Eks PM Hasina 'Buron' Demo Gen Z Curhat Mau Pulang ke Bangladesh
SulawesiPos.com – Mantan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina menyatakan tekadnya untuk kembali ke Dhaka, ibu kota Bangladesh, meskipun ia menghadapi vonis hukuman gantung atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan ancaman serius terhadap keselamatannya. Hasina, yang digulingkan dari kekuasaan pada Agustus 2024, menegaskan bahwa keputusannya untuk pulang didasari oleh panggilan rakyat.
“Saya mungkin dibunuh. Saya mungkin ditangkap. Saya mungkin dijebloskan ke penjara,” kata Hasina dalam pernyataan tertulis kepada AFP.
Ia menambahkan, “Saya sepenuhnya sadar akan nasib saya. Namun, saya ingin kembali karena rakyat memanggil saya.”
Hasina dilengserkan setelah 15 tahun berkuasa oleh gerakan generasi muda atau Gen Z yang dipimpin mahasiswa. Ia melarikan diri ke India menggunakan helikopter saat massa menyerbu kediaman resminya. Pada November 2025, pengadilan di Dhaka menyatakan Hasina bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan menjatuhkan hukuman gantung.
Menanggapi vonis tersebut, Hasina menyebutnya sebagai “balas dendam politik yang dibungkus kedok hukum”. Ia kini tinggal di lokasi rahasia di India, namun menegaskan tidak ada tekanan dari otoritas India untuk kembali ke Bangladesh.
Menurut catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hingga 1. 400 orang tewas dalam tindakan represif aparat saat Hasina berupaya mempertahankan kekuasaan. Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah lama menuduh pemerintahannya melakukan berbagai pelanggaran, termasuk pembunuhan terhadap lawan politik, penindasan partai oposisi, rekayasa pengadilan, serta pemilu curang.
Namun, Hasina membela diri dengan mengatakan tuduhan-tuduhan tersebut merupakan “kampanye yang direkayasa secara politis”. Ia juga menepis tuduhan merestui penggunaan kekuatan berlebih selama protes mahasiswa yang berujung pada pelengseran dirinya.
“Pemerintahan saya menunjukkan tingkat kesabaran tertinggi dan berupaya mengarahkan gerakan mahasiswa menuju solusi damai,” tulis Hasina. Ia berpendapat bahwa protes tersebut awalnya hanya “demo mahasiswa biasa”, namun kemudian ditunggangi “operasi terencana yang digerakkan oleh instruksi tersembunyi, kekerasan terorganisir, propaganda, dan tujuan untuk menggulingkan pemerintah.”
Hubungan India dan Bangladesh, yang sempat tegang di bawah pemerintahan sementara pasca jatuhnya Hasina, telah kembali stabil sejak Perdana Menteri Tarique Rahman menjabat pada Februari. Dhaka secara resmi telah mengajukan permintaan ekstradisi Hasina, yang kini sedang dalam tahap pemeriksaan oleh otoritas India.
Hasina mengaku tinggal di India dengan penuh rasa hormat dan bermartabat, serta menegaskan bahwa pihak berwenang India tidak pernah membahas masalah ekstradisi dengannya. “Saya sendiri yang memutuskan untuk kembali ke negara saya,” pungkasnya.
Saat ditanya mengenai rencana politiknya sekembalinya nanti, mengingat partainya, Awami League, secara efektif telah dilarang di Bangladesh, Hasina tidak memberikan jawaban langsung. “Kekuasaan bukanlah tujuan saya. Pengabdian kepada rakyatlah tujuan saya,” ujarnya.
Hasina juga menyampaikan rasa “simpati bagi setiap keluarga yang kehilangan orang yang dicintai”, namun tidak menyampaikan permintaan maaf. Ia menghindari pertanyaan mengenai penyesalan atas keputusan yang diambilnya selama masa pergolakan. “Keputusan negara tidak diambil oleh satu orang saja, dan keputusan tersebut tidak dapat dinilai secara jujur dengan memisahkan satu momen dari keseluruhan krisis,” jelasnya.