Overview
SulawesiPos.com – Pada malam musim dingin di awal Februari, San Siro akan tampil dengan wajah yang sama sekali berbeda.
Stadion legendaris yang identik dengan AC Milan dan Inter itu disulap menjadi panggung Olimpiade, lengkap dengan tata cahaya futuristik, proyeksi digital raksasa, serta koreografi massal yang menarasikan perjalanan Italia dari peradaban klasik hingga inovasi modern.
Tema Armonia bukan sekadar slogan.
Ia menjadi benang merah yang menghubungkan kota metropolitan Milan dengan desa-desa pegunungan Alpen, tempat atlet-atlet dunia mempertaruhkan segalanya di lintasan es dan salju.
Meski pembukaan resmi digelar pada 6 Februari, kompetisi sudah dimulai sejak 4 Februari 2026.
Cabang Curling dan Hoki Es Putri lebih dulu memainkan babak kualifikasi, menghadirkan paradoks khas Olimpiade: saat sorotan kamera belum maksimal, drama olahraga sudah berjalan.
Di arena es, tak ada gemerlap seremoni yang ada hanya fokus, ketepatan, dan tekanan yang sama besarnya dengan final.
Milan menjadi pusat administrasi sekaligus rumah bagi cabang olahraga es seperti Figure Skating, Short Track Speed Skating dan Hoki Es.
Di kota ini, keindahan gerak dan kecepatan ekstrem bertemu di arena indoor modern.
Cortina kembali menegaskan reputasinya sebagai destinasi Olimpiade klasik.
Di sinilah digelar: Ski Alpen(Putri), Bobsleigh, Skeleton dan Luge.
Lintasan-lintasan ini menuntut keberanian mutlak, kesalahan sepersekian detik bisa berakibat fatal.
Wilayah ini menjadi panggung Snowboarding dan Ski Freestyle.
Valtellina menghadirkan wajah Olimpiade yang lebih ekspresif—gaya, trik, dan eksplorasi batas kemampuan manusia.
Di kawasan ini dipertandingkan Ski Lintas Alam, Lompat Ski dan Kombinasi Nordik.
Inilah cabang yang menguji daya tahan, teknik, dan strategi secara bersamaan.
Setelah lebih dari dua pekan kompetisi, kisah Olimpiade akan ditutup di Verona Olympic Arena pada 22 Februari 2026.
Kota bersejarah yang dikenal lewat kisah Romeo dan Juliet ini akan menjadi saksi akhir perjalanan ribuan atlet dari seluruh dunia.
Medali telah dibagikan, rekor mungkin terpecahkan, namun yang tertinggal adalah cerita—tentang dingin, ketinggian, tekanan, dan harmoni.
Milan–Cortina 2026 bukan hanya tentang olahraga musim dingin.
Ia adalah etalase bagaimana sebuah negara menyatukan masa lalu dan masa depan, kota dan gunung, teknologi dan tradisi.
Italia tak sekadar menjadi tuan rumah.
Ia menjadi narator, panggung, dan jiwa dari Olimpiade Musim Dingin yang berpotensi dikenang sebagai salah satu edisi paling berkarakter dalam sejarah.