Antrean pencari kerja mencerminkan bertambahnya penganggur di Uni Eropa meski persentase pengangguran tetap stabil. (Ilustrasi: ChatGPT).
SulawesiPos.com – Dr. Dicky Sofjan, dosen Inter-Religious Studies di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, dan Muhammad Ashry Sallatu, PhD Candidate di University of Amsterdam sekaligus dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, menyoroti tekanan konflik global dan ketimpangan akses pekerjaan di balik kestabilan tingkat pengangguran Eropa, melalui tanggapan kepada jurnalis Sulawesi Pos yang menghubungi keduanya pada Jumat, 2 Oktober 2026, menyusul laporan Eurostat tentang 13,6 juta penganggur di Uni Eropa pada Agustus 2026.
Dicky menilai ketidakpastian akibat peperangan membuat pelaku usaha lebih berhati-hati mengambil keputusan bisnis, sementara Ashry menekankan bahwa persentase pengangguran yang stabil belum tentu mencerminkan kemudahan memperoleh pekerjaan bagi mahasiswa, diaspora, pekerja migran, dan lulusan baru.
“Kondisi perekonomian dunia memang sedang tidak baik-baik saja,” kata Dicky.
Menurut Dicky, kelesuan kegiatan ekonomi dan bisnis tidak hanya dirasakan di Indonesia, karena perang dan konflik yang masih berlangsung di Ukraina, Palestina, Iran, Lebanon, serta Yaman mendorong para pebisnis memilih sikap wait and see atau menunggu perkembangan sebelum mengambil keputusan.
Pandangan tersebut menempatkan perdamaian sebagai bagian penting dari pemulihan kepercayaan usaha, meskipun rilis pengangguran Eurostat sendiri tidak mengukur seberapa besar kontribusi masing-masing konflik terhadap perubahan pasar kerja Eropa.
Sementara itu, Ashry menyampaikan bahwa gambaran Belanda sebagai negara dengan pasar kerja relatif kuat belum sepenuhnya menggambarkan pengalaman sehari-hari kelompok yang sedang berusaha memasuki dunia kerja.
Berdasarkan pengamatannya sebagai diaspora yang tinggal di Belanda, mendapatkan pekerjaan yang stabil dan sesuai kualifikasi tetap tidak mudah, termasuk bagi mahasiswa, pekerja migran, lulusan baru, dan rekan-rekannya dari berbagai negara.
Ia mengidentifikasi kemampuan bahasa, jaringan profesional, dan pengalaman kerja sebagai hambatan yang dapat memengaruhi peluang seseorang memperoleh pekerjaan.
Ashry karena itu mengingatkan agar kestabilan persentase pengangguran dibaca secara kritis, sebab manfaat kondisi pasar kerja belum tentu dirasakan secara merata oleh semua kelompok.
Pengamatan tersebut memberikan konteks pengalaman sehari-hari di Belanda, sehingga perlu dibaca sebagai pelengkap data statistik, bukan sebagai gambaran yang mewakili seluruh pencari kerja di Uni Eropa.
Eurostat dalam rilis 1 Oktober 2026 mencatat tingkat pengangguran yang telah disesuaikan terhadap pengaruh musiman sebesar 6,4 persen di kawasan euro dan 6,1 persen di Uni Eropa, keduanya tidak berubah dibandingkan Juli.
Dari keseluruhan penganggur di Uni Eropa, sebanyak 11,357 juta orang berada di kawasan euro, yaitu kelompok negara anggota yang menggunakan mata uang euro.
Dibandingkan bulan sebelumnya, jumlah penganggur bertambah 12.000 orang di Uni Eropa dan 26.000 orang di kawasan euro.
Dalam perbandingan dengan Agustus 2025, jumlahnya meningkat masing-masing 348.000 orang dan 267.000 orang, sementara tingkat pengangguran kedua wilayah naik 0,1 poin persentase.
Persentase pengangguran dapat tetap meskipun jumlah penganggur bertambah karena indikator tersebut membandingkan jumlah penganggur dengan keseluruhan angkatan kerja, sementara angka yang dipublikasikan dibulatkan hingga satu angka di belakang koma.
Penyesuaian musiman membantu mengurangi pengaruh pola kegiatan ekonomi yang berulang sepanjang tahun agar perbandingan antar bulan lebih mencerminkan perkembangan pasar kerja.
Pemberitaan Trading Economics dan The Wall Street Journal pada 1 Oktober 2026 turut mengangkat data tersebut, dengan The Wall Street Journal menyoroti ketahanan pasar kerja kawasan euro di tengah tekanan harga energi dan biaya pinjaman.
Namun, ketahanan pada tingkat keseluruhan wilayah dapat berjalan bersamaan dengan kesulitan pada kelompok tertentu, sebagaimana terlihat dalam pengamatan Ashry mengenai akses terhadap pekerjaan yang stabil dan sesuai pendidikan.
Eurostat mencatat sebanyak 2,973 juta orang berusia di bawah 25 tahun menganggur di Uni Eropa pada Agustus 2026, termasuk 2,391 juta orang di kawasan euro.
Tingkat pengangguran kaum muda Uni Eropa meningkat dari 15,3 persen pada Juli menjadi 15,4 persen pada Agustus, sedangkan kawasan euro mengalami penurunan dari 15,1 persen menjadi 15 persen.
Dalam perbandingan bulanan, jumlah penganggur muda bertambah 13.000 orang di Uni Eropa dan berkurang 9.000 orang di kawasan euro, tetapi secara tahunan jumlahnya tetap meningkat masing-masing 19.000 orang dan 38.000 orang.
Ashry menilai tingginya pengangguran kaum muda dapat menjadi salah satu indikasi bahwa perpindahan dari pendidikan menuju pekerjaan yang layak belum berjalan mulus.
Penilaiannya mengarahkan perhatian pada persoalan yang lebih konkret daripada sekadar persentase, yakni apakah pendidikan dan kualifikasi seseorang benar-benar membuka jalan menuju pekerjaan yang sesuai.
Angka pengangguran muda sebesar 15,4 persen dihitung terhadap angkatan kerja muda, sehingga tidak berarti bahwa proporsi yang sama berlaku bagi seluruh penduduk berusia di bawah 25 tahun karena sebagian masih bersekolah dan tidak termasuk angkatan kerja.
Perbedaan juga terlihat berdasarkan jenis kelamin, dengan tingkat pengangguran perempuan sebesar 6,4 persen di Uni Eropa dan 6,7 persen di kawasan euro, dibandingkan laki-laki yang masing-masing sebesar 5,9 persen dan 6,2 persen.
Di tingkat negara, Finlandia mencatat pengangguran sebesar 10,3 persen, Spanyol 10 persen, dan Swedia 8,7 persen, sedangkan Ceko sebesar 3,2 persen serta Malta, Polandia, dan Slovenia masing-masing 3,4 persen.
Pada perekonomian besar Uni Eropa, Jerman mencatat angka 4 persen, Prancis 8,2 persen, dan Italia 6,2 persen, sementara Belanda, tempat Ashry menempuh pendidikan program doktoral, juga mencatat angka 4 persen.
Keragaman tersebut menunjukkan bahwa angka rata-rata Uni Eropa perlu dibaca bersama keadaan masing-masing negara dan hambatan yang dihadapi kelompok pencari kerja.
Dicky berharap para pemimpin dunia lebih mengutamakan perdamaian dan penyelesaian konflik daripada peperangan yang, menurut penilaiannya, memperbesar bisnis serta transaksi industri persenjataan.
Ia juga mengkritik pihak-pihak yang memanfaatkan perang sebagai kesempatan untuk menguji sistem persenjataan mutakhir, dengan menempatkan kritik tersebut dalam persoalan etika dan tanggung jawab kemanusiaan.
Dalam situasi dunia yang terpolarisasi, Dicky memandang etika sebagai jembatan untuk mengatasi pertikaian dan mempertanyakan konsistensi negara-negara kuat dalam menerapkan hukum internasional.
Menurutnya, negara-negara yang selama ini menyuarakan hak asasi manusia justru dapat menerapkan standar ganda, bahkan berlapis, ketika berhadapan dengan kepentingannya sendiri.
Kritik tersebut merupakan penilaian Dicky terhadap praktik hubungan internasional dan menekankan perlunya konsistensi antara pernyataan tentang kemanusiaan dengan tindakan nyata untuk menghentikan konflik.
Dari sisi pengukuran, Eurostat menggunakan definisi Organisasi Perburuhan Internasional yang mengategorikan penganggur sebagai orang tanpa pekerjaan, aktif mencari kerja dalam empat minggu terakhir, dan tersedia untuk mulai bekerja dalam dua minggu berikutnya.
Orang yang menginginkan pekerjaan tetapi tidak lagi mencarinya tidak otomatis masuk dalam angka pengangguran utama, sehingga Eurostat melengkapinya dengan indikator lain, termasuk pekerja paruh waktu yang membutuhkan tambahan jam kerja.
Rilis pengangguran berikutnya dijadwalkan pada 30 Oktober 2026, sedangkan data Survei Angkatan Kerja Uni Eropa untuk triwulan III akan diterbitkan pada 11 Desember 2026.
Analisis kedua akademisi mengarahkan perhatian pada dua kebutuhan yang saling berkaitan, yakni lingkungan global yang lebih damai untuk menopang kegiatan usaha serta akses pekerjaan yang lebih terbuka agar kestabilan statistik juga terasa dalam kehidupan pencari kerja.