Categories: Politik

Iran–Uzbekistan Garap Pertanian AI, Unhas Bidik Riset Drone dan Irigasi Cerdas

SulawesiPos.com – Pertemuan Menteri Pertanian Iran Gholamreza Nouri Qezeljeh dan Menteri Pertanian Uzbekistan Ibrohim Abdurakhmonov di Tashkent pada 21 September 2026 untuk memperluas kerja sama teknologi pangan mendapat perhatian dua akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas), yang melihat peluang riset bersama Iran dalam pengembangan drone, irigasi cerdas, dan kecerdasan buatan untuk menjawab kebutuhan pertanian Indonesia.

Iran dan Uzbekistan membahas investasi serta penerapan teknologi pertanian, kemudian menandatangani protokol kerja sama antarkementerian, sebagaimana diberitakan IRNA pada 22 September 2026.

Dalam pertemuan itu, Iran menyatakan kesiapan berbagi pengalaman mengenai irigasi cerdas dan drone pertanian, sementara Uzbekistan menaruh perhatian pada peralatan generasi baru serta pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan produktivitas lahan.

Jurnalis Sulawesi Pos menghubungi Kepala Subdirektorat Pengelolaan Inkubator dan Science Techno Park Unhas Dr. Eng. Andi Amijoyo Mochtar, S.T., M.Sc., serta akademisi dan peneliti Artificial Intelligence of Things (AIoT) Unhas Dr. Muhammad Junaid pada 26 September 2026 untuk menelaah arti perkembangan tersebut bagi Indonesia.

Menurut Andi Amijoyo, kerja sama Iran–Uzbekistan memperlihatkan bahwa pengembangan teknologi pertanian dapat dimulai dari kebutuhan nyata di lahan, lalu diperluas melalui riset, pelatihan, dan kemitraan industri.

Ia mengatakan Unhas telah menjajaki peluang kerja sama drone pertanian dengan pihak Iran melalui kunjungan delegasi universitas ke Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta pada Juni 2026, yang diikuti dirinya bersama Dr. Supratman.

“Kerja sama ini tidak hanya diarahkan pada penggunaan drone, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat dikembangkan bersama dan disesuaikan dengan kebutuhan pertanian Indonesia,” ujar Andi Amijoyo.

Dr. Eng. Andi Amijoyo Mochtar menyoroti peluang riset drone pertanian bersama Iran bagi Indonesia. (Foto: Istimewa)

Menurutnya, AI, pengenalan objek melalui citra digital (computer vision), sensor, sistem kendali, dan kemampuan terbang mandiri dapat dipadukan untuk memantau tanaman, memetakan lahan, mengenali gejala penyakit, serta membantu penyemprotan yang lebih tepat sasaran.

Andi Amijoyo menilai penjajakan tersebut perlu bergerak melampaui pembelian perangkat, antara lain melalui pengembangan prototipe, penelitian bersama, transfer teknologi, peningkatan kemampuan tenaga ahli, dan pengujian di lahan pertanian Indonesia.

Air, Data, dan Kebutuhan Petani

Di Uzbekistan, kebutuhan teknologi itu berkaitan dengan rencana pengembangan kebun buah seluas 400.000 hektare di tengah upaya mengurangi ketergantungan pada tanaman kapas, sebagaimana disampaikan Abdurakhmonov dalam pemberitaan mengenai pertemuan tersebut.

Bagi Indonesia, Junaid menilai tantangannya terletak pada cara meningkatkan produksi padi, jagung, tebu, dan ubi kayu tanpa mengabaikan keterbatasan air serta kondisi lahan yang berbeda-beda.

Sebagai peneliti AIoT, ia melihat peluang bagi Unhas untuk menguji perpaduan sensor lapangan, jaringan pengiriman data, citra drone, dan AI agar keputusan tentang pengairan, pemupukan, serta pemantauan tanaman didasarkan pada kondisi yang terukur.

“Saya memandang keterbukaan Iran dan Uzbekistan dalam kemitraan akademis sebagai peluang strategis bagi Unhas untuk memperluas dan meningkatkan jejaring riset internasional,” kata Junaid.

Menurut Junaid, pengalaman Iran di bidang irigasi hemat air dan analisis citra drone layak dipelajari bersama peneliti Unhas, terutama di Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian, sebelum disesuaikan dengan kondisi agroklimat Sulawesi Selatan.

Cara kerja AIoT dapat digambarkan dari persoalan sederhana: sensor mengukur kelembapan tanah, data dikirim untuk dianalisis, lalu petani memperoleh petunjuk apakah suatu petak perlu diairi saat itu atau masih dapat menunggu.

Drone dapat menambah informasi dari udara, misalnya dengan menunjukkan bagian lahan yang pertumbuhannya tidak merata, tetapi temuan pada citra tetap perlu diperiksa di lapangan sebelum petani mengambil tindakan.

Dr. Muhammad Junaid menilai riset sensor dan AI dapat membantu petani menghemat air irigasi. (Foto: Istimewa)

Potensi penghematan air memiliki dasar penelitian, meskipun hasilnya tidak bisa digeneralisasi ke semua komoditas dan daerah: satu uji lapangan pada sawah di Delta Mekong, Vietnam, yang tercatat dalam pangkalan riset FAO menemukan tambahan penghematan air sebesar 13–20 persen ketika pengukuran muka air berbasis sensor dipadukan dengan metode pengairan berselang dibandingkan pelaksanaan metode itu secara manual.

Angka tersebut menunjukkan manfaat yang mungkin dicapai melalui pengujian, sekaligus alasan mengapa teknologi dari negara lain harus dicoba pada jenis tanah, tanaman, biaya operasional, dan kemampuan petani setempat sebelum diterapkan lebih luas.

Dari Penjajakan ke Proyek Percontohan

Andi Amijoyo mengatakan perguruan tinggi dapat mempertemukan kebutuhan petani, kemampuan peneliti, dukungan pemerintah, dan kapasitas industri dalam sebuah proyek percontohan yang hasilnya dapat diukur.

Bentuknya dapat berupa pengujian drone untuk pemetaan atau penyemprotan presisi, disertai pengembangan perangkat lunak, pelatihan operator, serta pertukaran peneliti dan mahasiswa.

Junaid mengusulkan penelitian bersama dan pengujian sensor serta platform digital pada lahan Indonesia agar kerja sama internasional menghasilkan pengetahuan yang dapat dipakai petani, bukan hanya demonstrasi teknologi.

“Inisiatif semacam ini tidak hanya meningkatkan kapasitas riset dan inovasi di Unhas, tetapi juga menempatkan institusi kita sebagai mitra aktif dalam pengembangan solusi pertanian presisi berkelanjutan di tingkat global,” ujarnya.

Ia mengaitkan efisiensi budidaya dengan ketahanan pangan dan peluang pengembangan bahan baku bioenergi, khususnya dari komoditas seperti tebu dan ubi kayu, seraya menekankan perlunya memperhitungkan persaingan penggunaan lahan dan air.

Dalam tanggapannya, Junaid menyebut gagasan campuran bahan bakar E50 dan “L50”; untuk pemberitaan kebijakan Indonesia, istilah yang digunakan pemerintah bagi campuran 50 persen biodiesel dalam solar ialah B50, sedangkan gagasan campuran etanol perlu dibedakan dari kebijakan yang sudah berlaku.

Iran sendiri dilaporkan meluncurkan tahap pertama asisten AI bagi kementerian pertaniannya pada Februari 2026 untuk membantu analisis data dan pengambilan keputusan, tetapi laporan itu tidak menunjukkan bahwa sistem tersebut telah digunakan dalam proyek Iran–Uzbekistan ataupun dalam penjajakan bersama Unhas.

IRNA mencatat nilai perdagangan pertanian Iran–Uzbekistan mendekati 140 juta dollar AS pada 2025, sedangkan manfaat investasi dan kerja sama teknologi yang dibahas di Tashkent masih harus dibuktikan melalui proyek serta hasil yang dilaporkan secara terbuka.

Bagi dua peneliti Unhas itu, ukuran keberhasilan yang paling berarti pada akhirnya bukan jumlah drone yang diterbangkan atau banyaknya data yang terkumpul, melainkan apakah petani dapat menggunakan air dan input produksi secara lebih tepat, menekan biaya, serta memperoleh hasil panen yang lebih baik. *(ALI)*

Kristio D. Reski

Share
Published by
Kristio D. Reski
Tags: AIoT Drone pertanian Iran Irigasi Cerdas Pertanian AI teknologi pertanian Unhas Uzbekistan