Circuit of the Americas atau COTA, lokasi balapan Moto3 yang diikuti Veda Pratama.
SulawesiPos.com – Pembalap belia Indonesia Veda Ega Pratama kesulitan menaklukkan Sirkuit Amerika (COTA, Circuit of the Americas) di Austin, Texas, yang menjadi tempat balapan Moto3 Amerika. Balapan akan digelar hanya dalam 14 lap karena lintasan sirkuit panjangnya 5,5 kilometer sekali putaran.
Pada sesi Free Practice 1, Veda Pratama hanya menempati posisi 15 dengan lap time 02:15.953, terpaut 1.744 detik dari Alvaro Carpe yang mencatatkan lap time tercepat.
Pada sesi Practice, Veda Pratama menempati posisi 14 dengan mencatatkan waktu 02:14.484, yang artinya terpaut hanya terpaut 0.727 detik dari Maximo Quiles yang mencatatkan lap time tercepat. Namun demikian, terlihat progres yang semakin membaik.
Meski hasil Practice hanya di posisi 14, namun itu sudah cukup bagi Veda untuk lolos langsung ke sesi Q2 dan bertarung di sesi Kualifikasi, yang akan memperebutkan posisi start terbaik.
Sesi Kualifikasi akan digelar pada Minggu (29/3/2026) dini hari pukul 01.00 WIB.
Sulitnya Sirkuit Amerika di Austin, Texas, itu diakui sendiri oleh Veda Pratama.
Dalam karier balapnya, ini kali pertama bagi Veda menjajal lintasan COTA.
Sebelumnya, dia memang pernah menjajalnya, tapi hanya melalui game atau permainan balap.
“Dari layout sirkuitnya, memang sulit. Saya juga sempat main game MotoGP, susah. Sig-zag gitu. Dan saya nonton race tahun kemarin, sejak kualifikasi banyak yang jatuh,” ujar Veda.
Tak hanya mengandalkan permainan Game MotoGP, Veda juga bertanya ke rider lain.
“Mereka bilang sirkuitnya banyak bump-nya. Semoga saja saya punya feeling bagus sehingga bisa meraih hasil maksimal,” kata Veda.
Pembalap Indoneasia yang berlaga di Moto3, Mario Aji, juga mengungkapkan bahwa COTA memang sulit ditaklukkan, terutama bagi pembalap yang baru pertama kali menjajalnya.
“Karakter sirkuit di COTA salah satu termasuk karakter sirkuit yang paling susah untuk adaptasi, terutama untuk pembalap baru,” ujar Mario Aji.
Pada tahun pertama Mario Aji di Moto3, yakni pada 2021, dia juga sedikit kesulitan untuk adaptasi. Selain karena jarak sirkuit yang panjang, lebar sirkuit juga cenderung lebih dari sirkuit lainnya.
“Tapi, sekali menemukan ritme atau menemukan poin-poin yang tricky yang harus dihindari, saya rasa semua pembalap bisa cepat di sana. Mungkin perlu waktu saja untuk adaptasi,” kata Mario Aji.