Kategori: News

Carson Raih Nobel Sastra 2026, Aslan: I La Galigo Bisa Jadi Sumber Pembaruan Sastra

SulawesiPos.com — Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar sekaligus pendiri Institut Sastra Makassar, Dr. Aslan Abidin, menilai pengolahan mitos klasik dalam karya Anne Carson, peraih Nobel Sastra 2026, dapat menginspirasi penulis Bugis dan Indonesia untuk menciptakan karya baru dari warisan seperti I La Galigo melalui pembacaan kritis dan perpaduan genre, sebagaimana disampaikan ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

“Karya sastra Carson menunjukkan kerja intelektual filologis-sastrawan yang menginterpretasi masa lalu untuk menghubungkan manusia masa kini,” ujar Aslan.

Menurutnya, Carson mengolah teks masa lalu dengan menyeberangi batas penerjemahan, esai, novel, puisi, dan kritik sastra sehingga pertemuan berbagai bentuk tulisan tersebut menghasilkan penemuan estetika dalam karyanya.

Pandangan itu menyoroti kemungkinan pembaruan sastra melalui warisan budaya, dengan menempatkan mitos sebagai bahan penciptaan yang membutuhkan penelitian mendalam dan keberanian artistik.

Carson, penyair, penulis esai, penerjemah, dan akademisi Kanada, diumumkan sebagai penerima Nobel Sastra 2026 oleh Akademi Swedia di Stockholm pada Kamis, 8 Oktober 2026, atas karya-karyanya yang berani dan inventif dalam menciptakan bentuk baru sastra kontemporer melalui dialog kreatif dengan tradisi klasik.

Reuters, dalam laporan pada 8 Oktober 2026, menggambarkan kepengarangan Carson sebagai perpaduan puisi, prosa, dialog, dan penerjemahan yang melampaui pengelompokan genre konvensional.

Penghargaan untuk keseluruhan pencapaian kepengarangannya tersebut disertai hadiah sebesar 12 juta krona Swedia atau sekitar 1,2 juta dolar AS.

Bagi Aslan, hubungan antara penelitian teks dan kebebasan penciptaan dalam karya Carson membuka ruang refleksi bagi penulis Indonesia yang memiliki kekayaan kisah serta tradisi sastra masa lalu.

“Metode ‘Carsonian’ ini dapat diterapkan penulis Bugis maupun Indonesia yang juga memiliki banyak kisah-kisah besar dari masa lalu,” kata sastrawan yang bergelar Penyair Abad 21 ini.

Istilah “Carsonian” digunakan Aslan untuk menggambarkan pendekatan kreatif Carson dalam membaca, menafsirkan, dan mengolah kembali teks lama melalui berbagai bentuk sastra.

Membaca I La Galigo, Menemukan Bentuk Baru

Aslan mengemukakan bahwa salah satu kemungkinan penerapan pendekatan tersebut ialah membaca kembali mitos I La Galigo secara lebih mendalam dan kritis, kemudian mengolahnya menjadi karya dalam berbagai genre atau campuran bentuk tulisan.

Gagasannya bertumpu pada kesamaan peluang penciptaan, yakni penggunaan kekayaan mitos sebagai sumber karya baru yang dapat berbicara kepada pembaca masa kini.

I La Galigo, yang juga dikenal sebagai Sureq Galigo, merupakan karya epik-mitologis Bugis yang berakar pada tradisi lisan pra-Islam dan disusun dalam bahasa puitis dengan metrum serta kosakata khusus.

Kisah-kisahnya mencakup Batara Guru, Sawérigading, dan La Galigo, dengan rangkaian cerita yang menjadi bagian penting warisan sastra Sulawesi Selatan.

UNESCO mencatat naskah La Galigo dalam daftar Memory of the World pada 2011 melalui pengajuan Indonesia dan Belanda, mengukuhkan arti penting warisan dokumenter tersebut bagi masyarakat dunia.

Kekayaan itu, dalam pandangan Aslan, perlu diikuti kerja kepengarangan yang mampu menghasilkan mutu artistik tersendiri ketika penulis mengambil inspirasi dari kisah lama.

Dr. Aslan Abidin menilai karya Carson menginspirasi pembaruan sastra melalui pengolahan mitos I La Galigo. (Foto: Dok. Pribadi).

“Hanya perlu diingat bahwa penulis harus bekerja keras mengolah intertekstualitas dalam hibriditas-genre agar mampu melampaui ‘kebesaran’ La Galigo, sehingga tulisannya tidak terkesan sekadar ‘nebeng’ kebesaran La Galigo,” tegasnya.

Intertekstualitas merujuk pada hubungan suatu karya dengan teks lain, sementara hibriditas genre berarti perpaduan bentuk tulisan, seperti puisi, prosa, esai, atau drama, dalam sebuah karya.

Peringatan Aslan menekankan bahwa penggunaan tokoh dan kisah terkenal perlu disertai pengolahan bahasa, sudut pandang, serta struktur yang memberi sumbangan estetika baru.

Dengan demikian, membaca kembali I La Galigo menuntut penulis memahami teks sumber sekaligus menemukan persoalan manusia yang dapat dihadirkan melalui bentuk sastra pilihannya.

Mitos Kuno, Pengalaman Manusia Masa Kini

Cara kerja tersebut terlihat dalam Autobiography of Red: A Novel in Verse, karya Carson pada 1998 yang mengolah kembali kisah Geryon dari fragmen karya penyair Yunani kuno Stesichorus.

Carson menempatkan Geryon sebagai pusat pengalaman emosional cerita melalui sosok remaja bersayap merah yang menghadapi trauma, kesepian, pertumbuhan diri, dan cinta kepada Herakles.

Pengolahan mitos itu memperlihatkan bagaimana tokoh dari tradisi klasik dapat memperoleh kehidupan baru melalui perubahan perspektif dan bentuk penceritaan.

Eksperimen lain muncul dalam The Beauty of the Husband: A Fictional Essay in 29 Tangos pada 2001, yang mengisahkan keretakan perkawinan melalui 29 bagian dengan tango sebagai metafora hubungan.

Dalam Nox pada 2010, Carson mengolah ingatan tentang saudara laki-lakinya melalui buku lipat menyerupai akordeon yang mempertemukan foto, surat, dan potongan tulisan.

Sementara itu, Float pada 2016 menawarkan kumpulan 22 buku kecil yang dapat dibaca dalam urutan berbeda, sehingga pembaca ikut menentukan perjalanan pembacaannya.

Rangkaian karya tersebut menunjukkan bahwa pembaruan sastra dapat berlangsung melalui pilihan bentuk, susunan bacaan, dan hubungan antara kata dengan unsur visual.

Latar akademik Carson dalam studi klasik juga memperlihatkan hubungan erat antara ketelitian membaca teks dan keberanian mengembangkan imajinasi.

Universitas Toronto, dalam pemberitaan pada 8 Oktober 2026, mencatat bahwa Carson memperoleh tiga gelar dari universitas tersebut sebelum dikenal luas melalui karya yang memberi kehidupan baru kepada tradisi klasik.

Masa Lalu sebagai Sumber Penciptaan

Aslan juga mengajak pembaca Indonesia memikirkan kembali hubungan dengan masa lalu ketika kualitas warisan kebudayaan semakin sering dilepas atau diabaikan.

Ia mengingatkan sebuah ungkapan Carson yang membalik pandangan umum bahwa manusia mempelajari masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan.

Aslan mengutip pesan itu sebagai berikut: “Mengapa kita mempelajari masa lalu? Sebab mungkin kita ingin mengulanginya.”

Dalam konteks tanggapannya, ungkapan tersebut membuka pemikiran tentang kemungkinan menemukan kembali kualitas intelektual dan artistik masa lalu untuk diolah dalam kehidupan sekarang.

Kaitan yang ditarik Aslan antara Carson dan sastra Bugis terletak pada peluang menghidupkan kekayaan mitos melalui pembacaan serta penciptaan baru.

Pandangan tersebut memberi arah bagi penulis Indonesia untuk memperlakukan warisan sastra sebagai ruang kerja intelektual yang membutuhkan ketekunan, kepekaan, dan keberanian bereksperimen.

Melalui pembacaan kritis atas I La Galigo, penulis dapat mempertemukan ingatan kebudayaan dengan pengalaman manusia masa kini sambil membangun kekuatan estetika karyanya sendiri.

Ali Daneshgar

Bagikan
Diterbitkan oleh
Ali Daneshgar
Tag: Anne Carson Aslan Abidin I La Galigo Nobel Sastra 2026 Sastra Bugis.