SulawesiPos.com – Santun dan bersahaja, demikian sosok Haji Faisal Ibrahim Surur, Lc., M.Si.
Pengusaha yang sukses merintis usaha travel. Dari bisnis itu, menjadi jalan baginya meraup banyak pahala.
Haji Faisal Ibrahim lahir di sebuah kampung di ujung Utara Bone, tepatnya di Kelurahan Pompanua, Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Rumahnya, tak jauh dari bantaran Sungai Walanae, sungai yang dulunya menjadi jalur utama perdagangan dan saksi peradaban Islam di Pompanua Ajangale.
Faisal Ibrahim dan saudaranya lahir dan tumbuh dari darah ulama. Ia merupakan cucu dari ulama penyebar Islam di Pompanua, Syech Abdul Majid dan Imam Pompanua, KH Ahmad Surur.
Kakeknya, AGH Yusuf Surur juga pernah menjadi Sekretaris Jenderal Pusat As’Adiyah.
Masa kecilnya jauh dari kemewahan. Bersama kakaknya, ia mengantar es lilin, asinan, dan makanan ringan di sekolah. Pengalaman itu yang membentuk mentalnya.
Haji Faisal Ibrahim belajar berdagang dari kakeknya yang seorang pedagang kelontong di pasar. Waktu libur, ia manfaatkan untuk membantu kakeknya di pasar.
“Kalau waktu libur Sabtu atau Minggu pas hari pasar saya menemani beliau. Saya belajar berdagang dari beliau sejak kecil,” kenangnya.
Kakeknya, selalu menanamkan pesan sederhana, namun mendalam, jauhi rezeki yang haram. Nilai itu menjadi fondasi moral yang membentuk karakter Faisal sejak kecil.
Tahun 1989 menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia merantau ke Makassar untuk menghafal Al-Qur’an.
Impiannya melanjutkan studi ke Mesir akhirnya terwujud setelah ibunya rela menjual gelang emas demi membiayai keberangkatannya.
Di Universitas Al-Azhar Kairo, Faisal Ibrahim tidak hanya menempuh pendidikan agama. Ia juga belajar memahami realitas dunia Islam yang lebih luas.
Selama lima tahun bekerja di sebuah perusahaan travel umrah di Mesir, ia mendapatkan pengalaman yang kelak menjadi bekal penting dalam membangun usahanya sendiri.
Sekembalinya ke Indonesia, ia mendirikan PT Saudi Patria Wisata. Perusahaan ini kemudian berkembang menjadi salah satu penyelenggara perjalanan ibadah yang diperhitungkan di Indonesia.
Namun, bagi Faisal, keberhasilan bisnis bukanlah tujuan akhir. Ia justru melihatnya sebagai sarana untuk berbagi manfaat.
Keuntungan yang diperoleh dari usaha travelnya kemudian ia gunakan untuk mendirikan Yayasan Haji Ahmad Surur (YHAS).
Ia juga membangun pondok tahfidz yang kemudian sudah mencetak puluhan penghafal Al-Qur’an.
Kedermawanan Haji Faisal Ibrahim juga terlihat, melalui Surur Foundation.
Lewat lembaga nirlaba ini, Haji Faisal Ibrahim memperluas kebermanfaatan di tengah masyarakat dengan membangun masjid di Malino, menyumbang Aula utama di Ponpes As’adiyah Sengkang, memfasilitasi 100 beasiswa bagi mahasiswa UIN Alauddin dan UIM, serta memberangkatkan umrah imam masjid.
Kepeduliannya terhadap masyarakat tampak dari berbagai kegiatan sosial yang dilakukan, terutama di kampung halamannya.
Salah satunya adalah pembangunan jalan beton sepanjang 350 meter di Pompanua, Sulawesi Selatan.
Baru-baru ini, ia kembali merintis pembangunan jalan beton lingkar Jalan Bahagia sepanjang 340 meter lebih.
Jalan yang bernilai miliaran rupiah itu dibangun secara swadaya melalui Yayasan Haji Ahmad Surur.
Bagi warga setempat, jalan tersebut bukan sekadar infrastruktur. Ia membuka akses ekonomi, mempermudah mobilitas masyarakat, dan memberi harapan bagi daerah yang selama ini kerap terdampak banjir.
Ketika ditanya tentang motivasinya, Faisal menjawab dengan kalimat yang sederhana: “Khairunnas anfau linnas”. Artinya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.
Faisal Ibrahim membangun usaha, tetapi tidak berhenti pada keuntungan semata. Ia mengembangkan jaringan perjalanan ibadah, tetapi menjadikannya sebagai jalan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat.
Pilihan hidup itu kemudian melahirkan sebuah gagasan menarik: “One Travel One Pesantren”.
Sekretaris Jenderal DPP ASPHURI, H Mulya Rahayu Rachmatullah LC MA menyebut gagasan ini sejalan dengan misi besar organisasi para alumni Al-Azhar yang bergerak di bidang penyelenggaraan perjalanan ibadah.
Bagi ASPHURI, travel bukan hanya lembaga bisnis, melainkan juga medium pendidikan.
Di sinilah program tersebut menemukan relevansinya. Industri perjalanan ibadah di Indonesia berkembang pesat. Namun pertanyaannya, apakah pertumbuhan itu juga membawa manfaat lebih luas bagi penguatan umat?
Faisal Ibrahim menjawabnya dengan pendekatan yang berbeda. Ia melihat travel sebagai bagian dari ekosistem dakwah dan pendidikan.
Dari sini lahir gagasan bahwa setiap lembaga perjalanan ibadah wajib berkontrubusi langsung untuk umat. (kar)

