Kategori: News

Nakhoda MT Honour 25 Asal Gowa Selamat dari Penyanderaan, Ungkap Detik-detik Mencekam di Laut

SulawesiPos.com — Kisah dramatis dialami oleh Ashari Samadikun, seorang nakhoda kapal asal Dusun Moncongloe, Desa Pacelekang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa. Ashari bersama kru kapal tanker MT Honour 25 akhirnya bisa bernapas lega dan berkumpul kembali dengan keluarganya di Gowa setelah melewati masa-masa penyanderaan selama lima bulan yang penuh ancaman keselamatan.

Saat ditemui di kediamannya, Ashari menceritakan detik-detik mencekam ketika kapal mereka dibajak. Menurutnya, aksi penryanderaan bermula saat para pelaku menyatroni kapal pada waktu subuh.

Kru kapal sempat diikat, sementara para pembajak sempat mengira kapal mereka adalah target lain sebelum akhirnya menyadari bahwa MT Honour 25 adalah kapal tanker.

“Mereka standby itu ikat kru saya sekitar jam setelah salat subuh masih gelap. Iya, terus saya diikat,” ujar Ashari saat ditemui di kediamannya, Kamis (8/10/2026).

Puncak ketegangan terjadi pada saat upaya pembebasan berlangsung. Terdengar suara tembakan intens yang menghantam badan kapal hingga bagian buritan meledak.

Di tengah situasi panik tersebut, para pembajak sempat menjejjerkan para kru di bawah desingan peluru yang melintas tepat di atas kepala mereka.

Ashari juga menuturkan tragedi memilukan ketika terjadi konflik internal di antara kelompok pembajak sebelum mereka melarikan diri.

Sebagian kelompok penyerang menolak aksi tersebut dan berniat melepaskan kru, namun berujung pada baku tembak antarmereka sendiri.

“Sebelum baku tembak, yang tidak setuju itu ditembak anggota saya dulu, mau dibunuh semua dulu baru diambil senjatanya sama ketua pembajak,” ungkapnya.

Dalam insiden berdarah itu, beberapa kru dilaporkan gugur, sementara seorang kru bernama Fiki selamat meski sempat tertembak di bagian kaki dan pura-pura mati.

Selama lima bulan masa penyanderaan, Ashari dan krunya harus bertahan hidup dalam kondisi serba sulit, terutama ketersediaan air bersih dan logistik.

Untuk memenuhi kebutuhan air minum, mereka bahkan harus memutar otak menyuling air laut menggunakan sistem desalinasi kapal mengingat tangki kapal sudah berkarat.

Meski demikian, Ashari menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada pemerintah Indonesia, khususnya Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri, yang telah memberikan perhatian dan pendampingan penuh hingga ia bisa pulang dengan selamat.

“Alhamdulillah kami bersyukur sama pemerintah, kami bangga sama pemerintah kami, betul-betul peduli sama kami, peduli sama keluarga kami,” ucapnya.

Bahkan, kata Ashari, para pembajak sempat melontarkan rasa kagum terhadap kepedulian pemerintah Indonesia terhadap warga negaranya.

Ia juga menceritakan bahwa pendekatan persuasif dan kedekatan emosional secara keagamaan turut membantu menjaga keselamatan mereka selama disandera, mengingat para pelaku juga beragama Islam dan mengaku terpaksa melakukan pembajakan akibat desakan ekonomi.

Terkait proses hukum dan hak-hak awak kapal, Ashari menyebutkan bahwa pihak agensi di Pakistan berjanji akan mengurus seluruh hak kru yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka.

Selain itu, Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) juga turut mendampingi untuk mengawal pemenuhan hak-hak para pelaut.

Pasca-kejadian traumatis ini, Ashari berharap sistem tata kelola dan manajemen kepelautan di Indonesia ke depan bisa semakin dibenahi, khususnya dalam hal peningkatan kesejahteraan pelaut agar para pekerja migran sektor maritim tidak perlu lagi mencari nafkah hingga ke luar negeri.

Sementara itu, untuk pemulihan mental, pihak negara melalui PWNI telah menyiapkan fasilitas pendampingan psikologis (trauma healing) bagi dirinya dan para korban selamat.

 

MN Abdurrahman

Bagikan
Diterbitkan oleh
MN Abdurrahman
Tag: Penyanderaan Kapal Nahkoda MT Honour 25 Pelaut Indonesia PWNI Bajak Laut Gowa berita makassar