Overview
SulawesiPos.com – Meski kerap dikritik soal penyelesaian akhir, kontribusi Raheem Sterling secara statistik tetap solid.
Ia masih mencatatkan output gol dan assist yang signifikan di level tertinggi, serta dikenal sebagai pemain yang mampu membuka ruang dan memecah kebuntuan dari sisi sayap.
“Sterling memiliki kemampuan unik untuk berada di waktu dan tempat yang tepat. Pengalamannya di level internasional adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli,” ujar seorang analis sepak bola Inggris.
Namun di Chelsea, angka saja ternyata tidak cukup untuk menjamin masa depan.
Pasca-era Roman Abramovich, Chelsea melakukan revolusi total dalam filosofi klub.
Arah kebijakan kini jelas yaitu, merekrut pemain di bawah 23 tahun, kontrak jangka panjang (7–8 tahun) dan investasi pada pemain dengan resale value tinggi.
Sterling, yang sudah berada di usia matang dan berstatus bintang mapan, tidak lagi cocok dengan cetak biru jangka panjang klub, meski performanya masih relevan.
Secara teknis, Sterling paling efektif saat menyerang dari half-space, bergerak dekat kotak penalti, dan mengandalkan timing, bukan sekadar kecepatan.
Namun di bawah sistem pelatih Chelsea sekarang, Sterling sering dipaksa melebar di garis tepi, dituntut melakukan crossing dan duel 1v1 terus-menerus serta kesempatan menusuk ke tengah berkurang drastis.
Hasilnya, kontribusinya terlihat “biasa” meski perannya tidak ideal.
Masalah lama Sterling kembali mencuat: kegagalan di momen krusial.
Di klub dengan tekanan tinggi seperti Chelsea, persepsi publik dan manajemen sering kali lebih menilai gol penentu dan performa di laga besar.
Bukan sekadar total angka musimannya. Ini membuat posisinya makin tertekan.
Dari sisi bisnis, Sterling adalah salah satu penerima gaji tertinggi dan rekrutan era manajemen lama
Dalam konteks Financial Fair Play (FFP), melepas Sterling memberi ruang gaji yang besar dan fleksibilitas untuk mendatangkan talenta muda baru.
Secara finansial, keputusan ini dinilai logis.
Chelsea juga tengah membangun hierarki baru di ruang ganti.
Klub ingin identitas segar danpemimpin dari generasi berikutnya.
Meski profesional, Sterling bukan lagi figur sentral proyek masa depan, sehingga pengaruhnya perlahan dikurangi.
Memasuki 2026, spekulasi kepindahan Sterling makin menguat, Saudi Pro League tertarik menjadikannya ikon baru liga.
Sterling tetap fokus menjaga tempat di Timnas Inggris jelang turnamen besar dengan opsi bertahan di Eropa masih terbuka demi kompetisi level tertinggi
Raheem Sterling bukanlah kegagalan di Chelsea.
Ia adalah korban dari perubahan visi klub, eksperimen taktik dan reset total proyek Chelsea.
Bagi Sterling, mencari pelabuhan baru—baik di Eropa maupun luar Inggris—justru bisa menjadi langkah cerdas untuk kembali menjadi pemain sentral dan memperpanjang karier di level elite.