Komisi IV DPR dipimpin ketuanya, Titiek Soeharto, berkunjung ke Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Titiek Soeharto mengatakan stok beras aman, cukup, dan harga stabil.
SulawesiPos.com – Stok beras nasional berada dalam kondisi aman dengan cadangan sekitar 4,8 juta ton dan pasokan yang berjalan lancar di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Jumat (2/10/2026). Komisi IV DPR RI menyatakan harga beras masih terkendali setelah melihat langsung pasokan dari sentra produksi, sementara produksi padi Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG).
Kepastian itu disampaikan setelah Komisi IV DPR RI meninjau kondisi stok, pasokan, dan harga beras di PIBC. Pemerintah menilai ketersediaan tidak hanya ditentukan oleh jumlah cadangan, tetapi juga kelancaran distribusi dari produsen dan Bulog hingga ke konsumen.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mengatakan pasokan beras di PIBC berjalan normal. Beras dari sejumlah sentra produksi, termasuk Jawa Barat dan Jawa Tengah, terus tersedia di pasar dengan harga yang dinilai masih terkendali.
“Kami hadir di sini untuk memastikan stok beras cukup, ada, aman, dan harganya juga stabil serta terjaga untuk masyarakat,” ujar Titiek.
Menurut Titiek, hasil dialog dengan pedagang menunjukkan pasokan dari daerah sentra produksi terus mengalir ke PIBC.
“Kami lihat tadi stoknya lancar. Stok berasnya ada, dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan harganya pun baik, tidak tinggi,” katanya.
Badan Pusat Statistik mencatat produksi padi Januari hingga Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG, meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pada periode yang sama, produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat mencapai 25,29 juta ton atau naik 0,07 persen dibandingkan Januari hingga Agustus 2025.
Titiek menilai peningkatan produksi dalam negeri menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan beras nasional. Ia juga mengapresiasi kondisi produksi yang disebut mampu memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengandalkan impor.
“Yang penting kita ini tidak impor lagi. Semuanya sudah diproduksi dalam negeri. Alhamdulillah. Dengan produksi yang sekian banyak berarti petaninya maju dan mudah-mudahan bisa makmur,” ujarnya.
Titiek mengatakan kecukupan stok harus diikuti distribusi yang efektif agar beras dapat sampai ke masyarakat dengan harga terjangkau dan kualitas yang baik.
“Masalah beras ini bukan hanya masalah stok, tetapi bagaimana kita memastikan beras didistribusikan dari produsen dan Bulog ke pasar secara efektif dan efisien, kemudian sampai ke masyarakat dengan harga terjangkau dan kualitas yang baik,” jelasnya.
Pernyataan itu menempatkan distribusi sebagai mata rantai penting setelah produksi dan cadangan tersedia. Beras yang berada di sentra produksi maupun gudang pemerintah tetap membutuhkan jalur distribusi yang lancar agar dapat memenuhi kebutuhan pasar.
Mentan Amran mengatakan terjaganya produksi padi nasional merupakan hasil dari berbagai upaya pemerintah dalam menjaga produktivitas petani.
Salah satu langkah yang dilakukan ialah memperkuat sarana produksi dan pengelolaan air untuk menghadapi tantangan cuaca.
“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” tegas Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, pemerintah akan terus memperkuat intervensi di lapangan agar petani tetap mampu berproduksi sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
Penguatan produksi tersebut berjalan beriringan dengan pemantauan stok dan distribusi di pasar, termasuk melalui PIBC sebagai salah satu pusat perdagangan beras.
Kepala Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan pasokan beras di PIBC berada dalam kondisi cukup.
Ia mengatakan hasil kunjungan Komisi IV DPR menunjukkan beras tersedia dalam jumlah memadai, meski sebelumnya muncul informasi mengenai kelangkaan beras.
“Awalnya ada info katanya ada kelangkaan beras, ternyata beras cukup berlimpah. Pemerintah maupun teman-teman swasta sudah semaksimal mungkin menyediakan kebutuhan beras masyarakat. Buktinya beras-beras itu ada di pasaran,” ujar Rizal.
Bulog turut menjaga pasokan beras premium dengan menyiapkan sekitar 507 ton per hari untuk kebutuhan nasional.
Jumlah tersebut mencakup sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional, sedangkan sekitar 90 persen lainnya dipenuhi melalui pasokan pelaku usaha swasta.
“Bulog per hari menyiapkan beras premium seluruh Indonesia lebih kurang 507 ton per hari. Ini baru sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional, sisanya 90 persen didukung dan disuplai oleh teman-teman pihak swasta,” jelas Rizal.
Selain beras premium, Bulog terus menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke berbagai wilayah.
Volume penyaluran SPHP disebut mencapai hampir 4.000 ton per hari untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia.
“Untuk beras SPHP, Bulog tiap hari ada lebih kurang hampir 4.000 ton per hari yang kita salurkan ke seluruh tanah air,” ujarnya.
Titiek menyebut cadangan beras nasional saat ini berada di kisaran 4,8 juta ton.
Menurutnya, cadangan tersebut menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga ketersediaan sekaligus meredam gejolak harga beras di masyarakat.
“4,8 jutaan ton per hari ini. Jadi tidak usah khawatir bahwa kita akan kelaparan beras. Kalau stoknya banyak berarti harganya bisa terkendali, tidak fluktuasi,” tegas Titiek.
Angka cadangan tersebut melengkapi pasokan yang bergerak dari sentra produksi, distribusi swasta, penyaluran Bulog, serta produksi padi yang terus dijaga pemerintah.
Komisi IV DPR menyatakan pemantauan di PIBC dilakukan untuk memastikan kondisi di lapangan sejalan dengan data produksi dan ketersediaan yang disampaikan pemerintah.
Pemerintah dan pelaku usaha juga tetap memiliki tanggung jawab menjaga aliran beras dari produsen, gudang, pasar induk, hingga konsumen.
Dengan produksi padi Januari-Agustus 2026 sebesar 43,89 juta ton GKG, produksi beras konsumsi 25,29 juta ton, cadangan sekitar 4,8 juta ton, serta penyaluran Bulog dan pasokan swasta, pemerintah menyatakan ketersediaan beras nasional berada dalam kondisi aman.*