Ekonomi Sulsel Tumbuh 6,88 Persen, Guru Besar Unhas Ungkap Tantangan di Balik Pertumbuhan yang Tinggi

SulawesiPos.com – Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan I 2026 dinilai menjadi sinyal positif di tengah situasi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian.

Capaian pertumbuhan sebesar 6,88 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) menunjukkan aktivitas ekonomi di daerah ini masih bergerak kuat dan stabil.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. H. Marsuki DEA menilai angka tersebut memperlihatkan posisi Sulsel yang tetap strategis sebagai salah satu penggerak ekonomi di kawasan timur Indonesia.

Menurutnya, capaian ekonomi Sulsel mulai menunjukkan perbaikan dari sisi kualitas ekonomi masyarakat.

“Ini memberikan ruang optimisme bagi pelaku ekonomi, konsumen, dan dunia usaha, terutama di sektor jasa,” katanya dalam keterangannya kepada SulawesiPos.com, Jumat (8/5/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp191,28 triliun.

Sementara PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp104,07 triliun.

BACA JUGA: 
Ekonomi Sulsel Tumbuh 6,88 Persen pada Awal 2026, Pertanian hingga Transportasi Jadi Penopang

Ia menyoroti adanya perkembangan positif pada struktur ketenagakerjaan di Sulsel.

Jumlah penduduk bekerja tercatat bertambah sekitar 170,90 ribu orang, sedangkan proporsi pekerja penuh waktu meningkat menjadi 62,49 persen pada triwulan I tahun ini.

Prof Marsuki menilai kondisi tersebut menandakan pertumbuhan ekonomi mulai memberi dampak terhadap stabilitas pekerjaan masyarakat.

“Ekonomi tidak hanya tumbuh secara agregat, tetapi juga mulai menciptakan lapangan kerja yang lebih stabil bagi masyarakat,” jelasnya.

Dari sisi sektor penggerak, pertumbuhan ekonomi Sulsel banyak ditopang oleh lapangan usaha administrasi pemerintahan dengan kontribusi 20,56 persen.

Selain itu, sektor transportasi tumbuh 11,43 persen dan sektor akomodasi serta makan minum sebesar 10,67 persen.

“Sektor-sektor ini menunjukkan bahwa mobilitas dan konsumsi masyarakat masih merupakan sektor utama,” ujar Prof Marsuki.

Di sisi lain, ia juga menilai program hilirisasi mulai memperlihatkan dampak terhadap penguatan rantai pasok lokal, termasuk melalui proyek perunggasan terintegrasi yang mulai berkembang di Sulsel.

BACA JUGA: 
BPS Sebut Angka Kemiskinan Sulsel Capai Titik Terendah dalam Enam Tahun Terakhir

Meski demikian, Prof Marsuki mengingatkan tantangan terbesar ke depan adalah menjaga keberlanjutan program hilirisasi agar ekonomi daerah tidak terus bergantung pada sektor konsumsi dan jasa semata.

Ia juga menekankan pentingnya pemerataan manfaat pertumbuhan ekonomi hingga ke wilayah pelosok desa dan kelurahan.

“Pertumbuhan yang tinggi harus dibarengi dengan pemerataan dampak dan manfaatnya, sehingga angka pertumbuhan 6,88% tersebut benar-benar bisa menjadi indikator meningkatnya kesejahteraan hidup masyarakat kebanyakan secara merata hingga ke pelosok wilayah, kabupaten, utamanya di kelurahan, dan desa,” ungkapnya.

Ia menambahkan Sulsel memiliki modal besar untuk mempertahankan tren pertumbuhan tersebut.

Namun, menurutnya, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, otoritas fiskal, sektor keuangan, dan seluruh pemangku kepentingan agar pertumbuhan ekonomi tetap inklusif dan berkelanjutan.

SulawesiPos.com – Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan I 2026 dinilai menjadi sinyal positif di tengah situasi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian.

Capaian pertumbuhan sebesar 6,88 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) menunjukkan aktivitas ekonomi di daerah ini masih bergerak kuat dan stabil.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. H. Marsuki DEA menilai angka tersebut memperlihatkan posisi Sulsel yang tetap strategis sebagai salah satu penggerak ekonomi di kawasan timur Indonesia.

Menurutnya, capaian ekonomi Sulsel mulai menunjukkan perbaikan dari sisi kualitas ekonomi masyarakat.

“Ini memberikan ruang optimisme bagi pelaku ekonomi, konsumen, dan dunia usaha, terutama di sektor jasa,” katanya dalam keterangannya kepada SulawesiPos.com, Jumat (8/5/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp191,28 triliun.

Sementara PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp104,07 triliun.

BACA JUGA: 
BPS Sebut Angka Kemiskinan Sulsel Capai Titik Terendah dalam Enam Tahun Terakhir

Ia menyoroti adanya perkembangan positif pada struktur ketenagakerjaan di Sulsel.

Jumlah penduduk bekerja tercatat bertambah sekitar 170,90 ribu orang, sedangkan proporsi pekerja penuh waktu meningkat menjadi 62,49 persen pada triwulan I tahun ini.

Prof Marsuki menilai kondisi tersebut menandakan pertumbuhan ekonomi mulai memberi dampak terhadap stabilitas pekerjaan masyarakat.

“Ekonomi tidak hanya tumbuh secara agregat, tetapi juga mulai menciptakan lapangan kerja yang lebih stabil bagi masyarakat,” jelasnya.

Dari sisi sektor penggerak, pertumbuhan ekonomi Sulsel banyak ditopang oleh lapangan usaha administrasi pemerintahan dengan kontribusi 20,56 persen.

Selain itu, sektor transportasi tumbuh 11,43 persen dan sektor akomodasi serta makan minum sebesar 10,67 persen.

“Sektor-sektor ini menunjukkan bahwa mobilitas dan konsumsi masyarakat masih merupakan sektor utama,” ujar Prof Marsuki.

Di sisi lain, ia juga menilai program hilirisasi mulai memperlihatkan dampak terhadap penguatan rantai pasok lokal, termasuk melalui proyek perunggasan terintegrasi yang mulai berkembang di Sulsel.

BACA JUGA: 
Memaknai dan Menyikapi Pertumbuhan Ekonomi Sulsel yang Impresif

Meski demikian, Prof Marsuki mengingatkan tantangan terbesar ke depan adalah menjaga keberlanjutan program hilirisasi agar ekonomi daerah tidak terus bergantung pada sektor konsumsi dan jasa semata.

Ia juga menekankan pentingnya pemerataan manfaat pertumbuhan ekonomi hingga ke wilayah pelosok desa dan kelurahan.

“Pertumbuhan yang tinggi harus dibarengi dengan pemerataan dampak dan manfaatnya, sehingga angka pertumbuhan 6,88% tersebut benar-benar bisa menjadi indikator meningkatnya kesejahteraan hidup masyarakat kebanyakan secara merata hingga ke pelosok wilayah, kabupaten, utamanya di kelurahan, dan desa,” ungkapnya.

Ia menambahkan Sulsel memiliki modal besar untuk mempertahankan tren pertumbuhan tersebut.

Namun, menurutnya, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, otoritas fiskal, sektor keuangan, dan seluruh pemangku kepentingan agar pertumbuhan ekonomi tetap inklusif dan berkelanjutan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru