Overview
SulawesiPos.com, London – Krisis yang membelit Tottenham Hotspur akhirnya berujung pada keputusan tegas manajemen.
Pada 11 Februari 2026, klub resmi mengakhiri kerja sama dengan Thomas Frank setelah rentetan hasil buruk yang menyeret Spurs ke papan bawah klasemen Liga Inggris.
Frank baru delapan bulan menukangi The Lilywhites sejak ditunjuk pada Juni 2025. Namun, ekspektasi tinggi yang menyertai kedatangannya tak pernah benar-benar terwujud.
Kekalahan 1-2 dari Newcastle United di kandang sendiri menjadi titik nadir sekaligus laga terakhirnya di kursi pelatih.
Hasil tersebut membuat Tottenham terperosok ke posisi ke-16 klasemen sementara, hanya terpaut lima poin dari zona degradasi dengan 12 pertandingan tersisa.
Situasi ini memicu kekhawatiran besar di internal klub, mengingat Spurs dalam beberapa musim terakhir berambisi konsisten bersaing di papan atas dan kompetisi Eropa.
Pemecatan Frank menambah panjang daftar pelatih yang tak bertahan lama di London Utara.
Jika melihat tren tujuh tahun terakhir, Spurs kini memburu pelatih permanen keenam mereka sebuah gambaran nyata ketidakstabilan manajerial.
Ironisnya, sebelum Frank, Tottenham juga memecat Ange Postecoglou pada Juni 2025. Padahal, pelatih asal Australia itu sempat mempersembahkan gelar Europa League.
Namun, manajemen saat itu memilih arah baru, yang kini justru membawa klub ke jurang krisis.Pergantian demi pergantian pelatih memunculkan pertanyaan besar mengenai arah kebijakan jangka panjang klub.
Para pendukung mulai mempertanyakan konsistensi visi manajemen dalam membangun proyek sepak bola yang berkelanjutan.
Hingga saat ini, Tottenham belum mengumumkan secara resmi siapa yang akan mengambil alih tim sebagai pelatih interim.
Namun, sejumlah laporan menyebutkan klub cenderung menunjuk figur internal untuk menuntaskan musim ini.
Nama John Heitinga, yang saat ini berada dalam staf kepelatihan, muncul sebagai kandidat kuat.
Selain itu, Ryan Mason juga kembali disebut-sebut. Mason bukan nama asing dalam situasi darurat Spurs, karena sebelumnya sudah dua kali dipercaya menjadi pelatih sementara.
Pendekatan ini dinilai realistis. Dengan musim yang tinggal menyisakan belasan laga, fokus utama klub adalah mengamankan posisi di Liga Inggris dan menjauh dari ancaman degradasi, sebelum menentukan arah jangka panjang pada musim panas mendatang.
Di tengah ketidakpastian, spekulasi mengenai calon pelatih permanen langsung bermunculan.
Roberto De Zerbi menjadi sosok yang paling santer dibicarakan. Pelatih asal Italia itu baru saja meninggalkan Marseille secara mendadak, sehingga membuka peluang negosiasi lebih cepat.
Gaya bermain menyerang dan pendekatan taktis progresifnya dianggap cocok dengan karakter Tottenham.Nama Mauricio Pochettino juga kembali menghiasi rumor. Mantan pelatih Spurs yang pernah membawa klub ke final Liga Champions itu disebut-sebut sebagai opsi emosional sekaligus strategis.
Namun, posisinya sebagai pelatih tim nasional Amerika Serikat untuk persiapan Piala Dunia 2026 bisa menjadi hambatan besar.
Selain itu, Andoni Iraola masuk radar manajemen. Pelatih Bournemouth tersebut dinilai berhasil membangun tim kompetitif dengan pendekatan modern dan disiplin taktis yang solid.
Jika Spurs menargetkan proyek jangka panjang, Iraola bisa menjadi kandidat serius untuk musim depan.
Di atas segala spekulasi, prioritas Tottenham saat ini sangat jelas: bertahan di Liga Inggris.
Dengan hanya lima poin memisahkan mereka dari zona merah dan 12 pertandingan tersisa, setiap laga kini bernilai final.
Tekanan bukan hanya berada di ruang ganti, tetapi juga di level manajemen. Keputusan menunjuk pelatih interim yang tepat bisa menjadi penentu nasib klub musim ini.
Spurs masih memiliki skuad yang secara kualitas seharusnya mampu bersaing di papan tengah atau bahkan zona Eropa.
Namun, mentalitas, konsistensi, dan kepemimpinan di lapangan menjadi tantangan utama yang harus segera dibenahi.
Jika salah langkah, musim 2025/2026 bisa berubah menjadi salah satu periode tergelap dalam sejarah modern Tottenham Hotspur.