Suporter PSM memasuki lapangan pertandingan setelah laga PSM Makassar vs Semen Padang. dok/tangkapanlayar
Overview
SulawesiPos.com – PSM Makassar tengah berada di persimpangan momentum.
Di satu sisi, klub kebanggaan Sulawesi Selatan itu akhirnya bisa bernapas lega setelah resmi terbebas dari sanksi FIFA.
Namun di sisi lain, Juku Eja juga harus menerima konsekuensi dari aspek disiplin kompetisi setelah dijatuhi denda oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI.
Komdis PSSI menjatuhkan denda sebesar Rp60 juta kepada PSM Makassar menyusul insiden masuknya suporter ke area lapangan usai laga kontra Semen Padang.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion BJ Habibie tersebut berakhir imbang 0-0 pada Senin (2/2/2026).
Dalam keputusan yang mengacu pada Kode Disiplin PSSI 2025, PSM dinilai bertanggung jawab atas pengendalian penonton, khususnya dalam pengamanan pasca-pertandingan.
Meski tidak terjadi kerusuhan besar, aksi suporter yang masuk ke lapangan tetap dikategorikan sebagai pelanggaran disiplin karena berpotensi membahayakan keselamatan pemain, ofisial, serta perangkat pertandingan lainnya.
Denda tersebut menjadi catatan penting di tengah fase kebangkitan PSM Makassar.
Setelah melewati masa sulit akibat larangan transfer FIFA, klub kini kembali mendapatkan kepercayaan untuk beraktivitas normal di bursa pemain.
Namun, aspek non-teknis seperti keamanan stadion dan kedisiplinan suporter menjadi faktor krusial agar langkah PSM tidak kembali terhambat oleh sanksi administratif.
Manajemen PSM diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan laga kandang, terutama pada momen akhir pertandingan yang kerap diwarnai luapan emosi dan euforia pendukung.
Jika pelanggaran serupa terulang, bukan tidak mungkin sanksi yang dijatuhkan akan lebih berat, mulai dari pembatasan penonton hingga pertandingan tanpa kehadiran suporter.
Di tengah catatan disiplin tersebut, kabar menggembirakan tetap datang dari ranah administratif internasional.
Nama PSM Makassar dipastikan telah keluar dari daftar klub yang terkena larangan transfer FIFA.
Kepastian ini terpantau langsung di laman resmi FIFA pada Senin malam (2/2/2026).
Dengan status tersebut, manajemen Juku Eja bergerak cepat memanfaatkan jendela transfer yang tersisa untuk melakukan penguatan skuad jelang putaran kedua Super League 2026.
Fokus utama diarahkan pada penambahan pemain asing yang dinilai mampu meningkatkan kedalaman sekaligus keseimbangan tim.
PSM Makassar telah mencapai kesepakatan dengan dua pemain asing, yakni Dusan Lagator dan Sheriddin Boboev.
Keduanya diproyeksikan menjadi solusi atas kebutuhan tim di lini berbeda.
Dusan Lagator, pemain asal Montenegro berusia 31 tahun, dikenal sebagai pemain multifungsi.
Dengan tinggi badan sekitar 190 cm, ia dapat bermain sebagai bek tengah, gelandang bertahan, hingga gelandang tengah.
Pengalaman Lagator di kompetisi Asia membuat proses adaptasinya diyakini tidak akan memakan waktu lama.
Kehadirannya diharapkan memperkokoh struktur pertahanan sekaligus meningkatkan kualitas duel udara dan distribusi bola dari lini kedua.
Sementara itu, Sheriddin Boboev hadir sebagai opsi baru di sektor serang.
Penyerang asal Tajikistan berusia 26 tahun tersebut memiliki fleksibilitas tinggi, mampu bermain sebagai penyerang tengah maupun melebar di sisi sayap.
Dengan karakter agresif dan mobilitas tinggi, Boboev diplot untuk mengisi kekosongan lini depan sepeninggal Lucas Dias.
Pelatih kepala PSM Makassar, Tomas Trucha, sebelumnya telah menegaskan bahwa penambahan pemain bukan semata soal jumlah.
Pelatih asal Ceko itu menekankan pentingnya keseimbangan komposisi tim agar PSM tetap kompetitif di setiap pertandingan.
PSM, menurut Trucha, membutuhkan pemain bertahan berkaki kanan yang fleksibel serta sosok ofensif yang bisa dimainkan di berbagai posisi, mulai dari sayap hingga striker.
“Kami mencari pemain yang bisa beradaptasi di beberapa peran agar struktur tim tetap solid,” ujar Trucha.
Dengan kombinasi antara penguatan skuad dan pembenahan aspek non-teknis, PSM Makassar kini berada di fase penting untuk menentukan arah musim.
Tantangan bukan hanya soal performa di lapangan, tetapi juga bagaimana klub menjaga profesionalisme di luar pertandingan.
Jika momentum ini mampu dijaga, PSM Makassar berpeluang melaju lebih stabil di putaran kedua Super League 2026 sekaligus mempertahankan reputasi sebagai salah satu klub besar dan berpengaruh di sepak bola nasional.