SulawesiPos.com – Video seorang ibu menangis di samping jenazah anaknya, Athar, balita berusia dua tahun, viral di media sosial setelah pasien tersebut meninggal dunia di RSUD Syekh Yusuf Gowa, Sulawesi Selatan, pada Senin (15/6/2026), dan memicu sorotan publik terhadap proses penanganan medis di rumah sakit tersebut.
Peristiwa itu membuat layanan RSUD Syekh Yusuf Gowa ramai diperbincangkan warganet. Sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan pelayanan rumah sakit, sementara sebagian lainnya membagikan pengalaman mereka saat mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas tersebut.
Menanggapi sorotan publik, manajemen RSUD Syekh Yusuf Gowa memberikan penjelasan terkait kronologi penanganan Athar. Kepala Bidang Pelayanan RSUD Syekh Yusuf Gowa, Nur Wahyudi, mengatakan pasien tiba di Instalasi Gawat Darurat pada Jumat malam (12/6/2026), dalam kondisi yang sudah berat.
“Menurut penilaian tim dokter dan perawat, kondisi pasien memang sudah sangat berat. Dia datang dengan riwayat demam selama empat hari, disertai sesak napas berat dan kondisi tubuh yang menguning,” kata Nur Wahyudi.
Menurut pihak rumah sakit, pasien langsung mendapatkan penanganan darurat setelah tiba di IGD. Tim medis memberikan bantuan pernapasan, terapi cairan infus, obat-obatan, serta pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kondisi pasien secara menyeluruh.
Dokter spesialis anak juga disebut telah dilibatkan sejak awal proses penanganan. Dari hasil evaluasi medis, pasien dinilai membutuhkan layanan yang lebih lengkap dan intensif sehingga rumah sakit merencanakan rujukan ke fasilitas kesehatan lain di Makassar.
Rumah Sakit Sebut Pasien Datang dalam Kondisi Berat
RSUD Syekh Yusuf Gowa kemudian mengajukan rujukan ke tiga rumah sakit, yakni RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo, Rumah Sakit Islam Faisal, dan RSUD Labuang Baji. Proses rujukan dilakukan melalui Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi atau Sisrute.
“Pada mekanisme yang berlaku saat ini, rumah sakit pengirim harus menunggu konfirmasi dari rumah sakit tujuan. Kami tidak bisa langsung mengirim pasien tanpa persetujuan dari rumah sakit penerima,” ujarnya.
Selama menunggu respons dari rumah sakit tujuan, tim medis disebut tetap berupaya menstabilkan kondisi Athar. Namun, kondisi balita tersebut terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia sebelum proses rujukan terlaksana.
Terkait dugaan kelalaian yang muncul setelah video tersebut viral, pihak rumah sakit membantahnya. RSUD Syekh Yusuf Gowa menegaskan seluruh tindakan medis telah diberikan sesuai standar operasional prosedur.
“Menurut kami, tidak ada indikasi kelalaian. Semua prosedur penanganan dan pelayanan sudah diberikan secara maksimal sesuai kondisi pasien,” katanya.
Meski demikian, manajemen rumah sakit menyatakan tetap akan melakukan evaluasi internal. Evaluasi itu mencakup waktu respons pelayanan, koordinasi antartenaga kesehatan, hingga mekanisme rujukan dengan rumah sakit tujuan.
“Kami tetap akan melakukan evaluasi bersama seluruh pihak yang terlibat. Kami ingin melihat kembali respons time pelayanan dan memperkuat koordinasi rujukan agar pelayanan kepada masyarakat semakin baik,” ujar Nur Wahyudi.
Kasus meninggalnya Athar kini menjadi perhatian publik, terutama terkait pelayanan rumah sakit dan sistem rujukan pasien di daerah. RSUD Syekh Yusuf Gowa menyatakan berkomitmen melakukan perbaikan agar pelayanan kepada masyarakat semakin baik.


