Brasil tersingkir dari Piala Dunia 2026 usai kalah 1-2 dari Norwegia di babak 16 besar
SulawesiPos.com – Tim nasional Brasil secara mengejutkan tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kalah 1-2 dari Norwegia pada babak 16 besar di MetLife Stadium, Minggu (5/7/2026) waktu setempat, dalam pertandingan yang membuat publik Brasil mempertanyakan identitas permainan, strategi pelatih Carlo Ancelotti, hingga masa depan Neymar bersama Selecao.
Kekalahan tersebut mengakhiri perjalanan Brasil lebih cepat dari yang diperkirakan sekaligus menjadi kegagalan paling awal Selecao di Piala Dunia sejak tersingkir pada babak 16 besar edisi 1990.
Hasil itu juga memperpanjang catatan buruk Brasil yang selalu disingkirkan negara Eropa dalam lima edisi Piala Dunia secara beruntun.
Meski sempat lebih banyak menguasai bola pada awal pertandingan, Brasil gagal mengubah dominasi menjadi gol, sementara Norwegia tampil semakin efektif pada babak kedua melalui dua gol penyerang andalannya, Erling Haaland.
Gol tunggal Neymar tidak mampu menghindarkan Brasil dari salah satu kekalahan paling menyakitkan dalam sejarah modern sepak bola negara tersebut.
Sejak peluit panjang dibunyikan, para pemain Brasil tampak larut dalam kekecewaan, dengan Vinicius Junior terduduk lama di lapangan, Endrick menangis sambil berlutut, sedangkan Neymar terlihat sangat emosional setelah kemungkinan menjalani pertandingan Piala Dunia terakhir dalam kariernya.
Media Brasil menggambarkan penampilan tim nasional kali ini sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir karena dinilai kehilangan karakter permainan menyerang yang selama ini menjadi identitas utama sepak bola Brasil.
Kekalahan tersebut segera memicu gelombang kritik dari publik, pengamat, hingga mantan pemain nasional yang mempertanyakan arah pembangunan tim di bawah pelatih Carlo Ancelotti.
Berbagai media internasional menilai persoalan Brasil bukan semata-mata hasil pertandingan, melainkan hilangnya filosofi sepak bola yang selama puluhan tahun menjadi kebanggaan negara lima kali juara dunia tersebut.
Perubahan pendekatan taktik Brasil yang lebih defensif, pragmatis, dan terlalu mengandalkan serangan balik dibanding kreativitas menyerang yang identik dengan permainan Samba.
USA Today mencatat Brasil justru tampil pasif sepanjang pertandingan dengan membiarkan Norwegia mengendalikan ritme permainan setelah babak pertama.
Salah satu keputusan yang paling banyak diperdebatkan adalah penunjukan Bruno Guimaraes sebagai algojo penalti pada menit ke-14 menggantikan Vinicius Junior.
Penalti tersebut berhasil digagalkan penjaga gawang Norwegia, Ørjan Nyland, yang kemudian mengaku penyelamatan itu meningkatkan kepercayaan diri seluruh tim.
Carlo Ancelotti menjelaskan bahwa keputusan tersebut telah ditetapkan sebelum pertandingan berdasarkan analisis statistik terhadap kemampuan para pemain dalam mengeksekusi penalti.
“Kami memilih Bruno Guimaraes karena kami menganggap dia adalah penendang terbaik yang berada di lapangan saat itu,” kata Ancelotti seusai pertandingan.
Bruno Guimaraes kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh pendukung Brasil atas kegagalannya memanfaatkan peluang emas tersebut.
“Saya ingin meminta maaf kepada para suporter yang selalu percaya dan mendukung kami hingga akhir. Hari ini sangat sulit untuk menemukan kata-kata,” ujar Guimaraes.
Namun banyak analis menilai kegagalan penalti bukan penyebab utama kekalahan Brasil. Statistik pertandingan menunjukkan perubahan mencolok dalam pendekatan permainan Brasil.
Saat menghadapi Jepang pada babak sebelumnya, Brasil melepaskan 40 umpan silang ke kotak penalti, sedangkan menghadapi Norwegia hanya mampu menghasilkan 13 umpan silang.
Penguasaan bola yang semula dikuasai Brasil pada awal pertandingan justru berbalik menjadi dominasi Norwegia hingga akhir laga.
Masuknya Endrick pada menit ke-58 dan Neymar beberapa menit kemudian memang sempat meningkatkan intensitas serangan Brasil, tetapi perubahan tersebut dinilai terlambat untuk membalikkan keadaan.
Pada menit ke-79 Haaland membawa Norwegia unggul melalui sundulan memanfaatkan umpan silang sebelum memastikan kemenangan lewat gol keduanya pada menit ke-90.
Setelah pertandingan, Neymar mengucapkan kalimat singkat yang memicu spekulasi luas mengenai masa depannya bersama tim nasional.
“Saya sudah mencoba… saya sudah mencoba… sekarang semuanya sudah selesai,” ujar Neymar.
Pernyataan tersebut dipahami banyak kalangan sebagai isyarat berakhirnya karier internasional pemain berusia 34 tahun itu setelah mengikuti beberapa edisi Piala Dunia tanpa pernah berhasil membawa Brasil kembali menjadi juara dunia.
Selain Neymar, gelandang senior Casemiro juga disebut-sebut berpeluang mengakhiri kariernya di tim nasional sehingga membuka ruang regenerasi yang lebih besar.
Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa tim nasional akan bangkit kembali meskipun mengakui kegagalan kali ini merupakan salah satu pencapaian terburuk Brasil dalam 36 tahun terakhir.
CBF menyatakan sejarah sepak bola Brasil menunjukkan bahwa setiap periode sulit selalu menjadi awal lahirnya generasi baru yang lebih kuat.
Ancelotti sendiri menolak menganggap kekalahan tersebut sebagai akhir dari proyeknya bersama Brasil.
“Ketika momen seperti ini terjadi, kekalahan harus dipahami sebagai awal petualangan baru dan awal siklus baru. Kami harus terus bekerja, berkembang, dan menemukan ide-ide baru,” kata pelatih asal Italia itu.
Ia juga mengakui lini tengah Brasil membutuhkan pembaruan serta lebih banyak pemain muda berkualitas agar mampu bersaing di level tertinggi pada masa mendatang.
Kekalahan ini menjadi pengingat bahwa reputasi sejarah tidak lagi cukup untuk memenangkan pertandingan di era sepak bola modern yang semakin menuntut keseimbangan antara kualitas individu, organisasi permainan, fleksibilitas taktik, efektivitas penyelesaian akhir, serta regenerasi pemain secara berkelanjutan.
Bagi Brasil, negara yang telah mengoleksi lima gelar juara dunia dan melahirkan legenda-legenda seperti Pelé, Zico, Romário, Ronaldo, Ronaldinho, hingga Kaká, kegagalan di Piala Dunia 2026 bukan sekadar kekalahan dalam satu pertandingan, melainkan momentum evaluasi besar untuk menemukan kembali identitas sepak bola menyerang yang selama puluhan tahun menjadikan Selecao sebagai simbol keindahan permainan di panggung dunia. (Ali)