Daftar Menteri Kinerja Terbaik versi CELIOS. Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertaniajn, menjadi menteri terbaik saat ini karena Purbaya Yudhi Sadewa sudah tidak menjabat menteri lagi.
SulawesiPos.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjadi pejabat dengan skor kinerja tertinggi di antara menteri yang masih menjabat dalam Rapor Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran versi Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Amran meraih skor 140 dari survei terhadap 994 responden, berada di bawah Purbaya Yudhi Sadewa yang mencatat 291 poin, tetapi Purbaya sudah digantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan sejak 14 September 2026.
Rapor itu menempatkan Amran di atas Agus Harimurti Yudhoyono yang memperoleh skor 127. Penilaian tersebut muncul bersamaan dengan sorotan terhadap capaian sektor pertanian, mulai dari deklarasi swasembada beras hingga Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 131,11 pada September 2026.
Dengan posisi tersebut, Amran menjadi menteri aktif dengan skor tertinggi dalam laporan CELIOS, meski secara keseluruhan Purbaya berada di urutan pertama. Perbedaan status itu penting karena daftar CELIOS juga memuat pejabat yang pada saat survei atau laporan disusun sudah tidak lagi memegang jabatan yang sama.
CELIOS menyusun pemeringkatan menggunakan metode positional scoring rule yang mengadaptasi sistem Borda Count. Skor dihitung dari akumulasi posisi pilihan responden terhadap nama-nama menteri dan merupakan selisih antara penilaian terbaik dan terburuk.
Hasil tersebut menggambarkan persepsi masyarakat umum yang disurvei pada 2026, bukan audit kinerja pemerintahan atau penilaian langsung dari seluruh kementerian. Karena itu, skor Amran dibaca sebagai tingkat pengenalan dan apresiasi publik dalam survei tersebut.
Penilaian terhadap kinerja Amran hadir di tengah sejumlah data dan pernyataan mengenai sektor pertanian nasional. Presiden Prabowo Subianto mendeklarasikan swasembada beras pada 7 Januari 2026, sementara BPS mencatat NTP September 2026 sebesar 131,11 atau angka tertinggi sepanjang pencatatan.
Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo dalam Investor Daily Summit 2026 pada 7 Oktober menyebut program Kementerian Pertanian di bawah Amran “sangat-sangat berhasil”. Hashim menilai swasembada beras tercapai tiga tahun lebih cepat dari target 2029.
Hashim juga menyampaikan stok beras nasional mencapai 5,3 juta ton berdasarkan informasi yang ia terima dari Amran. Angka dan penilaian tersebut menjadi bagian dari konteks yang mengiringi posisi Amran dalam rapor CELIOS.
Di tingkat petani, harga gabah kering panen sepanjang Januari hingga Agustus 2026 bertahan di atas Harga Pembelian Pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram. Harga gabah pada periode itu berada pada kisaran Rp6.700 hingga Rp7.600 per kilogram.
Sudarso, petani di Madiun yang mengelola lahan seluas dua hektare, menyebut harga Rp6.500 per kilogram membuatnya memperoleh “uang lebihan setelah dipotong biaya produksi”.
Sementara itu, Helmantina, petani di Pasaman, Sumatera Barat, mengaku senang bermitra dengan Bulog karena hasil panennya memiliki pasar yang jelas.
Dari Indramayu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan H Tatang pada awal 2026 menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo, Kementerian Pertanian, dan Perum Bulog atas perhatian terhadap harga gabah.
Hashim menilai dampak kebijakan pertanian tidak hanya terlihat dari harga gabah. Dalam Indonesia Sustainability Forum sehari sebelum Investor Daily Summit, ia menyatakan kenaikan harga pembelian gabah dari Rp4.000 menjadi Rp6.500 per kilogram dan pemangkasan biaya pupuk 20 persen membuat taraf hidup petani Indonesia berada pada level tertinggi sejak 1980-an.
Apresiasi terhadap kinerja Amran juga disampaikan Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus 2026. Presiden memberi apresiasi kepada Amran dan jajaran Kementerian Pertanian atas capaian swasembada yang disebutnya telah diakui dunia.
Dalam pertemuan dengan jurnalis senior dan pakar di Hambalang pada 6 September 2026, Prabowo menyebut target swasembada empat tahun dapat dipercepat berkat tim pertanian yang dipimpin Amran.
Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto juga menyampaikan apresiasi dalam rapat kerja pada 1 September 2026. Ia menyoroti swasembada delapan komoditas pangan strategis.
Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Rokhmin Dahuri sebelumnya menyebut swasembada beras sebagai tonggak penting.
Berbagai pernyataan tersebut menjadi konteks kebijakan dan capaian yang berada di sekitar penilaian publik terhadap Amran, meskipun skor CELIOS tetap merupakan hasil survei dengan metode dan responden tertentu.
NTP membandingkan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Angka 131,11 menunjukkan daya tukar petani berada pada titik tertinggi sepanjang pencatatan.
Indikator tersebut menggambarkan perubahan daya beli petani secara agregat, sedangkan kondisi setiap subsektor dan daerah dapat berbeda. Karena itu, NTP menjadi salah satu indikator pendukung untuk membaca perkembangan kesejahteraan petani, bukan satu-satunya ukuran kondisi seluruh petani.
Dalam konteks rapor CELIOS, data NTP, harga gabah, penurunan harga pupuk, serta capaian swasembada menjadi latar yang ikut menjelaskan mengapa nama Amran memperoleh posisi tinggi dalam persepsi responden.
Berikut daftar menteri dan pejabat berdasarkan skor dalam rapor kinerja CELIOS:
1. Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan — skor 291.
2. Amran Sulaiman, Menteri Pertanian — skor 140.
3. Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan — skor 127.
4. Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Pertahanan — skor 12.
5. Maman Abdurrahman, Menteri UMKM — skor 11.
6. Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan — skor 8.
7. Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Permukiman — skor 6.
8. Yusril Ihza Mahendra, Menteri Koordinator Hukum, HAM, dan Imigrasi — skor 6.
9. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah — skor 5.
10. Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri — skor 4.ftar
11. Fadli Zon, Menteri Kebudayaan — skor -16.
12. Muhaimin Iskandar, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat — skor -16.
13. Saifullah Yusuf, Menteri Sosial — skor -17.
14. Pratikno, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan — skor -17.
15. Nusron Wahid, Menteri Agraria dan Tata Ruang — skor -24.
16. Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan — skor -43.
17. Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional — skor -47.
18. Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan — skor -103.
19. Natalis Pigai, Menteri HAM — skor -158.
20. Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral — skor -159.
Daftar tersebut memperlihatkan jarak yang lebar antara tiga nama teratas dan pejabat lain. Purbaya mencatat skor lebih dari dua kali lipat skor Amran, sedangkan skor Amran terpaut 13 poin dari Agus Harimurti Yudhoyono.
Setelah tiga nama teratas, skor menteri lain turun ke angka dua digit, satu digit, dan negatif. Dalam analisis rapor, kondisi itu menunjukkan hanya segelintir menteri yang kinerjanya benar-benar dikenali dan diapresiasi publik.
Di bagian terbawah, Bahlil mencatat skor -159, Natalis Pigai -158, dan Raja Juli Antoni -103. Dalam bahan rapor, skor negatif dimaknai sebagai penilaian buruk yang lebih sering muncul dibandingkan penilaian baik.
Survei dilakukan setelah reshuffle Menteri Keuangan dan sebelum reshuffle Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Catatan waktu tersebut menjadi penting karena komposisi jabatan dan persepsi publik dapat berubah setelah pergantian pejabat.
Sumber rapor mencantumkan “Survei Masyarakat Umum CELIOS (2026), diolah oleh peneliti”. Skor yang ditampilkan merupakan selisih antara penilaian terbaik dan terburuk dengan jumlah responden atau N sebanyak 994.
Dengan demikian, posisi Amran dalam laporan tersebut menunjukkan penilaian masyarakat yang disurvei terhadap kinerja menteri pada 2026. Ia berada di posisi kedua secara keseluruhan, tetapi menjadi menteri dengan skor tertinggi di antara pejabat yang masih menjabat setelah Purbaya tidak lagi menjadi Menteri Keuangan.*