Kapten Kapal MT Honour 25, Ashari Samadikun diapit kedua orang tuanya, Syamsuddin dan Siti Aminah
SulawesiPos.com — Lima bulan lamanya kecemasan menyelimuti hati Syamsuddin (67). Sang buah hati tercinta, Ashari Samadikun, menjadi salah satu anak buah kapal (ABK) yang disandera oleh kelompok perompak Somalia.
Di tengah ketidakpastian dan ancaman maut, Syamsuddin tidak pernah berhenti memanjatkan doa. Bagi pensiunan berusia lanjut ini, doa kepada Sang Pencipta adalah satu-satunya benteng pertahanan ketika manusia tak lagi berdaya mengubah keadaan.
“Selama lima bulan itu komunikasi terus, tetap berdoa terus. Sejak anak saya disandera, saya tidak pernah lepas berdoa. Apalagi ketika kena musibah, mulai dari salat-salat sunnah, salat tahajud, salat fardhu, semua saya terus doakan,” ujar Syamsuddin saat ditemui SPos, usai kepulangan anaknya, di kediamannya, Dusun Moncongloe, Desa Pacelekang, Kec. Patalassang, Kab. Gowa, Kamis (8/10/2026).
Syamsuddin menuturkan, kepasrahan total sempat ia rasakan di masa-masa sulit tersebut. Ia bahkan telah menyiapkan diri mental jika takdir berkata lain bagi sang anak.
Namun, keajaiban itu nyata. Doa-doa yang dipanjatkan siang dan malam berbuah manis; Ashari akhirnya berhasil dibebaskan dan kembali berkumpul bersama keluarga di Makassar.
Di balik cobaan berat tersebut, ada kisah mengharukan yang menjadi penguat bagi keluarga. Selama dalam masa penyanderaan yang mencekam, Ashari justru tetap istiqomah mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Saya bersyukurnya ketika dia sampaikan sama saya bahwa dia sudah tamat tiga kali dan masuk empat bulan. Dalam satu bulan, satu kali tamat Al-Qur’an di atas kapal,” ungkap Syamsuddin dengan nada haru.
Bekas ketakutan dan trauma sebagai manusia biasa tentu ada, namun pengalaman ini justru semakin memperkuat pandangan hidup Syamsuddin tentang arti penting keimanan, amal saleh, dan tanggung jawab manusia di bumi.
Kepulangan Ashari disambut penuh suka cita oleh keluarga dan berbagai pihak setibanya di bandara. Mulai dari jajaran Dinas Tenaga Kerja Provinsi, BP3MI (Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia), rekan-rekan pengajian dari BTP dan Hidayatullah, hingga kerabat dekat turut hadir memberikan dukungan moral.
Syamsuddin juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada pemerintah, khususnya Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, hingga jajaran terkait yang sigap mendampingi dan mengupayakan pembebasan anaknya.
“Saya berterima kasih yang sebesar-besarnya karena sangat membantu. Kemenlu luar biasa perhatiannya terhadap warga, berulang-ulang bahkan turut prihatin dan menangis melihat kondisi ini. Inilah rasa kemanusiaan yang luar biasa,” pungkasnya.
Kini, setelah melalui ujian terberat dalam hidup mereka, keluarga besar Syamsuddin dapat bernapas lega. Sambutan hangat di bandara menjadi penutup lembaran kelam lima bulan penyanderaan, sekaligus awal lembaran baru penuh syukur bagi keselamatan Ashari Samadikun.