagi dua tim forensik. Jika korban ditemukan di area terdekat dari Selayar, identifikasi dilakukan oleh tim di Selayar. Sementara jenazah yang dievakuasi menjauh dari lokasi awal, seperti dua korban terakhir, ditangani oleh tim forensik di Posko Post Mortem RS Bhayangkara Makassar.

Pihak kepolisian juga terus mengimbau keluarga penumpang KM Nurul Salsa agar tidak ragu datang ke Posko Ante Mortem di Terminal Pelabuhan Benteng. Keterlibatan aktif keluarga dinilai menjadi kunci agar proses identifikasi berjalan lebih cepat dan jenazah korban dapat segera dipulangkan.

MN Abdurrahman

Share
Published by
MN Abdurrahman
Tags: DVI Polda Sulsel forensik KM Nurul Salsa Tim DVI Polda Sulsel