Chief Refereeing Officer FIFA, Pierluigi Collina. dok/fifa
SulawesiPos.com – FIFA akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait dua keputusan kontroversial dalam laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Amerika Serikat, Rabu, 8 Juli 2026 dini hari WITA.
Dua momen yang menjadi sorotan adalah dianulirnya gol Mesir serta keputusan wasit yang tidak menganggap duel Mohamed Salah dengan Julian Alvarez sebagai pelanggaran.
Penjelasan tersebut disampaikan Chief Refereeing Officer FIFA, Pierluigi Collina, melalui laman resmi FIFA pada Kamis, 9 Juli 2026.
Ia menegaskan bahwa keputusan wasit dan VAR diambil berdasarkan penerapan Laws of the Game, bukan sekadar melihat hasil akhir sebuah insiden.
“Kami meyakini bahwa pelanggaran tetaplah pelanggaran,” tegas Collina.
Menurut Collina, Video Assistant Referee (VAR) tidak hanya memeriksa sentuhan terakhir sebelum gol tercipta, tetapi juga meninjau fase penguasaan bola dalam proses serangan (attacking possession phase/APP) yang berujung pada gol.
Dalam proses gol Mesir yang kemudian dianulir, FIFA menilai gelandang Mesir Marwan Attia lebih dulu melakukan pelanggaran terhadap bek Argentina Lisandro Martinez.
“Menginjak kaki lawan merupakan sebuah pelanggaran,” jelas Collina.
Karena pelanggaran tersebut terjadi dalam rangkaian serangan yang berujung gol, VAR merekomendasikan on-field review kepada wasit utama.
Setelah melihat tayangan ulang di monitor, wasit memutuskan membatalkan gol Mesir.
Collina juga menjelaskan bahwa dalam penerapan APP tidak ada batasan waktu tertentu mengenai seberapa jauh VAR dapat menelusuri proses serangan.
Selama pelanggaran itu masih menjadi bagian dari rangkaian yang berujung gol, insiden tersebut tetap dapat ditinjau.
Selain membahas gol yang dianulir, FIFA turut menjelaskan insiden lain yang memicu protes dari kubu Mesir, yakni benturan antara Mohamed Salah dan Julian Alvarez pada penghujung pertandingan.
Momen tersebut sempat memunculkan tuntutan pelanggaran setelah Salah terjatuh saat berebut bola. Namun, wasit maupun VAR memutuskan permainan tetap dilanjutkan.
Menurut penilaian FIFA, benturan itu masih tergolong kontak normal dalam permainan sepak bola, sehingga tidak memenuhi kriteria sebagai pelanggaran.
Perbedaan dua keputusan tersebut dijadikan FIFA sebagai contoh penerapan hukum permainan.
Injak kaki lawan tetap dikategorikan sebagai pelanggaran yang harus dihukum, sedangkan benturan dalam duel perebutan bola yang masih dianggap wajar tidak otomatis menjadi pelanggaran.
Laga yang dimenangkan Argentina dengan skor 3-2 itu tidak hanya dikenang karena comeback dramatis Albiceleste menuju perempat final, tetapi juga karena menjadi salah satu pertandingan yang paling banyak memunculkan perdebatan mengenai penggunaan VAR sepanjang Piala Dunia 2026.
Melalui penjelasan resmi Pierluigi Collina, FIFA ingin menegaskan bahwa VAR bekerja untuk mengoreksi kesalahan yang berdampak langsung terhadap terciptanya gol, bukan sekadar mencari kesalahan kecil dalam pertandingan.
Dengan demikian, keputusan membatalkan gol Mesir dan membiarkan duel Mohamed Salah dengan Julian Alvarez tetap berlanjut dinilai telah sesuai dengan ketentuan Laws of the Game yang berlaku.