M Dahlan Abubakar: Kehadiran Iran di Piala Dunia 2026 Adalah Simbol Ketahanan Bangsa dan Kemenangan Semangat Sepak Bola atas Tekanan Politik

SulawesiPos.com – Ketika pesawat yang membawa Tim Nasional Iran mendarat di Tijuana, Meksiko, pada Minggu (7/6/2026), dunia sepak bola menyaksikan lebih dari sekadar kedatangan satu tim peserta Piala Dunia.

Bagi Dr. M. Dahlan Abubakar, penulis buku legendaris Ramang Macan Bola, Satu Abad PSM Mengukir Sejarah, serta Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulawesi Selatan periode 2026–2031, kehadiran Iran di panggung sepak bola terbesar dunia merupakan simbol kemenangan semangat olahraga atas berbagai tekanan politik dan geopolitik yang mengitarinya.

Dalam wawancara dengan SulawesiPos.com, Selasa (9/6/2026), Dahlan menilai perjalanan Iran menuju Piala Dunia 2026 telah memperlihatkan kepada dunia bahwa sepak bola memiliki kekuatan yang melampaui batas-batas konflik antarnegara.

“Kehadiran Timnas Iran di Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa olahraga adalah aktivitas yang seharusnya bebas dari segala macam kepentingan, termasuk kepentingan politik,” ujar Dahlan.

Ia kemudian mengingatkan sejarah Indonesia ketika masih berada di bawah penjajahan Belanda.

“Pada tahun 1938, Hindia Belanda atau Indonesia menjadi negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia di Prancis. Itu menunjukkan bahwa di tengah situasi politik yang tidak ideal sekalipun, sepak bola tetap mampu menjadi ruang perjumpaan antarbangsa,” katanya.

Menurut Dahlan, kehadiran Iran di tengah berbagai hambatan visa, tekanan diplomatik, hingga bayang-bayang perang menunjukkan bahwa Republik Islam Iran tetap memilih hadir sebagai bagian dari komunitas dunia.

“Hadirnya Iran dalam ajang ini membuktikan bahwa negara tersebut tetap menjunjung tinggi persaudaraan antarbangsa tanpa memandang situasi politik yang sedang berlangsung. Saya membaca kehadiran Iran di Piala Dunia justru akan menjadi pukulan psikologis tersendiri bagi Amerika Serikat karena banyak bangsa di dunia yang akan menaruh simpati kepada Iran,” ujarnya.

BACA JUGA:  Messi dan Ronaldo Ukir Sejarah di Piala Dunia 2026, Siap Catat Rekor Enam Edisi Beruntun

Sebelas Pemain atau Semangat Sebuah Bangsa?

Perjalanan Iran menuju Meksiko memang tidak mudah.

Meski menjadi salah satu negara pertama yang memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 sejak Maret 2025, dalam beberapa bulan terakhir berbagai spekulasi bahkan sempat mempertanyakan apakah Iran benar-benar akan tampil di turnamen tersebut.

Persoalan visa, ketegangan diplomatik, hingga konflik regional yang melibatkan Iran menjadi bagian dari dinamika yang mengiringi persiapan Team Melli.

Namun bagi Dahlan Abubakar, ketika dunia menyaksikan Iran tiba di Tijuana, yang hadir bukan sekadar sebelas pemain sepak bola.

“Meskipun sepak bola tidak boleh dicampuradukkan dengan politik, kehadiran Iran di Meksiko dapat dipandang sebagai pesan perdamaian kepada seluruh bangsa di dunia,” katanya.

Ia menilai FIFA selama ini telah membangun ruang bersama yang memungkinkan berbagai bangsa bertemu dalam suasana damai dan sportif.

“Semua negara seharusnya diperlakukan secara adil dan sportif dalam perhelatan sepak bola global. Iran hadir di Piala Dunia meskipun sempat dirumorkan akan mundur. Itu menunjukkan sikap gentleman dan tekad untuk tetap menjadi bagian dari kompetisi dunia,” ujarnya.

Menurut Dahlan, keberhasilan Iran membalik berbagai keraguan tersebut justru berpotensi melahirkan simpati yang luas dari masyarakat internasional.

“Banyak orang memperkirakan Iran tidak akan ambil bagian. Tetapi mereka hadir. Karena itu saya yakin banyak bangsa akan memberikan doa dan simpati kepada tim nasional Iran,” katanya.

BACA JUGA:  Argentina Dominan! Honduras Tak Berkutik dalam Kemenangan 2-0 Albiceleste

Pelajaran bagi PSM dan Sepak Bola Indonesia

Sebagai penulis sejarah PSM Makassar, Dahlan melihat perjalanan Iran menyimpan pelajaran penting bagi sepak bola Indonesia.

Menurutnya, salah satu tantangan yang masih dihadapi Indonesia adalah belum sepenuhnya terpisahnya olahraga dari kepentingan politik.

“Beberapa kali kita melihat olahraga terganggu oleh persoalan politik. Padahal sepak bola semestinya menjadi ruang persaudaraan universal,” ujarnya.

Dahlan menegaskan bahwa semangat yang diperlihatkan Iran seharusnya menginspirasi dunia sepak bola Indonesia, termasuk PSM Makassar.

“Bagi PSM, ini merupakan pelajaran berharga tentang kebersamaan dan persaudaraan dalam olahraga. Football for all. Sepak bola untuk semua tanpa memandang bulu sudah saatnya digaungkan kembali,” katanya.

Menurutnya, olahraga memiliki kemampuan unik untuk menghapus sekat-sekat permusuhan yang selama ini sulit diselesaikan melalui jalur politik.

“Kita berharap melalui sepak bola yang memiliki pendukung paling besar di dunia, sekat-sekat perselisihan antarbangsa dapat semakin dikurangi,” ujarnya.

Karakter Bangsa yang Tercermin di Lapangan

Dahlan juga menilai keberhasilan Iran tampil kembali di Piala Dunia tidak dapat dilepaskan dari karakter historis bangsa Persia yang telah terbentuk selama ribuan tahun.

“Iran adalah bangsa yang sangat kokoh. Mereka memiliki karakter, integritas, dan daya tahan yang berakar dari sejarah panjang peradabannya,” katanya.

Menurutnya, dunia menyaksikan bagaimana Iran tetap mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan eksternal selama puluhan tahun.

“Selama empat dasawarsa menghadapi berbagai bentuk tekanan dan blokade, Iran terus belajar dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Karakter inilah yang kemudian tercermin pula dalam semangat para pemain sepak bolanya,” ujar Dahlan.

BACA JUGA:  Jerman Tundukkan Amerika Serikat 2-1, Kai Havertz dan Leroy Sané Jadi Penentu Kemenangan

Ia bahkan memperkirakan pertandingan-pertandingan Iran pada Piala Dunia kali ini akan memperoleh perhatian luar biasa dari publik internasional.

“Banyak orang ingin menyaksikan bagaimana para pemain Iran tetap tampil tangguh dan percaya diri di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi negaranya,” katanya.

Inspirasi untuk Generasi Muda

Bagi Dahlan, pelajaran terbesar dari perjalanan Iran menuju Piala Dunia 2026 adalah tentang kemampuan sebuah bangsa untuk tetap fokus mengejar prestasi meskipun menghadapi tekanan yang berat.

“Ketika para pemain Iran memasuki lapangan, yang ada dalam pikiran mereka adalah bermain, bertanding, dan meraih hasil terbaik. Mereka tidak menjadikan berbagai persoalan yang dihadapi negaranya sebagai alasan untuk menyerah,” ujarnya.

Menurutnya, semangat seperti itulah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia, termasuk generasi muda Makassar.

“Tim nasional Iran menunjukkan bahwa perjuangan besar selalu dimulai dari keyakinan untuk tidak menyerah. Mereka membuktikan bahwa sepak bola dapat menjadi simbol harapan, persatuan, dan martabat bangsa,” katanya.

Di tengah berbagai kontroversi yang mengiringi perjalanan mereka menuju Piala Dunia, Dahlan meyakini bahwa Iran telah memenangkan sesuatu bahkan sebelum pertandingan pertama dimainkan.

“Mereka telah menunjukkan kepada dunia bahwa semangat olahraga bisa tetap hidup di tengah berbagai tekanan. Dan itulah salah satu esensi terbesar sepak bola,” tutupnya. (Ali)

SulawesiPos.com – Ketika pesawat yang membawa Tim Nasional Iran mendarat di Tijuana, Meksiko, pada Minggu (7/6/2026), dunia sepak bola menyaksikan lebih dari sekadar kedatangan satu tim peserta Piala Dunia.

Bagi Dr. M. Dahlan Abubakar, penulis buku legendaris Ramang Macan Bola, Satu Abad PSM Mengukir Sejarah, serta Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulawesi Selatan periode 2026–2031, kehadiran Iran di panggung sepak bola terbesar dunia merupakan simbol kemenangan semangat olahraga atas berbagai tekanan politik dan geopolitik yang mengitarinya.

Dalam wawancara dengan SulawesiPos.com, Selasa (9/6/2026), Dahlan menilai perjalanan Iran menuju Piala Dunia 2026 telah memperlihatkan kepada dunia bahwa sepak bola memiliki kekuatan yang melampaui batas-batas konflik antarnegara.

“Kehadiran Timnas Iran di Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa olahraga adalah aktivitas yang seharusnya bebas dari segala macam kepentingan, termasuk kepentingan politik,” ujar Dahlan.

Ia kemudian mengingatkan sejarah Indonesia ketika masih berada di bawah penjajahan Belanda.

“Pada tahun 1938, Hindia Belanda atau Indonesia menjadi negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia di Prancis. Itu menunjukkan bahwa di tengah situasi politik yang tidak ideal sekalipun, sepak bola tetap mampu menjadi ruang perjumpaan antarbangsa,” katanya.

Menurut Dahlan, kehadiran Iran di tengah berbagai hambatan visa, tekanan diplomatik, hingga bayang-bayang perang menunjukkan bahwa Republik Islam Iran tetap memilih hadir sebagai bagian dari komunitas dunia.

“Hadirnya Iran dalam ajang ini membuktikan bahwa negara tersebut tetap menjunjung tinggi persaudaraan antarbangsa tanpa memandang situasi politik yang sedang berlangsung. Saya membaca kehadiran Iran di Piala Dunia justru akan menjadi pukulan psikologis tersendiri bagi Amerika Serikat karena banyak bangsa di dunia yang akan menaruh simpati kepada Iran,” ujarnya.

BACA JUGA:  Prancis Umumkan Skuad Piala Dunia 2026: Camavinga & Kolo Muani Resmi Dicoret!

Sebelas Pemain atau Semangat Sebuah Bangsa?

Perjalanan Iran menuju Meksiko memang tidak mudah.

Meski menjadi salah satu negara pertama yang memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 sejak Maret 2025, dalam beberapa bulan terakhir berbagai spekulasi bahkan sempat mempertanyakan apakah Iran benar-benar akan tampil di turnamen tersebut.

Persoalan visa, ketegangan diplomatik, hingga konflik regional yang melibatkan Iran menjadi bagian dari dinamika yang mengiringi persiapan Team Melli.

Namun bagi Dahlan Abubakar, ketika dunia menyaksikan Iran tiba di Tijuana, yang hadir bukan sekadar sebelas pemain sepak bola.

“Meskipun sepak bola tidak boleh dicampuradukkan dengan politik, kehadiran Iran di Meksiko dapat dipandang sebagai pesan perdamaian kepada seluruh bangsa di dunia,” katanya.

Ia menilai FIFA selama ini telah membangun ruang bersama yang memungkinkan berbagai bangsa bertemu dalam suasana damai dan sportif.

“Semua negara seharusnya diperlakukan secara adil dan sportif dalam perhelatan sepak bola global. Iran hadir di Piala Dunia meskipun sempat dirumorkan akan mundur. Itu menunjukkan sikap gentleman dan tekad untuk tetap menjadi bagian dari kompetisi dunia,” ujarnya.

Menurut Dahlan, keberhasilan Iran membalik berbagai keraguan tersebut justru berpotensi melahirkan simpati yang luas dari masyarakat internasional.

“Banyak orang memperkirakan Iran tidak akan ambil bagian. Tetapi mereka hadir. Karena itu saya yakin banyak bangsa akan memberikan doa dan simpati kepada tim nasional Iran,” katanya.

BACA JUGA:  LAFC Taklukkan Seattle Sounders 1-0, Gol Timothy Tillman Tutup Kompetisi Sebelum Jeda Piala Dunia 2026

Pelajaran bagi PSM dan Sepak Bola Indonesia

Sebagai penulis sejarah PSM Makassar, Dahlan melihat perjalanan Iran menyimpan pelajaran penting bagi sepak bola Indonesia.

Menurutnya, salah satu tantangan yang masih dihadapi Indonesia adalah belum sepenuhnya terpisahnya olahraga dari kepentingan politik.

“Beberapa kali kita melihat olahraga terganggu oleh persoalan politik. Padahal sepak bola semestinya menjadi ruang persaudaraan universal,” ujarnya.

Dahlan menegaskan bahwa semangat yang diperlihatkan Iran seharusnya menginspirasi dunia sepak bola Indonesia, termasuk PSM Makassar.

“Bagi PSM, ini merupakan pelajaran berharga tentang kebersamaan dan persaudaraan dalam olahraga. Football for all. Sepak bola untuk semua tanpa memandang bulu sudah saatnya digaungkan kembali,” katanya.

Menurutnya, olahraga memiliki kemampuan unik untuk menghapus sekat-sekat permusuhan yang selama ini sulit diselesaikan melalui jalur politik.

“Kita berharap melalui sepak bola yang memiliki pendukung paling besar di dunia, sekat-sekat perselisihan antarbangsa dapat semakin dikurangi,” ujarnya.

Karakter Bangsa yang Tercermin di Lapangan

Dahlan juga menilai keberhasilan Iran tampil kembali di Piala Dunia tidak dapat dilepaskan dari karakter historis bangsa Persia yang telah terbentuk selama ribuan tahun.

“Iran adalah bangsa yang sangat kokoh. Mereka memiliki karakter, integritas, dan daya tahan yang berakar dari sejarah panjang peradabannya,” katanya.

Menurutnya, dunia menyaksikan bagaimana Iran tetap mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan eksternal selama puluhan tahun.

“Selama empat dasawarsa menghadapi berbagai bentuk tekanan dan blokade, Iran terus belajar dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Karakter inilah yang kemudian tercermin pula dalam semangat para pemain sepak bolanya,” ujar Dahlan.

BACA JUGA:  Lennart Karl Cedera Parah, Impian Piala Dunia 2026 Bersama Jerman Kandas

Ia bahkan memperkirakan pertandingan-pertandingan Iran pada Piala Dunia kali ini akan memperoleh perhatian luar biasa dari publik internasional.

“Banyak orang ingin menyaksikan bagaimana para pemain Iran tetap tampil tangguh dan percaya diri di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi negaranya,” katanya.

Inspirasi untuk Generasi Muda

Bagi Dahlan, pelajaran terbesar dari perjalanan Iran menuju Piala Dunia 2026 adalah tentang kemampuan sebuah bangsa untuk tetap fokus mengejar prestasi meskipun menghadapi tekanan yang berat.

“Ketika para pemain Iran memasuki lapangan, yang ada dalam pikiran mereka adalah bermain, bertanding, dan meraih hasil terbaik. Mereka tidak menjadikan berbagai persoalan yang dihadapi negaranya sebagai alasan untuk menyerah,” ujarnya.

Menurutnya, semangat seperti itulah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia, termasuk generasi muda Makassar.

“Tim nasional Iran menunjukkan bahwa perjuangan besar selalu dimulai dari keyakinan untuk tidak menyerah. Mereka membuktikan bahwa sepak bola dapat menjadi simbol harapan, persatuan, dan martabat bangsa,” katanya.

Di tengah berbagai kontroversi yang mengiringi perjalanan mereka menuju Piala Dunia, Dahlan meyakini bahwa Iran telah memenangkan sesuatu bahkan sebelum pertandingan pertama dimainkan.

“Mereka telah menunjukkan kepada dunia bahwa semangat olahraga bisa tetap hidup di tengah berbagai tekanan. Dan itulah salah satu esensi terbesar sepak bola,” tutupnya. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru