Overview
SulawesiPos.com – Operasi pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT) di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, akhirnya berjalan lebih optimal setelah diterapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan penyemaian hingga 1 ton bahan semai.
Langkah OMC tersebut terbukti krusial dalam menekan potensi cuaca ekstrem hingga sekitar 30 persen. Kondisi atmosfer berangsur membaik, hujan berkurang, dan kabut mulai terurai, sehingga helikopter Basarnas dapat menjangkau titik-titik evakuasi yang sebelumnya sulit diakses akibat medan terjal dan cuaca ekstrem.
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI (Purn) Mohammad Syafii, menegaskan bahwa modifikasi cuaca memberi dampak signifikan terhadap kelancaran operasi SAR, terutama untuk mendukung pergerakan udara di kawasan pegunungan Bulusaraung.
“Alhamdulillah, operasi modifikasi cuaca sangat berpengaruh. Ini membantu kita mengurangi sekitar 30 persen dari prediksi kondisi cuaca sehingga helikopter bisa kita terbangkan untuk evakuasi,” ujar Syafii di Kantor Basarnas Kelas A Makassar, Kamis (22/1/2026).
Kepala BPBD Sulawesi Selatan, Amson Padolo, menjelaskan bahwa OMC dilaksanakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan dukungan TNI Angkatan Udara menggunakan pesawat Cessna.
Dalam setiap sortie, sekitar satu ton bahan kalsium oksida (CaO) disemai ke awan target.
Menyadur RRI, bahan ini bersifat higroskopis dan berfungsi sebagai inti kondensasi untuk mempercepat proses pembentukan butiran hujan.
Secara teknis BMKG terlebih dahulu mengidentifikasi awan potensial serta arah dan kecepatan angin.
Pesawat kemudian masuk ke awan pada ketinggian sekitar 1.500 hingga 4.200 meter di atas permukaan laut, lalu menaburkan bahan semai.
Proses tersebut membuat hujan turun lebih cepat di area yang telah ditentukan, sehingga kandungan awan hujan di sekitar lokasi operasi berkurang.
Dampaknya, intensitas hujan dan kabut di wilayah pencarian dapat ditekan dalam kurun waktu 30 hingga 60 menit setelah penyemaian.
“Dengan cara ini, hujan tidak jatuh di lokasi operasi. Ini sangat membantu membuka visibilitas dan jalur udara bagi helikopter SAR,” jelas Amson.
Amson mengungkapkan, pelaksanaan OMC merupakan arahan langsung dari Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman setelah meninjau langsung kendala evakuasi di lapangan.
“Pak Gubernur bersama Menteri Perhubungan sebelumnya datang ke posko dan melihat langsung betapa cuaca dan medan menjadi hambatan utama evakuasi,” katanya.
Menurutnya, OMC yang dilaksanakan sejak Selasa (20/1) itu terbukti efektif dan hasilnya langsung dirasakan oleh tim SAR gabungan di lapangan.
Membaiknya kondisi cuaca berkat OMC membuat proses evakuasi dapat dipercepat hingga akhirnya seluruh korban pesawat berhasil ditemukan pada hari ketujuh operasi.
Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf. Dody Priyo Hadi mengungkapkan, dua temuan terakhir dilaporkan beruntun pada Jumat pagi (23/1/2026).
“Alhamdulillah, hari ketujuh ini kita bisa menemukan seluruhnya, baik benda penting yang ada di pesawat maupun seluruh korban. Dan hari ini kita gunakan sandi ‘sapu bersih’,” ujar Dody.
Dengan ditemukannya seluruh korban dan benda penting di dalam pesawat, operasi pencarian resmi ditutup. Saat ini, penanganan berlanjut pada tahap evakuasi akhir serta proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).
Keberhasilan operasi ini menegaskan peran penting modifikasi cuaca sebagai faktor kunci dalam mendukung operasi SAR di medan ekstrem, sekaligus menjadi penentu percepatan penuntasan pencarian korban kecelakaan pesawat di Gunung Bulusaraung.