Overview
SulawesiPos.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone melakukan pengecatan ulang Patung Arung Palakka di Kompleks Lapangan Merdeka Kota Watampone.
Pengecatan ini dilakukan setelah 15 tahun patung tersebut tidak tersentuh perawatan.
Pantauan di lapangan, terdapat tiga pekerja yang menangani pengecatan, satu membersihkan bagian kepala, satu fokus pada bagian betis, dan satunya lagi sebagai penyapu.
Pengecatan dilakukan atas perintah Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman.
Kepala DLH Bone, Dray Vibrianto, menyebut pengecatan ini bagian dari proyek revitalisasi Taman Arung Palakka, kawasan hijau di depan Rumah Jabatan Bupati.
“Pengecatan tidak langsung jadi. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, mulai dari cat dasar, rekonstruksi warna hitam, hingga lapisan berikutnya dengan sistem layer. Totalnya bisa mencapai empat sampai lima lapisan,” jelas Dray.
Patung Arung Palakka awalnya dibuat oleh pematung nasional Dicky Chandra, yang juga mengajar di Universitas Negeri Makassar juga sebagai dosen terbang di beberapa universitas seni di Indonesia, termasuk ASRI Jogjakarta.
Dicky yang memiliki keturunan Belanda dan campuran beberapa suku dari Jawa, Makassar, Manado, dan Bugis Bone, mendapat petunjuk pembuatan patung melalui mimpi.
Sejarah proyek patung Arung Pallakka dimuat pemerhati Budaya Bugis A Amir Wija To Bone pada laman Facebook-nya.
Dalam tulisannya tersebut, pengurus KKSS Bontang, Kalimantan Timur ini, menulis sekelumit para pekerja patung ini.
“Dicky Chandra mengaku mendapat petunjuk lewat mimpi, sebelum membuat patung ini,” tulisnya.
Dalam proses pembuatan, Dicky dibantu oleh sahabatnya yang juga seniman lokal Bone, Yudding, atau lebih akrab disapa Dien Seni.
Dien Seni pula yang mengenalkan Dicky kepada Bupati Bone saat itu, Andi Sjamsoel Alam, sekitar tahun 1990.
Sebelum proyek dibangun, Bupati Bone dan tokoh masyarakat menggelar Seminar Arung Palakka Internasional pada November 1990 yang dihadiri oleh para seniman dan budayawan, baik lokal maupun internasional.
“Setelah seminar terlaksana selama tiga hari, pada awal tahun 1991 dibangulah landasan patung Arung Palakka oleh Bapak Andi Ikhlas Siraju, Ketua Gapensi Bone dan anggota DPRD Bone. Setelah selesai landasannya, barulah dibangun Patung Arung Palakka,” sambungnya.
Dicky Chandra dipercaya sebagai desainer pada pembuatan patung ini. Ia membuat dasarnya dari bahan Fiberglass di Makassar secara terpotong-potong, mulai dari kaki sampai lutut, lutut sampai selangkang, pantat sampai pundak, leher sampai kepala, dan tombaknya, lalu diangkut dengan truk menuju Bone.
Dicky Chandra dibantu tiga orang mahasiswanya, salah satunya Husain (Uceng), mahasiswa asal Jalan Bajoe, Watampone.
Pengerjaan memakan waktu hampir empat bulan, dengan tim menginap di Sekretariat Sanggar Saoraja, sekitar 50 meter dari Taman Arung Palakka. (kar)