Overview
Kabupaten Jeneponto memiliki potensi besar di sektor garam, perikanan, dan sumber daya alam, namun masih menghadapi tantangan pemerataan pembangunan dan pelayanan publik.
Luas wilayah, kondisi geografis, serta masih adanya desa tertinggal dinilai memengaruhi efektivitas layanan pemerintahan di sejumlah kecamatan.
Kondisi tersebut mendorong kembali menguatnya wacana pemekaran wilayah sebagai upaya mendekatkan pelayanan dan mempercepat pembangunan daerah.
SulawesiPos.com – Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Selatan dengan pusat pemerintahan berada di Bontosunggu.
Pada tahun ini, Jeneponto genap berusia 163 tahun, mencerminkan perjalanan panjang sejarah pemerintahan, sosial, dan budaya masyarakatnya.
Secara administratif, Kabupaten Jeneponto terbagi ke dalam 11 kecamatan, yakni Bangkala, Bangkala Barat, Binamu, Turatea, Batang, Arungkeke, Tarowang, Tamalatea, Bontoramba, Kelara, dan Rumbia.
Dengan cakupan 113 desa dan kelurahan yang terdiri atas 82 desa dan 31 kelurahan. Dari jumlah tersebut, masih terdapat 50 desa/kelurahan berstatus tertinggal, sementara 63 desa/kelurahan lainnya telah keluar dari kategori tertinggal.
Kabupaten Jeneponto memiliki luas wilayah sekitar 749,79 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 423 ribu jiwa pada tahun 2024.
Secara geografis, wilayah ini terletak pada koordinat 5°23’12”–5°42’1,2” Lintang Selatan dan 119°29’12”–119°56’44,9” Bujur Timur, serta berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Takalar di sebelah utara, Kabupaten Bantaeng di sebelah timur, Kabupaten Takalar di sebelah barat, dan Laut Flores di bagian selatan.
Dalam kehidupan sosial dan budaya, mayoritas masyarakat Jeneponto menggunakan Bahasa Makassar sebagai bahasa sehari-hari, sementara Bahasa Indonesia digunakan dalam urusan pemerintahan, pendidikan, dan aktivitas formal lainnya.
Nilai-nilai budaya lokal masih kuat dan mewarnai kehidupan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor agraris dan pesisir.
Jeneponto dikenal luas sebagai sentra produksi garam nasional dengan hamparan tambak garam di wilayah pesisir.
Produksi garam rakyat dari daerah ini tidak hanya mencukupi kebutuhan Sulawesi Selatan, tetapi juga menyuplai kawasan timur Indonesia.
Selain itu, Jeneponto memiliki potensi besar di sektor perikanan, khususnya sebagai penghasil nener dan benur ikan bandeng yang menjadi komoditas penting bagi pengembangan budidaya tambak di Sulawesi Selatan.
Potensi lain seperti pertanian, peternakan, dan sumber daya kelautan juga terus dikembangkan.
Meski memiliki sumber daya alam dan potensi ekonomi yang besar, Kabupaten Jeneponto masih menghadapi tantangan pembangunan, terutama terkait pemerataan pelayanan publik, keterbatasan infrastruktur, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Luas wilayah, kondisi geografis, serta jarak tempuh antarwilayah yang relatif jauh ke pusat pemerintahan dinilai memengaruhi efektivitas layanan.
Kondisi tersebut mendorong munculnya wacana pemekaran wilayah sebagai salah satu alternatif kebijakan untuk mendekatkan pelayanan publik dan mempercepat pemerataan pembangunan di Jeneponto.
Ketua Umum HMI Cabang Jeneponto, Gunawan, menyebut terbentuknya forum pemekaran daerah sebagai sinyal positif bagi masyarakat.
“Jeneponto masih menghadapi persoalan serius, baik dari sisi jumlah penduduk miskin maupun capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Ini menunjukkan perlunya terobosan kebijakan,” tegas Gunawan dikutip dari BatasKota.id Senin (26/1/2026).