Pemain PSBS Biak saat lawan Persib Bandung di GBLA. dok/psbsbiak
SulawesiPos.com – Krisis finansial yang melanda PSBS Biak kini memasuki titik paling kritis.
Tunggakan gaji pemain yang mencapai tiga hingga empat bulan bukan hanya berdampak pada performa tim, tetapi juga memicu eksodus pemain asing dan ancaman mogok massal.
Laga penting melawan Dewa United yang dijadwalkan pada 8 Mei 2026 di Stadion Maguwoharjo kini berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.
Untuk memahami situasi secara utuh, berikut kronologi lengkap yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir:
Kepergian Eduardo Barbosa menjadi simbol nyata krisis PSBS Biak.
Gelandang muda asal Portugal itu memilih pulang lebih awal meski kontraknya belum selesai.
Yang menyita perhatian publik adalah momen kepulangannya yang viral di media sosial.
Ia terlihat meninggalkan Indonesia dengan barang seadanya.
Hal ini memperkuat narasi bahwa kondisi klub benar-benar tidak stabil.
Tak lama setelah itu, Ruyery Blanco juga dilaporkan menyusul pulang ke negaranya.
Situasi ini membuka kemungkinan bahwa pemain asing lain akan mengikuti langkah serupa.
Puncak krisis terjadi ketika para pemain yang tersisa memutuskan untuk mengambil sikap tegas. Mereka menyatakan:
Langkah ini menjadi tekanan besar bagi manajemen, sekaligus menunjukkan bahwa kesabaran pemain telah habis.
Krisis PSBS Biak berpotensi memberikan efek domino terhadap kompetisi:
Kasus ini kembali membuka luka lama dalam sepak bola nasional: masalah finansial klub yang berulang setiap musim.
Banyak pihak kini mendesak federasi untuk turun tangan. Pengawasan finansial klub dinilai masih lemah, sehingga kasus seperti ini terus terjadi.
Langkah yang dianggap mendesak:
Tanpa tindakan nyata, kasus PSBS Biak dikhawatirkan akan menjadi preseden buruk bagi klub lain.
Kasus PSBS Biak bukan sekadar masalah internal klub.
Ini adalah gambaran nyata rapuhnya sistem manajemen di sepak bola Indonesia.
Dengan pemain asing yang mulai pulang kampung dan ancaman mogok yang semakin nyata, nasib pertandingan melawan Dewa United kini berada di ujung tanduk.
Jika tidak ada solusi cepat, krisis ini bisa menjadi salah satu yang paling memalukan dalam sejarah kompetisi nasional.