Nakhoda KLM Nurul Salsa, Marlin, saat menjalani pemeriksaan terkait insiden tenggelamnya kapal di perairan Selayar.
SulawesiPos.com – Polisi mengungkap hasil pemeriksaan terhadap nakhoda KLM Nurul Salsa setelah kapal itu tenggelam di perairan barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Rabu, 16 Juli 2026.
Dari pemeriksaan awal, nakhoda bernama Marlin mengakui tetap memaksakan kapal berlayar meski cuaca sedang buruk dan kondisi kapal tidak sepenuhnya layak.
Pengakuan itu kini menjadi salah satu fokus penyelidikan Polres Kepulauan Selayar.
Selain faktor cuaca ekstrem, penyidik juga mendalami dugaan kapal mengangkut penumpang melebihi kapasitas manifes serta adanya gangguan teknis pada mesin sebelum kapal akhirnya tenggelam.
Kasat Polairud Polres Kepulauan Selayar Iptu Amad Soedachlan mengatakan nakhoda mengetahui kondisi cuaca di perairan Selayar saat kejadian sedang tidak bersahabat.
Kapal yang dinakhodainya juga diketahui pernah mengalami kebocoran sebelum berlayar.
“Dia tahu cuaca lagi buruk dan dia juga tahu kapal itu pernah mengalami kebocoran, hanya sudah diperbaiki. Saat diperiksa dia mengakui dan menyadari kesalahannya,” kata Amad.
Amad menjelaskan saat kejadian wilayah perairan Selayar sedang memasuki musim timur yang ditandai angin kencang dan gelombang tinggi. Dalam kondisi seperti itu, kata dia, kapal seharusnya tidak dipaksakan berlayar.
“Saat kejadian, wilayah perairan Selayar sedang memasuki musim timur dengan kondisi angin kencang dan gelombang tinggi. Dalam kondisi tersebut, kapal seharusnya tidak dipaksakan berlayar,” ujarnya.
Selain kondisi cuaca, penyidik juga mendalami dugaan jumlah penumpang yang berada di atas kapal melebihi data manifes.
Polisi masih mencocokkan keterangan para saksi, nakhoda, dan data penumpang untuk memastikan jumlah orang yang berada di atas kapal saat insiden terjadi.
Tidak hanya itu, penyidik juga menyelidiki dugaan gangguan mesin yang dialami KLM Nurul Salsa tidak lama setelah meninggalkan Pulau Polassi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, kapal disebut hanya mengandalkan satu mesin saat berlayar sehingga diduga mengurangi kemampuan kapal menghadapi cuaca buruk dan gelombang tinggi.
Rangkaian temuan itu membuat penyelidikan tidak lagi hanya berfokus pada faktor cuaca, tetapi juga mengarah pada aspek kelayakan kapal, kepatuhan terhadap aturan pelayaran, serta keputusan nakhoda yang tetap melanjutkan perjalanan meski mengetahui adanya risiko.
Polres Kepulauan Selayar masih mengumpulkan alat bukti dan memeriksa sejumlah saksi untuk memastikan penyebab pasti tenggelamnya KLM Nurul Salsa serta menentukan ada atau tidaknya unsur kelalaian dalam peristiwa tersebut.