Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB, Syamsu Rizal
SulawesiPos.com – Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal mendesak TNI menggelar upaya khusus untuk membebaskan empat warga negara Indonesia yang menjadi kru MT Honour 25 dan disandera perompak Somalia sejak 21 April 2026. Desakan itu disampaikan setelah ia mengaku telah menghubungi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kementerian Luar Negeri agar penanganan kasus tersebut ditingkatkan.
Syamsu Rizal mengatakan langkah pembebasan WNI di luar negeri merupakan bagian dari tugas TNI sebagaimana diatur dalam perubahan undang-undang TNI. Karena itu, ia meminta ada tindakan nyata untuk menyelamatkan para kru kapal yang hingga kini masih berada dalam situasi penyanderaan.
“Saya sudah temui Panglima TNI, saya minta dengan tegas agar ada upaya khusus untuk membebaskan WNI yang disandera perompak Somalia, karena ini memang tugas TNI yang disebutkan dalam UU No 3 Tahun 2025 tentang perubahan UU TNI, yaitu membantu dalam melindungi dan menyelamatkan Warga Negara serta kepentingan nasional di luar negeri,” ungkap legislator PKB ini saat dihubungi, Sabtu, 25 Juli 2026.
Menurut dia, TNI memiliki pengalaman dalam operasi pembebasan sandera WNI di luar negeri. Syamsu Rizal menyinggung Operasi Woyla saat pembajakan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, pada 1981, hingga operasi pembebasan 20 WNI di kapal MV Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia pada 2011.
Ia menyebut dalam kasus MV Sinar Kudus, TNI membentuk Satgas Merah Putih dengan dukungan pasukan elite dan sejumlah alat utama, termasuk KRI Halim Perdanakusuma, KRI Banjarmasin, KRI Yos Sudarso, serta helikopter milik TNI. Pengalaman itu dinilai bisa menjadi rujukan dalam merespons kasus penyanderaan kru MT Honour 25.
Kecemasan serupa juga datang dari keluarga korban. Syamsuddin, ayah Kapten MT Honour 25 Ashari Samadikun, mengaku keluarganya sudah tiga bulan hidup dalam ketidakpastian sejak pembajakan terjadi dan hampir satu bulan terakhir sama sekali tidak menerima kabar mengenai kondisi para awak kapal.
“Saya ingin meminta tolong kepada Bapak. Anak saya, Kapten MT Honour 25, Ashari Samadikun, sudah *tiga bulan* menjadi korban pembajakan. Belakangan ini sudah hampir satu bulan kami benar-benar tidak menerima kabar apa pun, sehingga kami tidak mengetahui bagaimana kondisi mereka maupun sejauh mana perkembangan penanganan kasus ini.”
Syamsuddin juga menyebut keluarga mendengar informasi bahwa para awak kapal diduga sudah tidak lagi berada di atas kapal. Namun, ia menegaskan keluarga belum memperoleh kepastian apakah kabar itu benar atau tidak.
“Kami juga mendengar informasi bahwa para awak kapal *diduga* sudah tidak berada lagi di atas kapal karena dari hasil pemantauan sudah tidak terlihat adanya akses komunikasi. Namun, *kami belum mengetahui apakah informasi tersebut benar atau tidak.*”
Menurut dia, keluarga saat ini hanya berharap ada kepastian mengenai keberadaan dan kondisi para sandera agar tidak terus hidup dalam kecemasan berkepanjangan.
“Kami hanya berharap ada kepastian agar keluarga tidak terus-menerus hidup dalam kecemasan. Terima kasih banyak atas perhatian dan bantuan Bapak.”
Hingga Sabtu, 25 Juli 2026, kasus penyanderaan empat WNI di MT Honour 25 masih menjadi perhatian karena belum ada kepastian resmi yang diumumkan keluarga terkait kondisi terbaru para awak kapal. Dorongan agar negara mengambil langkah khusus pun menguat, seiring belum adanya komunikasi yang diterima keluarga dalam beberapa pekan terakhir.