Categories: Sulsel

Teror Buaya Bangkitkan Mitos Lama di Bone, Dari Penjaga Sungai hingga Pertanda Musibah

SulawesiPos.com – Tertangkapnya seekor buaya betina di Sungai Padio, Desa Masserempulu, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, tidak hanya menyisakan kewaspadaan karena seekor buaya jantan masih berkeliaran. Peristiwa itu juga kembali menghidupkan mitos lama yang sejak turun-temurun dipercaya sebagian warga di sepanjang aliran sungai tentang kemunculan buaya sebagai penjaga sungai hingga pertanda akan datangnya peristiwa yang tidak biasa.

Di tengah warga yang masih memburu buaya jantan, cerita-cerita lama kembali ramai dibicarakan.

Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di dekat sungai maupun kawasan pesisir, kemunculan buaya bukan sekadar fenomena satwa liar, tetapi kerap dikaitkan dengan isyarat tertentu, mulai dari keseimbangan alam yang terganggu hingga kekhawatiran akan musibah.

Salah satu kepercayaan yang paling dikenal adalah anggapan bahwa buaya merupakan “penjaga sungai”.

Karena itu, orang tua di kampung-kampung sejak lama mengingatkan anak-anak agar menjaga sopan santun saat berada di sungai, tidak berkata kasar, tidak membuang benda sembarangan, dan tidak menantang alam.

Sebagian warga juga meyakini, jika buaya mulai sering muncul di sekitar permukiman, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan.

Kepercayaan itu berkembang lama di kalangan warga Bone yang mengaitkannya dengan kemungkinan banjir, kecelakaan, atau peristiwa besar lain.

Dalam kasus di Desa Masserempulu, warga mengaku selama beberapa bulan terakhir memang kerap melihat dua ekor buaya muncul di Sungai Padio.

Setelah seekor buaya betina berhasil ditangkap, warga kini masih memburu seekor buaya jantan yang diperkirakan memiliki panjang hampir empat meter.

Meski mitos tersebut masih hidup di tengah masyarakat, pemerhati lingkungan Bone, Sultan Abidin, mengingatkan bahwa kemunculan buaya di sekitar permukiman umumnya lebih dipengaruhi faktor ekologis.

Menurut dia, perubahan habitat, berkurangnya sumber makanan di habitat asal, hingga musim kawin dapat mendorong buaya berpindah ke aliran sungai yang dekat dengan aktivitas manusia.

“Kemunculan buaya ada banyak faktor, bisa juga karena lingkungannya yang terganggu, adanya penambangan pasir yang merusak hingga faktor lainnya,” kata Sultan Abidin, Selasa (14/7/2026).

Ia menilai masyarakat tidak seharusnya memandang kemunculan buaya semata-mata sebagai pertanda mistis.

Keselamatan warga tetap harus menjadi prioritas dengan membatasi aktivitas di lokasi kemunculan buaya serta segera melaporkannya kepada instansi terkait agar penanganan dilakukan secara tepat.

Di Bone, mitos dan kenyataan kini berjalan berdampingan. Di satu sisi, cerita leluhur tentang buaya masih terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Di sisi lain, keberadaan reptil predator itu tetap harus dipandang sebagai ancaman nyata yang memerlukan penanganan berbasis ilmu pengetahuan agar keselamatan masyarakat di sekitar Sungai Maspul tetap terjaga. (kar)

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Berita Bone serangan buaya Sungai Maspul teror buaya