Tentara Amerika mendapat dukungan rekan dan tenaga medis di tengah tekanan penugasan gugus tempur USS Abraham Lincoln terkait perang Iran. (Foto: Ilustrasi)
SulawesiPos.com – Delapan personel gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln tercatat melakukan percobaan bunuh diri selama penugasan panjang yang mencakup operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, sebagaimana diungkap penjabat Menteri Angkatan Laut Hung Cao dalam surat kepada Senator Kirsten Gillibrand pada Selasa, 22 September 2026, setelah sang senator meminta penjelasan tentang kesejahteraan dan kesehatan mental para awak.
CNN pertama kali memberitakan isi surat tersebut pada 23 September 2026, disusul The Guardian dan Al Jazeera pada Sabtu (24/9/2026).
“Sejak awal penugasan Lincoln, terdapat total delapan percobaan bunuh diri di seluruh gugus tempur,” tulis Cao.
Angka itu mencakup personel kapal induk, sayap udara, staf gugus tempur, kapal perusak pengawal, dan skuadron penerbangan, sehingga tidak boleh diartikan sebagai delapan kejadian yang seluruhnya berlangsung di atas Abraham Lincoln.
Cao menyatakan tidak ada personel yang meninggal akibat bunuh diri selama penugasan tersebut.
Jurnalis SulawesiPos menghubungi Ketua Program Studi Psikologi FK Universitas Hasanuddin, Dr. Ichlas Nanang Afandi, S.Psi., M.A., pada 25 September 2026 untuk meminta pandangan psikologis mengenai tekanan yang dapat dihadapi personel dalam operasi perang berkepanjangan.
“Perang adalah salah satu stressor terkejam,” kata Ichlas kepada Sulawesi Pos.
Menurut dia, stressor adalah peristiwa atau kondisi yang dipersepsikan mengancam keselamatan dan kenyamanan seseorang, sedangkan perang dapat mempertemukan ancaman itu dengan tuntutan kerja tinggi serta ketidakpastian yang berlangsung lama.
USS Abraham Lincoln berangkat dari California pada November 2025 untuk penugasan yang semula diarahkan ke kawasan Laut Cina Selatan, lalu dialihkan ke Timur Tengah ketika ketegangan dengan Iran meningkat.
Kapal induk itu kemudian terlibat dalam operasi militer setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari 2026.
Sekitar 5.000 personel bertugas di kapal induk tersebut, sementara delapan kasus yang dilaporkan Cao dihitung dari seluruh gugus tempur yang menyertainya.
Awak Lincoln menjalani sekitar 286 hari di laut sebelum memperoleh kesempatan turun ke darat ketika kapal singgah di Thailand pada awal September 2026.
Masa tugas yang semula diperkirakan berakhir pada Mei diperpanjang di tengah perang, sementara laporan keluarga dan media militer Amerika menggambarkan kekhawatiran mengenai kelelahan serta kondisi hidup awak.
Ichlas menilai ancaman keselamatan, tekanan tugas, kerinduan kepada keluarga, dan ketidakpastian mengenai akhir penugasan dapat saling menumpuk sebagai sumber tekanan psikologis.
“Perang menguji daya tahan psikis manusia hingga titik tertinggi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tekanan yang bertahan lama dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan suasana hati, terutama apabila seseorang kekurangan kesempatan untuk beristirahat, memperoleh dukungan, atau merasa memiliki kendali atas keadaannya.
Dalam analisisnya, Ichlas mengajukan dua kerangka untuk memahami perilaku yang membahayakan diri, yakni tekanan yang dapat berkaitan dengan depresi serta frustrasi ketika tujuan seseorang terus terhalang.
Ia menyebut paparan ancaman, tuntutan pimpinan, perpisahan dari keluarga, dan ketidakjelasan kapan perang berakhir sebagai keadaan yang berpotensi memperberat tekanan psikologis personel.
Ichlas juga merujuk teori frustrasi–agresi untuk menjelaskan bagaimana hambatan yang terus-menerus dapat memunculkan kemarahan atau tekanan emosional yang sulit dikelola.
Kerangka tersebut adalah analisis umum, bukan diagnosis atas delapan personel, sebab kondisi klinis dan alasan di balik setiap kejadian tidak dapat dipastikan hanya dari surat Cao atau laporan media.
Risiko bunuh diri dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, sosial, biologis, dan lingkungan, sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa depresi, perang, atau frustrasi merupakan penyebab tunggal seluruh kasus.
Kehati-hatian itu juga penting ketika membaca angka delapan, karena jumlah kasus dalam satu gugus tempur belum dengan sendirinya menunjukkan apakah tingkat risikonya lebih tinggi dibandingkan penugasan lain yang durasi dan kondisi operasinya berbeda.
Penelitian yang diterbitkan dalam Military Medicine pada 2025 terhadap 956 pelaut Angkatan Laut AS menemukan bahwa kebisingan, kesulitan beristirahat saat diperlukan, dan keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan bermutu termasuk sumber tekanan yang paling mengganggu selama bertugas di laut.
Studi lain terhadap 873 pelaut di delapan kapal Angkatan Laut AS menemukan hubungan antara durasi serta kualitas tidur yang lebih buruk dan suasana hati yang lebih buruk, meskipun hubungan itu tidak membuktikan sebab akibat pada awak Lincoln.
Di atas Lincoln, Cao menyebut tersedia seorang psikolog, pekerja sosial klinis, konselor pencegahan, tiga teknisi kesehatan perilaku, lima rohaniwan, dan seekor anjing pendamping fasilitas.
Suratnya juga mengakui adanya kendala pengisian kembali persediaan dan pengurangan sementara pilihan hidangan utama, meskipun Cao menyatakan awak tetap menerima empat kali makan bergizi setiap hari.
Keberadaan petugas pendukung menjadi bagian penting dari respons, tetapi evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah personel dapat menjangkau bantuan dengan cepat, aman, dan tanpa takut dinilai buruk karena meminta pertolongan.
Menurut Ichlas, keberlanjutan perang patut diwaspadai karena tekanan yang belum tertangani dapat terus terakumulasi pada personel yang bertugas.
Pernyataan itu merupakan peringatan tentang kemungkinan risiko, bukan ramalan bahwa jumlah percobaan bunuh diri pasti meningkat.
Sebelum surat Cao terungkap, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan laporan mengenai buruknya kondisi di kapal telah menggambarkan keadaan secara keliru, sementara Presiden Donald Trump juga menepis sebagian pemberitaan tersebut.
Gillibrand kemudian menyebut pengungkapan resmi delapan kasus sebagai alasan untuk menanggapi serius keadaan personel dan pengorbanan keluarga mereka.
Pertanyaan yang kini perlu dijawab melalui pemeriksaan adalah bagaimana jadwal kerja dan istirahat diatur, seberapa mudah awak mengakses perawatan, serta dukungan apa yang mereka terima setelah meninggalkan daerah operasi.
Bagi Ichlas, kasus ini memperlihatkan bahwa daya tahan psikologis personel tidak dapat dipisahkan dari cara sebuah penugasan dirancang dan dijalankan.
Kesiapan sebuah kapal perang pada akhirnya juga bergantung pada kesehatan manusia yang mengoperasikannya, termasuk hak mereka untuk memperoleh istirahat dan pertolongan ketika tekanan menjadi terlalu berat. (Ali)