Overview
SulawesiPos.com – Bursa transfer internasional kembali diwarnai drama.
Kepindahan gelandang bintang asal Prancis, N’Golo Kanté, ke klub raksasa Turki Fenerbahce kini berada dalam status genting dan terancam batal di menit-menit akhir, meski sebelumnya disebut hampir rampung.
Jurnalis transfer ternama Fabrizio Romano mengungkapkan bahwa seluruh kesepakatan verbal sebenarnya telah dicapai sejak sehari sebelumnya.
Namun, proses transfer belum dapat difinalisasi akibat kendala dokumen antar klub.
Situasi ini tidak hanya berdampak pada Kanté, tetapi juga menyeret rencana kepindahan Youssef En-Nesyri ke Al Ittihad.
Dalam laporan terbarunya, Romano menegaskan bahwa baik Fenerbahce maupun Al Ittihad belum berhasil menyelesaikan proses Transfer Matching System (TMS) sesuai tenggat waktu.
Ketidaksesuaian angka transfer, detail administratif, serta kelengkapan dokumen membuat kedua klub harus meminta persetujuan langsung dari FIFA, namun hingga kini belum mendapat lampu hijau resmi.
“Both deals were NOT here we go yet due to club to club documents,” tulis Romano.
ungguhan yang beredar di media sosial memperlihatkan Kanté dan En-Nesyri duduk di ruang tunggu bandara dengan koper di samping mereka.
Visual tersebut menjadi simbol ironi bursa transfer modern: pemain siap berangkat, tetapi sistem belum mengizinkan.
Ekspresi tegang keduanya mencerminkan ketidakpastian masa depan di tengah tekanan waktu yang terus berjalan.
Padahal sebelumnya, Fenerbahce dikabarkan sangat dekat mencapai kesepakatan final untuk mendatangkan Kanté.
Gelandang juara dunia 2018 itu diproyeksikan sebagai poros utama lini tengah dan figur pemimpin di lapangan.
Bahkan, transfer En-Nesyri ke Al Ittihad senilai lebih dari €10 juta disebut menjadi bagian dari rangkaian negosiasi yang saling berkaitan, terutama jika Karim Benzema benar-benar meninggalkan klub Arab Saudi tersebut.
Namun kini, seluruh skenario itu berada di persimpangan.
Jika proses administrasi tak segera rampung sebelum batas waktu yang ditentukan, maka kedua kesepakatan berpotensi resmi dibatalkan, memaksa klub dan pemain kembali ke titik nol di tengah bursa yang semakin sempit.
Bagi Fenerbahce, kegagalan merekrut Kanté akan menjadi pukulan besar, bukan hanya secara teknis tetapi juga strategis.
Transfer ini sejatinya menjadi pernyataan ambisi klub untuk kembali diperhitungkan di level Eropa.
Gagal menuntaskannya berisiko mengganggu rencana taktik, stabilitas ruang ganti, hingga kepercayaan publik terhadap proyek jangka panjang klub.
Di sisi lain, dampaknya juga terasa hingga ke Timur Tengah.
Meski Al Hilal tidak terlibat langsung dalam negosiasi Kanté, dinamika ini memengaruhi peta kekuatan Saudi Pro League.
Transfer yang macet menunjukkan bahwa dominasi finansial tidak selalu berbanding lurus dengan kelancaran operasional.
Rival-rival yang gagal melepas atau mendatangkan pemain bintang justru membuat persaingan internal liga tetap ketat dan tak terprediksi.
Kasus ini kembali menegaskan bahwa dalam sepak bola modern, kesepakatan verbal belum menjamin apa pun hingga seluruh dokumen resmi disahkan.
Kesalahan administratif sekecil apa pun mampu menggagalkan rencana besar, bahkan ketika semua pihak sudah siap menekan tombol “resmi”.
Kini, bola sepenuhnya berada di tangan FIFA dan para administrator.
Kanté menunggu, Fenerbahce menahan napas, dan dunia sepak bola internasional menanti apakah saga ini akan berakhir dengan perayaan atau justru kekecewaan di detik terakhir bursa transfer.