Majelis Nobel mengumumkan tiga peraih Nobel Kedokteran 2026 atas penemuan optogenetika yang membuka rahasia otak. (Copyright Pontus Lundahl/TT News Agency via AP).
SulawesiPos.com — Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, SpPD-KGEH, FINASIM, FACG, dan Kepala Departemen Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Dr. dr. Andi Ariyandy, Ph.D., MHPE, menekankan pentingnya menjaga kemanusiaan pasien serta memperkuat penelitian dasar dalam menyikapi penemuan optogenetika yang meraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2026, sebagaimana disampaikan ketika dihubungi jurnalis SulawesiPos pada Rabu, 7 Oktober 2026, melalui tanggapan mengenai teknologi yang memungkinkan aktivitas sel saraf tertentu dikendalikan dengan cahaya untuk mempelajari ingatan, emosi, dan perilaku.
“Bagi seorang dokter, menurut saya, pelajarannya sangat sederhana: semakin canggih kemampuan kita memahami dan memanipulasi tubuh manusia, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk tetap melihat manusia sebagai manusia, bukan sekadar sebagai sistem biologis yang dapat diperbaiki,” ujar Murdani.
Pernyataan Murdani menempatkan penghormatan terhadap manusia sebagai tanggung jawab yang harus menyertai kemajuan kemampuan kedokteran dalam memahami dan mengubah proses biologis tubuh.
Ariyandy, sementara itu, menyoroti perjalanan penelitian dari organisme sederhana menuju pemahaman tentang salah satu organ manusia yang paling kompleks.
“Bagi saya, yang paling menarik dari penemuan ini adalah bagaimana pertanyaan sederhana tentang alga yang bergerak menuju cahaya akhirnya membantu kita memahami kerja otak,” katanya.
Menurut Ariyandy, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa penelitian yang berangkat dari rasa ingin tahu dapat menghasilkan manfaat medis yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Majelis Nobel di Karolinska Institutet, Stockholm, Swedia, pada Senin, 5 Oktober 2026, mengumumkan Karl Deisseroth, Peter Hegemann, dan Georg Nagel sebagai penerima bersama Nobel Fisiologi atau Kedokteran atas penemuan yang mendasari pengembangan optogenetika.
Deisseroth berafiliasi dengan Universitas Stanford dan Howard Hughes Medical Institute di Amerika Serikat, sedangkan Hegemann dan Nagel masing-masing berafiliasi dengan Universitas Humboldt Berlin dan Universitas Würzburg di Jerman.
Penghargaan tersebut mengangkat rangkaian penelitian yang menghubungkan biologi alga, rekayasa genetika, dan neurosains untuk menyelidiki bagaimana kelompok sel saraf menjalankan fungsi tertentu.
Penelitian ini berawal dari keingintahuan Hegemann mengenai kemampuan alga hijau bersel tunggal Chlamydomonas berenang menuju sumber cahaya.
Hegemann dan Nagel kemudian menemukan channelrhodopsin, protein pada membran sel yang membentuk kanal ion dan dapat dibuka oleh cahaya.
Ketika memperoleh penyinaran yang sesuai, kanal tersebut memungkinkan ion atau partikel bermuatan listrik melintasi membran sehingga mengubah keadaan listrik sel.
Deisseroth bersama rekan-rekannya memanfaatkan mekanisme itu dengan memasukkan gen penghasil protein peka cahaya ke neuron, lalu menggunakan penyinaran untuk memicu aktivitas listrik sel saraf.
“Dalam fisiologi, kita mengenal bahwa sel saraf berkomunikasi melalui perubahan aktivitas listrik,” ujar Ariyandy.
Ia menjelaskan bahwa optogenetika memberi peneliti cara mengatur aktivitas sel saraf tertentu menggunakan cahaya setelah sel tersebut dibuat peka terhadap penyinaran.
“Dengan cara ini, kita bisa menelusuri peran sel-sel tersebut dalam pembentukan ingatan, emosi, dan perilaku secara lebih tepat,” katanya.
Dengan mengubah aktivitas kelompok neuron yang dipilih dan mengamati responsnya, peneliti dapat menguji peran kelompok tersebut dalam suatu fungsi, melampaui pengamatan bahwa aktivitas saraf dan perilaku sekadar muncul bersamaan.
Laman penelitian Laboratorium Deisseroth di Stanford menjelaskan bahwa optogenetika dipadukan dengan pendekatan optik, elektrofisiologi, komputasi, molekuler, dan perilaku untuk mempelajari fisiologi saraf pada mamalia yang bergerak bebas.
Laboratorium tersebut juga mempelajari dinamika sirkuit saraf dalam perilaku normal serta perubahan yang mendasari gejala dan pengobatan gangguan neuropsikiatris.
Istilah “sakelar otak” dalam konteks ini menggambarkan pengendalian aktivitas sel yang telah dibuat menghasilkan protein peka cahaya, sehingga penyinaran biasa tidak dengan sendirinya memiliki kemampuan yang sama.
Ariyandy menilai peluang pengobatan yang dibuka optogenetika sangat besar, tetapi perkembangan tersebut perlu dijelaskan secara terukur kepada masyarakat.
“Pemulihan sebagian penglihatan yang dilaporkan pada pasien retinitis pigmentosa menjadi langkah awal yang menggembirakan,” ujarnya.
Salah satu bukti klinis penting diterbitkan José-Alain Sahel dan rekan-rekannya dalam jurnal Nature Medicine pada 24 Mei 2021, yang melaporkan pemulihan sebagian fungsi penglihatan seorang pasien dengan kebutaan akibat retinitis pigmentosa.
Retinitis pigmentosa merupakan penyakit degeneratif retina yang dapat menyebabkan hilangnya sel fotoreseptor, yaitu sel penerima cahaya, hingga menimbulkan kebutaan.
Dalam penelitian tersebut, terapi gen digunakan untuk membuat sel ganglion retina menghasilkan protein peka cahaya bernama ChrimsonR, sementara kacamata khusus menerjemahkan perubahan intensitas cahaya menjadi pulsa penyinaran ke retina.
Pasien kemudian mampu melihat keberadaan, menemukan posisi, menghitung, dan menyentuh sejumlah objek menggunakan mata yang diterapi dengan bantuan kacamata tersebut.
Namun, pasien tidak dapat mendeteksi objek secara visual setelah terapi ketika tidak menggunakan kacamata, sehingga hasil penelitian itu menunjukkan pemulihan sebagian fungsi penglihatan dengan bantuan perangkat.
“Namun, kita tetap perlu berhati-hati agar masyarakat tidak menganggap teknologi ini sudah dapat menyembuhkan berbagai penyakit otak,” kata Ariyandy.
Ia menegaskan bahwa manfaat dan keamanan teknologi tersebut masih perlu diuji lebih lanjut sebelum harapan penelitian diterjemahkan menjadi klaim pengobatan.
Keberhasilan pada seorang pasien memberikan bukti awal yang penting, tetapi belum cukup untuk memastikan besarnya manfaat, ketahanan hasil, dan keamanan penerapan pada kelompok pasien yang lebih luas.
Pesan Murdani mengenai tanggung jawab dokter memperoleh relevansi ketika teknologi semakin mampu menjangkau mekanisme biologis yang berkaitan dengan pengalaman manusia.
Dalam kerangka pandangannya, peningkatan kemampuan memahami dan memanipulasi tubuh harus berjalan bersama penghormatan terhadap manusia yang menjalani perawatan.
Pada pengembangan terapi, prinsip tersebut berkaitan dengan kejelasan informasi mengenai manfaat dan risiko, persetujuan pasien setelah memperoleh penjelasan, serta penilaian hasil yang memperhatikan kehidupan sehari-hari pasien.
Kemampuan mengubah respons suatu sel merupakan pencapaian ilmiah, sedangkan kebermaknaan medisnya perlu dinilai dari manfaat yang benar-benar dirasakan manusia.
Pandangan Murdani melengkapi penekanan Ariyandy terhadap kehati-hatian klinis, karena keduanya menempatkan kemajuan teknologi dalam hubungan dengan tanggung jawab penggunaannya.
Ilmu Dasar Membuka Jalan Terobosan
Bagi Ariyandy, penghargaan tersebut juga membawa pesan bagi pendidikan kedokteran dan pengembangan penelitian di Indonesia.
“Sebagai pengajar, saya melihat penemuan ini juga membawa pesan penting bagi mahasiswa dan peneliti di Indonesia: jangan meremehkan ilmu dasar,” katanya.
Ia menilai pemahaman mengenai cara kerja sebuah sel dapat menjadi titik awal terobosan besar, sehingga rasa ingin tahu memerlukan ruang dan penelitian membutuhkan dukungan yang konsisten.
Perjalanan optogenetika memperlihatkan hubungan antara penelitian dasar dan penerapan medis yang berlangsung melalui berbagai tahap, mulai dari penemuan protein, pengujian pada sel, penelitian hewan, hingga studi klinis.
Kolaborasi lintas disiplin menjadi penting karena pemahaman mekanisme biologis perlu dipertemukan dengan perangkat penyinaran, teknik penghantaran gen, serta pengukuran respons yang dapat dipercaya.
Penghargaan Nobel 2026 dengan demikian membawa dua pesan yang saling melengkapi dari kedua akademisi Indonesia tersebut, yakni memberi ruang bagi penelitian dasar untuk berkembang dan menjaga agar setiap kemajuan kedokteran tetap berpusat pada manusia.