Dr. Patrice Lumumba akan menerima penghargaan AIHII atas pengabdiannya mengembangkan ilmu Hubungan Internasional Indonesia. (Foto: Dok. Pribadi)
SulawesiPos.com — Sebuah undangan dari Cikarang membawa penghormatan bagi perjalanan intelektual Dr. Patrice Lumumba, M.A., dosen Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin yang akan menerima Lifetime Achievement Award dari Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) dalam Konvensi Nasional XVII pada Senin–Kamis, 12–15 Oktober 2026, di kawasan Jababeka, Jawa Barat.
Melalui surat bertanggal 7 Oktober 2026, Pengurus Pusat AIHII menyampaikan bahwa penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi, kontribusi, dan pengabdian Patrice sebagai salah seorang pendiri asosiasi serta peran pentingnya dalam perkembangan ilmu Hubungan Internasional di Indonesia.
Panitia menyebut kehadiran Patrice Lumumba memiliki makna istimewa bagi keluarga besar AIHII sekaligus berharap ia berkenan menerima penghargaan secara langsung sebagai momentum berharga bagi seluruh peserta konvensi.
Ketika diwawancarai jurnalis Sulawesi Pos pada Minggu, 11 Oktober 2026, Patrice menuturkan kembali gagasan yang mempertemukan para pendiri asosiasi, yakni membangun ruang bersama agar pengetahuan Hubungan Internasional berkembang melalui hubungan antardosen dan antarkampus.
“AIHII merupakan organisasi profesi bagi akademisi, terutama dosen atau staf pengajar pada perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia yang memiliki program studi Hubungan Internasional,” ujar Patrice.
Menurut penuturannya, organisasi tersebut resmi berdiri pada 2009 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melalui prakarsa lima orang yang masing-masing mewakili universitasnya.
“Saya mewakili Universitas Hasanuddin dan menjadi satu-satunya pendiri yang berasal dari perguruan tinggi di luar Pulau Jawa,” katanya.
Keterangan itu memperlihatkan bahwa sejak awal perjalanan asosiasi, keterlibatan kampus dari luar Jawa telah menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengalaman akademik yang tumbuh di berbagai wilayah Indonesia.
Bagi Patrice, tujuan AIHII melampaui kebutuhan menyelenggarakan pertemuan karena asosiasi dibentuk untuk menjadi forum rembuk para pakar, mempererat hubungan keilmuan antardosen, dan mengadakan temu akademik secara berkala.
“Tujuan yang paling pokok adalah menjadikan AIHII sebagai wadah untuk meminimalkan kesenjangan penguasaan ilmu Hubungan Internasional di antara sesama dosen di Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kolaborasi dan sinergi merupakan amanah para pendiri yang perlu terus dijaga agar perkembangan pengetahuan tidak berhenti pada anggota asosiasi.
“Harapan para pendiri adalah agar kolaborasi dan sinergi antardosen anggota AIHII bermuara pada kemajuan ilmu Hubungan Internasional, dengan manfaat yang dirasakan oleh para dosen sekaligus mahasiswa,” kata Patrice.
Penghargaan kepada salah seorang pendiri itu menghadirkan kesempatan untuk membaca kembali hubungan antara pengabdian seorang akademisi, keberlanjutan organisasi, dan tanggung jawab ilmu pengetahuan kepada masyarakat.
Konvensi tahun ini mengangkat tema “Melampaui Fragmentasi: Konstelasi Kuasa, Inovasi, dan Tata Kelola Global Masa Depan”, yang mempertemukan pengembangan keilmuan, diplomasi, dan praktik industri.
Menurut kerangka acuan kegiatan, AIHII merupakan ruang konsolidasi program studi, akademisi, peneliti, dan praktisi Hubungan Internasional, sedangkan konvensi nasional tahunannya berfungsi sebagai forum akademik sekaligus forum organisasi.
Universitas Presiden sebagai tuan rumah memproyeksikan kehadiran sekitar 200–250 peserta dari lebih dari 60 universitas dan institusi, mencakup akademisi, dosen, pimpinan program studi, praktisi, mitra institusi, tamu undangan, serta panitia mahasiswa.
Rangkaian kegiatan mencakup seminar internasional, sesi panel, pertemuan komunitas epistemik, sidang organisasi, serta kegiatan pilihan berupa wisata golf dan kunjungan perusahaan.
Di dalam rangkaian tersebut terdapat 2nd Indonesia–China Forum, sementara keseluruhan konvensi tetap dirancang untuk mengakomodasi perspektif Indonesia, kawasan, dan global.
Penyelenggaraan di Universitas Presiden dan kawasan industri Jababeka membuka ruang bagi pendidikan Hubungan Internasional untuk berjumpa dengan praktik investasi, logistik, kerja sama industri, pengelolaan lintas budaya, pengembangan kurikulum, dan kesiapan karier lulusan.
Bagi universitas tuan rumah, pertemuan ini diharapkan memperkuat visibilitas akademik nasional, jejaring dengan anggota AIHII, kemitraan internasional, keterlibatan industri, serta pembelajaran mahasiswa melalui pengalaman langsung.
Panitia juga menargetkan penguatan pertukaran akademik, perluasan kerja sama antarinstitusi, inovasi kurikulum, peningkatan kesiapan kerja lulusan, dan keluaran akademik, organisasi, administrasi, serta keuangan yang akuntabel.
Tema fragmentasi memperoleh relevansi ketika konflik bersenjata, persaingan kekuatan besar, dan krisis kemanusiaan terus memperlihatkan sulitnya membangun tindakan bersama di tingkat internasional.
Dalam laporan International Crisis Group pada 14 September 2026, perang Amerika Serikat–Israel dengan Iran, perang di Ukraina, dan konflik Sudan ditempatkan di antara tantangan utama perdamaian dan keamanan yang dihadapi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di Yaman, perhatian Dewan Keamanan PBB pada Oktober 2026 kembali tertuju pada perang berskala penuh dan ancamannya terhadap stabilitas kawasan, sementara perang Rusia–Ukraina tetap menjadi pembahasan terkait serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur.
Di Gaza, lebih dari 100 organisasi kemanusiaan, hak asasi manusia, dan masyarakat sipil pada 9 Oktober 2026 menyatakan bahwa gencatan senjata belum menghadirkan perlindungan yang memadai karena pembunuhan warga Palestina dan pembatasan bantuan terus berlangsung.
Sementara itu, Associated Press pada 5 Oktober 2026 melaporkan bahwa pertemuan mengenai Afghanistan di Moskwa berlangsung di tengah ketegangan Pakistan–Afghanistan dan saling tuduh mengenai serangan lintas perbatasan.
Perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, konflik Rusia–Ukraina, keterlibatan Arab Saudi dalam konflik Yaman melawan Houthi, penderitaan rakyat Palestina, perang Sudan, serta ketegangan Pakistan–Afghanistan menyediakan persoalan nyata bagi kajian diplomasi, keamanan, hukum internasional, dan perlindungan manusia.
Dalam konteks tersebut, kontribusi yang dapat dikembangkan AIHII mencakup penelitian bersama, rekomendasi kebijakan berbasis bukti, pendidikan perdamaian, literasi informasi, serta penjelasan publik yang membantu masyarakat memahami konflik tanpa terjebak propaganda dan kebencian.
Jangkauan pengabdian itu juga dapat menyentuh kehidupan lokal melalui pendampingan pemerintah daerah, pendidikan bagi sekolah dan komunitas, penguatan kerja sama internasional daerah, serta kajian mengenai dampak perubahan global terhadap pekerjaan dan penghidupan masyarakat.
Menurut Ketua Panitia,Guido Benny, S.Sos, M.E., Ph.D. kegiatan berlangsung di Kampus Universitas Presiden dan Hotel Holiday Inn di kawasan Jababeka, Cikarang, Hotel Grande Valore dan Jababeka Golf Resto.
Konvensi Nasional ke-17 Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) dijadwalkan mempertemukan sejumlah tokoh pemerintahan, diplomasi, dan akademisi, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono serta Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie.
Dari kalangan diplomatik, panitia menjadwalkan kehadiran Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun, Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong, serta Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok sekaligus Ketua Indonesian Council on World Affairs Dr. (HC) Al Busyra Basnur.
Pertemuan ini juga mencantumkan Prof. Dr. Mari Elka Pangestu, yang dalam susunan acara diperkenalkan dengan keterangan “DEN”, bersama Ketua Umum AIHII Dr. Agus Haryanto dan Dekan College of Sinology and Chinese Studies BLCU Prof. Xu Baofeng.
Dari Universitas Presiden, tokoh yang dijadwalkan hadir meliputi Rektor Handa S. Abidin, pendiri Dr. S.D. Darmono, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Pendidikan Prof. Mohammad Syafi’i Anwar, serta akademisi Prof. Chandra Setiawan, sementara Universitas Bina Nusantara diwakili akademisi Prof. Tirta Mursitama.
Di balik rangkaian acara yang padat, pesan Patrice mengenai pemerataan penguasaan ilmu menempatkan keberlanjutan AIHII sebagai pekerjaan bersama yang memerlukan hubungan antargenerasi.
Kolaborasi yang ia tekankan dapat menjadi dasar bagi dosen senior untuk berbagi pengalaman, dosen muda untuk memperluas penelitian, dan mahasiswa untuk memperoleh kesempatan belajar yang lebih setara.
Penghargaan kepada pendiri juga dapat menjadi momentum bagi asosiasi untuk menilai seberapa jauh pertemuan akademik menghasilkan penelitian, pembelajaran, dan pengabdian yang manfaatnya dapat dirasakan di luar ruang konvensi.
Bagi masyarakat sekitar kampus, manfaat tersebut dapat hadir ketika pengetahuan mengenai hubungan antarnegara diterjemahkan menjadi pemahaman tentang peluang pendidikan, kerja sama ekonomi, perlindungan pekerja migran, dan dampak konflik terhadap kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, penghormatan atas jejak intelektual Patrice bertemu dengan pertanyaan tentang masa depan AIHII, yakni bagaimana menjaga organisasi tetap hidup, produktif, dan mampu menyumbangkan pengetahuan bagi perdamaian serta kesejahteraan manusia.