Overview
SulawesiPos.com – Seorang pendaki asal Kota Makassar, Ardi Firmansyah St (40), dilaporkan meninggal dunia saat melakukan pendakian di Gunung Bulu Bialo, Kabupaten Jeneponto, yang diduga dipicu gangguan kesehatan pada jantung.
Berdasarkan catatan registrasi di basecamp pendakian, Ardi tercatat sebagai warga BTN Minasa Upa Blok M 14 Nomor 18, Kota Makassar.
Kepala Desa Ujung Bulu, Mansyur, menyampaikan bahwa korban melakukan pendakian di kawasan Gunung Bulu Bialo yang berada di Agrowisata Bontolojong, Desa Ujung Bulu, Kecamatan Rumbia, pada Sabtu (7/2/2026).
Korban diketahui mendaki bersama dua rekannya, yakni Suryatman dan Arman, dan tiba di lokasi basecamp sekitar pukul 10.20 Wita.
Setelah menjalani pemeriksaan perlengkapan serta proses registrasi, ketiganya memulai pendakian pada pukul 10.40 Wita.
Dalam perjalanan menuju puncak, tepatnya saat berada di Pos 4 jalur pendakian, Ardi tiba-tiba kehilangan kesadaran dan dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Korban diduga mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan penyakit jantung saat melakukan aktivitas pendakian.
“Kata temannya, (penyebabnya) jantung. Kejadiannya saat mendaki, posisi almarhum baru sampai di Pos 4,” ujar Mansyur, Sabtu (7/2/2026) malam.
Mansyur menjelaskan bahwa jalur pendakian Gunung Bulu Bialo umumnya memiliki lima pos sebelum mencapai puncak, namun korban sudah ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri sebelum pendakian selesai.
Pihak pemerintah desa bersama pengelola basecamp kemudian melakukan penanganan awal serta membantu proses evakuasi korban, termasuk pengamanan barang-barang pribadi hingga pemulangan jenazah.
Jenazah Ardi selanjutnya dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Bagi Mansyur, setiap pendaki yang datang ke kawasan wisata alam tersebut bukan sekadar pengunjung, melainkan bagian dari keluarga besar pecinta alam di wilayah Bumi Turatea.
“Kami keluarga besar Agrowisata Bonto Lojong menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya saudara kami, Ardi Firmansyah,” ucap Mansyur.
Ia menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi duka bersama bagi komunitas pendaki serta pengelola wisata alam di Kabupaten Jeneponto.
Menurutnya, kejadian tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapan fisik, kewaspadaan, serta aspek keselamatan dalam setiap aktivitas pendakian di alam terbuka.
“Peristiwa ini menjadi duka mendalam bagi kami semua. Ini adalah pengingat akan pentingnya kewaspadaan dalam setiap aktivitas di alam. Atas nama pengelola dan seluruh keluarga besar Agrowisata Bonto Lojong, kami turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya,” imbuhnya.