Legal Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) Mohammad Agus Riza Hufaida dalam forum Water Break PSSI Pers di Kantor I.League, Jakarta, Senin (31/8/2026). dok/bolaskorcom
SulawesiPos.com – Persoalan tunggakan gaji kembali menempatkan PSM Makassar dalam sorotan menjelang bergulirnya Super League 2026/2027.
Di tengah tuntutan agar kompetisi Indonesia semakin profesional, PSM disebut masih menjadi satu-satunya klub kasta tertinggi yang memiliki kewajiban pembayaran gaji pemain.
Data tersebut disampaikan Legal Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) Mohammad Agus Riza Hufaida dalam forum Water Break PSSI Pers di Kantor I.League, Jakarta, Senin (31/8/2026).
APPI mencatat terdapat 28 klub dari berbagai kasta, mulai Super League hingga Liga 4, yang masih memiliki persoalan pembayaran hak pemain.
Totalnya mencapai 303 pemain dengan nilai tunggakan sekitar Rp14,8 miliar.
“Total kasus yang ada di kita, baik dari laporan maupun sampai dengan putusan NDRC tapi belum dilaksanakan, itu total ada 28 klub. Ya, dengan total 303 pemain. Itu dari Liga 1 sampai Liga 4 dengan nilai keseluruhan 14 miliar 800 juta sekian,” kata Riza.
Menurut pemaparan APPI, musim sebelumnya terdapat tiga klub Super League yang tercatat memiliki tunggakan gaji, yakni PSBS Biak, PSM Makassar, dan Semen Padang.
Memasuki musim 2026/2027, PSM disebut menjadi klub tersisa dari kasta tertinggi yang masih memiliki persoalan pembayaran tersebut.
Kondisi itu menjadi perhatian karena persoalan gaji merupakan salah satu aspek mendasar dalam profesionalisme klub.
APPI menilai masalah hak pemain semestinya tidak terus terbawa dari satu musim ke musim berikutnya.
“Kita mau ngomong membawa liga naik kelas, tapi masalah dasar terkait dengan haknya pemain itu, masih menjadi problem,” ujar Riza.
APPI juga mendorong persoalan tunggakan segera dituntaskan agar pemain mendapatkan haknya sekaligus klub dapat menjalani kompetisi dengan kondisi administrasi yang lebih sehat.
Di tengah persoalan tersebut, mantan pelatih dan legenda PSM Makassar, Syamsuddin Umar, turut menyoroti pentingnya hubungan antara manajemen, tim, dan suporter.
PSM masih menggunakan Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, sebagai markas sementara.
Kondisi tersebut membuat suporter dari berbagai daerah harus mengeluarkan biaya, waktu, dan tenaga lebih besar untuk menyaksikan pertandingan kandang.
Syamsuddin meminta manajemen tidak hanya berfokus pada persoalan di dalam lapangan, tetapi juga membangun komunikasi yang lebih kuat dengan basis pendukung.
Menurutnya, manajemen perlu memberikan kemudahan serta ruang yang layak bagi suporter yang tetap setia mengikuti PSM meski pertandingan kandang berlangsung jauh dari Makassar.
Syamsuddin juga menyarankan PSM memperluas hubungan dengan pemerintah daerah di sekitar Parepare, seperti Sidrap, Barru, dan Pinrang.
Kolaborasi dapat dilakukan melalui roadshow pemain, festival sepak bola lokal, maupun kegiatan yang mendekatkan klub dengan masyarakat di daerah sekitar.
Langkah tersebut dinilai bisa membantu memperluas basis pendukung sekaligus menciptakan rasa memiliki terhadap PSM sebagai satu-satunya wakil Sulawesi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
“Sebagai satu-satunya wakil Sulawesi di kasta tertinggi, PSM juga didorong untuk memaksimalkan potensi dukungan dari daerah sekitar markas sementara PSM,” pungkas Syamsuddin.
Bagi PSM, penyelesaian tunggakan gaji menjadi pekerjaan penting sebelum kompetisi berjalan lebih jauh.
Di sisi lain, penguatan hubungan dengan suporter juga dibutuhkan agar dukungan terhadap tim tetap terjaga sepanjang musim.