Overview
SulawesiPos.com — Atmosfer panas laga internasional antara Ratchaburi FC dan Persib Bandung rupanya berlanjut hingga ke jagat maya.
Tak lama setelah pertandingan yang dimenangkan wakil Thailand itu dengan skor meyakinkan 3-0, salah satu pemain mereka, Gabriel Mutombo, menjadi perbincangan publik.
Bek berpostur tinggi tersebut disebut-sebut mendapat serangan komentar bernada rasis dari sejumlah akun media sosial.
Beberapa tangkapan layar yang beredar menunjukkan adanya komentar tidak pantas yang mengarah pada unsur diskriminatif.
Mutombo kemudian membagikan ulang salah satu komentar tersebut melalui fitur Instagram Story.
Dalam unggahannya, ia menuliskan pesan singkat yang menegaskan bahwa pertandingan sepak bola seharusnya tidak menjadi ruang untuk menyebarkan kebencian.
“Ini hanya sepak bola,” tulisnya, seraya memberi pesan agar sportivitas tetap dijaga.
Pada pertandingan yang berlangsung sengit tersebut, Ratchaburi tampil dominan sejak menit awal.
Persib Bandung yang datang dengan ambisi mencuri poin justru kesulitan mengimbangi tempo permainan tuan rumah.
Tiga gol tanpa balas menjadi modal berharga bagi klub asal Thailand itu untuk menatap leg kedua.
Namun, alih-alih hanya membicarakan taktik dan hasil pertandingan, perhatian publik justru tersedot pada isu di luar lapangan.
Dugaan komentar rasis yang diterima Mutombo memicu reaksi beragam dari netizen.
Banyak yang mengecam tindakan tersebut dan menyerukan pentingnya kampanye anti-diskriminasi di sepak bola Asia.
Menariknya, nama Gabriel Mutombo sempat dikabarkan masuk radar Persib Bandung pada awal musim 2025/2026.
Saat itu, isu kepindahannya cukup ramai diperbincangkan di kalangan suporter.
Namun pada akhirnya, pemain bertahan tersebut memilih melanjutkan kariernya bersama Ratchaburi dan memperpanjang masa baktinya di klub.
Situasi ini membuat insiden komentar rasis semakin disayangkan.
Sejumlah penggemar sepak bola Indonesia turut menyampaikan dukungan kepada sang pemain dan menegaskan bahwa tindakan diskriminatif tidak mencerminkan semangat sportivitas.
Fenomena serangan rasis di media sosial bukan kali pertama terjadi dalam dunia sepak bola.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pemain dari berbagai liga dunia mengalami perlakuan serupa setelah pertandingan penting, baik saat menang maupun kalah.
Media sosial yang seharusnya menjadi ruang interaksi positif kerap disalahgunakan oleh oknum tertentu.
Federasi sepak bola internasional maupun konfederasi regional terus menggencarkan kampanye anti-rasisme, namun praktik tersebut masih saja muncul.
Pengamat sepak bola menilai perlu adanya langkah tegas dari platform digital dan otoritas terkait untuk menindak akun-akun yang menyebarkan ujaran kebencian.
Edukasi kepada suporter juga dinilai penting agar rivalitas tetap berada dalam batas kewajaran.
Insiden yang menimpa Gabriel Mutombo menjadi pengingat bahwa sepak bola adalah olahraga pemersatu.
Rivalitas antarklub semestinya berhenti ketika peluit panjang dibunyikan.
Kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari kompetisi, tetapi nilai sportivitas dan saling menghormati harus tetap dijaga.
Kampanye “Kick Out Racism” yang digaungkan di berbagai kompetisi internasional kembali relevan untuk ditegaskan, terutama di tengah maraknya interaksi digital.
Ratchaburi kini fokus menatap leg kedua dengan keunggulan agregat.
Sementara itu, publik berharap isu diskriminasi tidak lagi mencoreng wajah sepak bola Asia.