Overview
SulawesiPos.com – Di jantung Kabupaten Sidenreng Rappang, sebuah paradigma baru tentang pengelolaan limbah organik lahir sebagai jawaban atas tantangan krisis ekologi dan stagnasi ekonomi pedesaan.
Langkah militan dalam mengonversi sampah menjadi pundi-pundi rupiah ini dimotori oleh Kelompok KKN Tematik 115 Universitas Hasanuddin melalui integrasi bioteknologi serangga Hermetia illucens atau yang lebih dikenal sebagai Maggot Black Soldier Fly (BSF).
Inovasi ini bukan sekadar tren musiman, melainkan sebuah rekayasa sosial berbasis sains yang mampu mereduksi sampah organik hingga 80% sekaligus menghasilkan protein tinggi untuk pakan ternak.
“Kami datang tidak hanya membawa bibit pohon, tetapi membawa misi kedaulatan ekonomi melalui sistem circular economy yang mengubah bau sampah menjadi aroma kemakmuran,” tegas Fifi Fitriana, Koordinator Desa KKN 115 Unhas dengan nada optimis.
Tepat pada Sabtu, 31 Januari 2026, momentum transformasi ini mencapai puncaknya saat puluhan warga berkumpul di Kantor Desa Anabannae untuk membedah tuntas mekanika budidaya maggot bersama pakar kelautan dan perikanan, Muhammad Isra.
Data menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik hasil residu maggot (frass) dapat meningkatkan porositas tanah dan produktivitas tanaman hingga 30% dibandingkan penggunaan bahan kimia sintetis secara terus-menerus.
Pembagian bibit pohon secara masif yang dilakukan dalam acara tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap degradasi lahan, sekaligus investasi karbon jangka panjang bagi generasi mendatang di Kecamatan Pituriawa.
Kepala Desa Anabannae, Muh. Yunus, berdiri dengan bangga menyerahkan bibit tersebut sebagai simbolis dimulainya era desa mandiri sampah yang mengedepankan literasi ilmiah bagi masyarakatnya.
“Jujur saja, awalnya kami jijik melihat ulat, tapi setelah tahu ini bisa jadi uang dan pupuk mahal, kami siap menyulap halaman rumah menjadi pabrik protein,” ujar Daeng Mapuji, salah satu warga yang hadir dengan mata berbinar penuh harapan.
Secara teknis, budidaya maggot BSF merupakan solusi paling efisien secara termodinamika karena larva ini tidak membawa vektor penyakit dan memiliki siklus hidup yang sangat cepat untuk dipanen secara komersial.
Dengan antusiasme yang membara, Desa Anabannae kini bersiap menjadi mercusuar pelestarian alam di Kabupaten Sidrap, membuktikan bahwa sinergi sains dan kesadaran ekologis mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat sekaligus mengangkat martabat ekonomi masyarakat perdesaan. (ali)