Gempa Palu Terasa hingga Pinrang Sulsel, BMKG Catat Guncangan II-III MMI

SulawesiPos.com – Gempa magnitudo 6,7 yang berpusat di darat 42 kilometer tenggara Palu, Sulawesi Tengah, turut dirasakan hingga Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Selasa (16/6/2026), setelah gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif mengguncang wilayah Palu dan sekitarnya.

Berdasarkan laporan BMKG, guncangan di Pinrang tercatat pada skala intensitas II-III MMI. Pada skala ini, getaran umumnya dirasakan sebagian orang di dalam rumah dan dapat membuat benda ringan bergoyang.

Gempa utama terjadi pukul 11.27.45 Wita. Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter berada pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault.

Guncangan Terkuat di Palu dan Sigi

BMKG mencatat guncangan paling kuat dirasakan di Palu dengan skala VI-VII MMI. Sementara itu, Kabupaten Sigi merasakan guncangan pada skala V-VI MMI.

BACA JUGA:  21 Gempa Susulan Guncang Palu-Sigi Usai Gempa M6,7, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Getaran juga tercatat di sejumlah wilayah lain. Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, dan Pasangkayu merasakan guncangan pada skala III MMI.

Selain Pinrang, guncangan skala II-III MMI juga dirasakan di Parepare, Pohuwato, Boalemo, Gorontalo Utara, Kabupaten Gorontalo, dan Luwu Utara.

Meski guncangan terasa hingga sejumlah daerah di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo, BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan laporan yang dibagikan melalui grup Media Info BMKG, jumlah gempa susulan bertambah menjadi 21 kali hingga pukul 13.53 Wita, dengan magnitudo berkisar M5,1 hingga M2,9.

BMKG menyatakan akan terus memonitor perkembangan aktivitas gempa susulan, dampak gempa, serta menyampaikan informasi terbaru kepada pemangku kepentingan, media, dan masyarakat.

“Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” demikian imbauan BMKG.

Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. Warga diimbau memastikan kondisi rumah aman sebelum kembali masuk, terutama jika bangunan mengalami kerusakan yang dapat membahayakan kestabilan struktur.

BACA JUGA:  Peringatan Dini Hujan Lebat di Sulsel Sore Ini, Gowa-Bantaeng Waspada Angin Kencang!

SulawesiPos.com – Gempa magnitudo 6,7 yang berpusat di darat 42 kilometer tenggara Palu, Sulawesi Tengah, turut dirasakan hingga Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Selasa (16/6/2026), setelah gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif mengguncang wilayah Palu dan sekitarnya.

Berdasarkan laporan BMKG, guncangan di Pinrang tercatat pada skala intensitas II-III MMI. Pada skala ini, getaran umumnya dirasakan sebagian orang di dalam rumah dan dapat membuat benda ringan bergoyang.

Gempa utama terjadi pukul 11.27.45 Wita. Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter berada pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault.

Guncangan Terkuat di Palu dan Sigi

BMKG mencatat guncangan paling kuat dirasakan di Palu dengan skala VI-VII MMI. Sementara itu, Kabupaten Sigi merasakan guncangan pada skala V-VI MMI.

BACA JUGA:  Sakit Hati Dipicu Penolakan Rujuk, Pria di Pinrang Nekat Siram Istri Pakai Air Keras

Getaran juga tercatat di sejumlah wilayah lain. Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, dan Pasangkayu merasakan guncangan pada skala III MMI.

Selain Pinrang, guncangan skala II-III MMI juga dirasakan di Parepare, Pohuwato, Boalemo, Gorontalo Utara, Kabupaten Gorontalo, dan Luwu Utara.

Meski guncangan terasa hingga sejumlah daerah di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo, BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan laporan yang dibagikan melalui grup Media Info BMKG, jumlah gempa susulan bertambah menjadi 21 kali hingga pukul 13.53 Wita, dengan magnitudo berkisar M5,1 hingga M2,9.

BMKG menyatakan akan terus memonitor perkembangan aktivitas gempa susulan, dampak gempa, serta menyampaikan informasi terbaru kepada pemangku kepentingan, media, dan masyarakat.

“Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” demikian imbauan BMKG.

Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. Warga diimbau memastikan kondisi rumah aman sebelum kembali masuk, terutama jika bangunan mengalami kerusakan yang dapat membahayakan kestabilan struktur.

BACA JUGA:  Gempa M6,4 Guncang Simeulue Aceh, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru