Overview
SulawesiPos.com – PDI Perjuangan (PDIP) resmi meluncurkan Fatmawati Trophy 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat warisan ideologis Fatmawati Soekarno, istri Presiden pertama RI sekaligus Ibu Bangsa, Sabtu (7/2/2026).
Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPP PDIP, Bintang Puspayoga menjelaskan, ajang ini lahir dari kesadaran historis atas peran penting Fatmawati dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan identitas bangsa.
Menurutnya, Fatmawati bukan hanya pendamping kepala negara, melainkan figur yang turut mengukir sejarah, termasuk saat menjahit Sang Saka Merah Putih di tengah situasi revolusi yang penuh keterbatasan.
Fatmawati Trophy akan dikemas dalam bentuk kompetisi desain fesyen tingkat nasional dengan empat kategori lomba serta penghargaan piala bergilir.
Program ini dirancang berjenjang, dimulai dari tingkat daerah melalui DPD, DPC, hingga organisasi sayap partai.
Adapun desain trofi merupakan hasil kontemplasi Ketua DPP PDIP M. Prananda Prabowo yang diwujudkan oleh pemahat nasional Dolorosa Sinaga.
Figur trofi menampilkan sosok perempuan berjubah berdiri tegak melambangkan keteguhan moral, kepemimpinan yang tenang, dan kekuatan dalam kesunyian.
Bintang berharap ajang tersebut dapat menjaga api keteladanan Fatmawati di internal partai sekaligus menginspirasi masyarakat luas.
Fatmawati lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923 dari keluarga pergerakan.
Ayahnya, Hassan Din, dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah yang menghadapi tekanan kolonial Belanda lingkungan yang membentuk karakter nasionalisme Fatmawati sejak muda.
Dari pernikahannya dengan Soekarno lahir lima tokoh bangsa: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh Soekarnoputra.
Sejarah kemudian mencatat Megawati Soekarnoputri sebagai perempuan pertama yang menjabat Wakil Presiden sekaligus Presiden RI.
“Beliau melahirkan bukan hanya generasi secara biologis, tetapi juga kepemimpinan perempuan dalam sejarah Indonesia,” ujar Bintang.
Dalam peluncuran yang digelar di Museum Fatmawati, Jakarta, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyerukan agar kader partai meneladani keberanian sang Ibu Bangsa.
“Ini adalah panggilan bagi seluruh kader. Kita memerlukan kebangkitan etika dan keteladanan dari Ibu Fat. Kader harus memiliki keberanian berdiri di barisan depan membela rakyat yang tertindas,” ujarnya.
Hasto menilai peran Fatmawati jauh melampaui statusnya sebagai ibu negara. Ia bahkan mengutip pandangan Megawati Soekarnoputri yang menyebut Fatmawati sebagai “Ibu Peradaban”.
“Beliau tidak hanya ibu rumah tangga, tetapi ibu peradaban politik perempuan Indonesia,” katanya.
Di museum tersebut, Hasto juga menyinggung mesin jahit yang digunakan Fatmawati menjahit bendera pusaka.
Menurutnya, benda itu bukan sekadar alat, melainkan simbol perjuangan dan kedaulatan bangsa.
“Di tengah tekanan penjajah dan kondisi mengandung, beliau menjahit harapan. Beliau merawat semangat kemerdekaan melalui kesederhanaan dan keteguhan pada prinsip,” ujarnya.